Reuni Istimewa 12 IPS II

REUNI ISTIMEWA 12 IPS II

Hubunganku dengan dia sangat erat, bahkan melebihi saudara kembar identik. Aku sangat mengenalnya. Bagaimana tidak? Sudah 30 tahun ini, kami hidup bersama. Sejak lahir ke dunia, kami selalu bersama. Ke mana pun, sedang apa pun, kami tak terpisahkan.

 

Aku mengetahui setiap suka dan duka yang dialami seumur hidupnya. Segala peristiwa terkait perjalanan hidupnya, terekam jelas dalam ingatanku. Akan tetapi, tampak jelas di mataku bahwa kedukaan dan hawa kegelapan lebih dominan menyelimuti dirinya.

 

Sejak kecil, hatinya sudah sering tersayat luka. Bahkan ada luka-luka yang menganga dan begitu dalam menembus sanubarinya. Kebanyakan luka itu digoreskan oleh teman-temannya. Masa-masa di kelas 12 IPS II, menjadi potongan kisah paling menyedihkan di dalam hidupnya.

 

Kedekatan kami, membuatku terusik jika dia sedang terluka. Namun, dengan segenap kekuatan dari dalam dirinya, ia bangkit. Kini, dia menjadi lelaki sukses dan berlimpah harta. Tahun demi tahun dilewati, bekas-bekas luka di hatinya ternyata sulit hilang. Pencapaiannya kini, tidak mampu membuat bekas-bekas luka itu memudar.

 

"Gelarlah reuni, tunjukkanlah pada mereka!" kubisikkan ide itu sekitar sebulan lalu. 

 

Kala itu, sudut bibir kirinya tersungging menanggapi ideku. Meskipun tak memiliki pengalaman dalam bidang Event Organizer, kubantu ia merancang reuni yang luar biasa. Walaupun hanya dihadiri 38 alumni murid 12 IPS II–angkatannya–, tetapi reuni kali ini merupakan acara paling istimewa seumur hidupnya.

 

Bertajuk malam Helloween dengan dress code seragam SMA, akhirnya acara reuni pun terlaksana. Hidangan mewah tersaji secara prasmanan. Dekorasi interior kelas pun di atur sedemikian rupa.

 

Semua alumni dipastikan hadir. Bahkan dia sama sekali tidak keberatan untuk membayar biaya transportasi dan akomodasi, agar teman-temannya yang berdomisili di luar kota dapat hadir. Semua itu, demi terlaksananya reuni istimewa yang digelar di kelas kenangan ini. Ya, kelas tempat aku berdiri saat ini. 

 

Jam dinding yang terpajang di tembok belakang kelas, menunjukkan pukul 01.13 dini hari. Aku berdiri bersandar di tembok belakang kelas 12 IPS II. Sudah lebih sejam kuamati dia yang sedari tadi sibuk sendiri. 

 

Dia tampak telaten melakukan semua instruksi dariku. Peluh membasahi dahinya. Dress code seragam SMA yang dikenakannya, agak basah. Aku tahu dia mulai lelah mengurus teman-temannya, seorang diri.

 

Anita, si cantik yang dahulu menjadi pujaan para siswa, menjadi yang terakhir diposisikan olehnya. Aku tahu, dulu sebenarnya dia juga menjadi salah satu siswa yang memuja Anita. Namun, dia tak pernah berani mengucapkan dengan lisannya. Dahulu, dia sungguh terpuruk dalam banyak hal, termasuk dalam perkara asmara.

 

Masih jelas dalam ingatanku, saat dia mendapatkan perundungan yang menyakitkan, di kelas tempatku berdiri saat ini. Sebenarnya hanya beberapa siswa yang melakukan perundungan kala itu, tetapi seluruh teman sekelasnya ikut tertawa.

 

Dia sangat terluka di tengah tawa teman-temannya yang terpingkal. Bukan sekali atau dua kali peristiwa menyakitkan itu terjadi, tetapi berkali-kali. Menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang menyedihkan terjadi padanya, dalam benakku muncul pertanyaan, sebadut itukah dia?

 

Saat ini, jam menunjukkan pukul 01.23. Akhirnya, selesailah dia mengatur sesi terakhir acara reuni. Persis seperti foto terakhir SMA yang ada dalam genggaman tangan kanannya, tampak sempurna dia menyusun tubuh teman-temannya di bangku yang telah tersusun rapi di depan kelas. Kini, kulihat dia mengatur self timer camera, sepuluh detik.

 

Cekrek! 

 

Ia berfoto diselimuti rasa bangga. Jepretan gambar sesuai keinginannya, telah tersimpan di gallery photo dalam gawainya. Semua ini telah berjalan sesuai ekspektasinya. Senyumku mengembang, sembari bertepuk tangan, dan menghampirinya.

 

"Minumlah itu!" bisikku, menunjuk ke arah teko kaca berisi cairan berwarna merah fanta.

 

Seperti biasa, tanpa banyak tanya dia melakukan perintahku. Sungguh, dia sangat penurut. Bahkan meskipun dia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, bila melaksanakan perintahku. Sebagaimana instruksiku, tiga tegukan membasahi kerongkongannya.

 

Tiga menit berlalu, liur berbusa keluar dari mulutnya. Kondisi yang dialaminya persis seperti yang dialami oleh 37 teman-temannya, sebelum berfoto bersama, dini hari ini. 

 

Kini, jam dinding yang terpajang di tembok belakang kelas, telah menunjukkan pukul 01.33 dini hari. Sudah saatnya, kutinggalkan dia bersama teman-temannya. Biarlah mereka bersama-sama, bercengkrama, dan melupakan segala dendam di antara mereka.

 

Dini hari ini, perjanjianku dengan Tuhan untuk mendampinginya, telah berakhir. Tugas untuk menggiringnya menuju jurang kesesatan, telah kuselesaikan dengan sangat sempurna. Sekarang, merupakan waktu yang tepat untuk memamerkan prestasiku ini kepada Qorin lainnya.

 

 

—————

*Qorin: Jin pendamping setiap manusia. Mengikuti manusia semenjak lahir sampai tiba ajalnya.



 

Batavia, 2 Juli 2021



 

#ceritamisteri

#setahunrimis