Yang Terlupakan

PicsArt

Ada jutaan lubang sangat kecil di otak manusia. Terbuat dari besi anti karat yang tebal dan kuat. Rapat dan panas. Saat melewatinya, ingatan busuk hangus seperti batu langit ketika berusaha mencapai bumi.

Kenny G mengalun di dalam ruangan lumayan luas ini. Setidaknya empat orang staf sibuk berkeliling membersihkan sisa makanan di atas meja. Aku menyeruput isi gelas keduaku. Menunggu.

Setiap malam selama sepekan penuh, ponsel berdering tepat pukul sebelas lewat tiga belas menit. Suara berat laki-laki menyebutkan "halo", lalu raib begitu saja. Telepon iseng? Bisa jadi. Di malam keempat, dia menambah kata. "Halo, Mina, apa kamu ingat sama aku?"

Sifat tidak sabaran mendesakku untuk mengajaknya bertemu.

Langit pukul lima sore dijebak mendung. Lampu jalan menyala sejam lebih cepat. Gerimis tipis menempel ke kaca bening kafe-buku BookNom. Dari tempat duduk, aku bisa melihat trotoar dan jalan raya keabu-abuan dan bersuhu dingin.

"Apa perlu refill?" sapa seorang staf. Dia sedang berbisnis karena pengisian ulang gratis sudah tidak berlaku sejak sebulan lalu.

"Iya. Aku mau es batu juga, ya."

"Baik, segera saya ambil." Staf wanita itu bergegas ke balik konter.

Sudah kubilang, aku sangat tidak sabaran. Kemarahan mulai menumpuk bersamaan dengan kafein yang masuk ke dalam lambung. Aku menunggu hampir dua jam, tapi pria itu belum muncul juga.

Setelah ini adalah gelas terakhir. Bertemu atau tidak, itu bukan urusanku lagi.

"Maaf, aku terlambat." Pria berkemeja hitam polos tiba-tiba duduk di depanku. Rambut cepaknya mengilap basah, begitu juga bahunya. "Ada kecelakaan di jalan."

Amarahku raib saat mendengar alasannya. "Okay. Jadi?"

Dia tertegun sebentar. "Jadi, aku telat gara-gara itu."

Aku mengibas-ngibaskan tangan. "Maaf, maksudku, jadi kenapa kamu nelepon aku?"

"Kamu benar-benar lupa?" Dia semakin keheranan.

"Lupa? Mana aku tahu."

Dia menghela napas. "Kita hampir bertemu di sini sebulan yang lalu. Aku telat karena ada kecelakaan."

"Lagi? Situasimu aneh."

Dia tersenyum tipis. Aku juga hampir tersenyum, namun batal oleh cairan merah pekat yang merembes keluar dari rambut hitamnya. Dia masih tersenyum sambil menerima secangkir kopi, lalu mengucapkan terima kasih. Cairan amis itu menyusuri bagian belakang telinga, kemudian masuk ke sela kerah bajunya.

"Apa yang kecelakaan itu kamu?" tanyaku.

Dia mengangguk kecil karena sedang menyeruput. "Sebulan lalu. Parah, terus aku tewas di tempat."

Jantungku seolah-olah diremas. "Apa aku kenal kamu?"

"Kita pernah bertemu sekitar tiga kali. Orang tuaku minta aku milih istri dari anak teman-temannya, jadi aku pilih kamu. Karena kamu enggak nolak, jadi kita janji buat ketemu lagi deh. Kita perlu bicara banyak."

Sekarang lambungku yang seakan-akan dikoyak. "Apa aku juga mati di kecelakaan itu?"

Dia menggeleng. "Enggak tahu. Karena dalam perjalanan ke sini, aku rasa bukan."

Ah iya, dia bilang kami memang baru hampir bertemu.

"Apa perlu refill?" tanya staf yang sama. 

"Boleh, tapi isi ulang yang tadi belum datang," balasku.

Staf wanita berlensa kontak abu-abu ini kebingungan. Hanya sesaat, lalu dia ber-Oh pelan. "Oh, aku lupa. Maaf, Mbak, saya harus minta yang lain kalau begitu." Dia meringis.

"Kenapa?"

"Saya meninggal karena asma, tepat sebelum mengantar pesanan punya Mbak." Dia sedikit membungkuk, lalu berlalu ke balik konter.

Isi kepalaku menegang. Aku buru-buru berdiri, lalu menangkap lengan pelanggan wanita yang baru akan pergi dari mejanya.

"Apa kamu juga sudah mati?"

Mata bulat wanita ini mendadak sendu. Dia mengangguk sambil menyibak sebelah kanan cardigan-nya. Kemeja robek menampakkan kulit yang sudah tergerus. Sedikit lagi, maka aku bisa melihat tulangnya.

Aku berlari ke staf pria yang sedari tadi membersihkan sudut kafe. Kuraih bahunya, dan bunyi "krak" pelan terdengar. Sapu di tangannya jatuh.

Dia memutar tubuh, kemudian melotot marah. "Perlu waktu lama buat masang tanganku lagi!!"

Aku memindai seisi BookNom. Pelanggan dan staf menatap balik. Tanpa menunda, aku berlari keluar kafe untuk pergi sejauh mungkin.

Bersamaan dengan terdengarnya denting lonceng yang menempel pada pintu, aku kembali duduk di depan laki-laki yang berniat menikahiku.

"Sekali lagi aku tanya. Apa aku sudah mati?"

_

#ceritamisteri

#setahunrimis

#FBGroupRunnerUp