Senja di Samarantu

Ilustrasi : Pos 4 Samarantu by Liputan 6

Jalan setapak di jalur pendakian Gunung Slamet yang kami lalui terasa sangat licin. Gerimis yang datang tiba-tiba membuat perjalanan kami sedikit terlambat. Seharusnya kami dapat menempuh perjalanan sekitar 45 menit sampai 1 jam, dari pos 3 Pondok Cemara, menuju pos 4 Samarantu. Tapi kabut dan gerimis deras menghambat perjalanan kami.

Pukul 15.30 kami berangkat dari pos 3, seharusnya sebelum pukul 16.30 kami sudah sampai di pos 4. Aku melirik jam yang melingkar di tangan kiriku telah menunjukkan pukul 16.45. Kami masih belum sampai di pos 4, jalan semakin sulit dan menanjak.

Udara dingin membuat tubuhku menggigil kaku, kakiku menapak hati-hati agar tak terpeleset. Hening tak ada suara, hanya terdengar langkah kaki dan tarikan napas kami yang kadang tersengal. Saat dada terasa sesak aku berhenti sejenak, menghirup napas panjang agar rongga dadaku tak kekurangan oksigen.

Awalnya aku tak begitu menghiraukan saat bau busuk dan anyir menguar menusuk  penciuman. Bau yang semula samar, kini semakin tajam dan kuat. Sesekali tanganku menutup hidung untuk menguranginya. Laras yang berjalan di belakangku menyadari tingkahku yang sesekali menatap semak-semak di sekeliling. Aku sedang berusaha mencari sumber bau, karena penasaran Laras akhirnya bertanya padaku.

“Nez, kamu baik-baik saja?” tanya Laras padaku.

“Enggak Ras, ada yang menggangguku, kamu mencium sesuatu enggak?” aku balik bertanya.

Laras berkata tidak sembari menggeleng, aku tercengang dan mencoba menjelaskan pada Laras. Tapi dia terus membantah. Kang Kimin senior kami yang berjalan paling depan menegur kami agar diam dan fokus pada jalan. Kami segera menyudahi percakapan, kembali keheningan menyelimuti perjalanan kami.

Jalan semakin menanjak, sulit, dan licin, beberapa kali aku hampir terpeleset. Tiba-tiba semak belukar agak jauh di samping kananku tampak bergerak-gerak, penasaran kupalingkan wajahku ke sana. Sepasang mata bulat berwarna coklat memandang tajam ke arahku.

Karena kaget aku mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh, untung saja Laras dengan sigap menyangga tubuhku dari belakang. Mata itu milik seekor Lutung, tapi ada yang aneh karena rambutnya berwarna putih tidak hitam, kelabu atau keemasan seperti pada umumnya.

“Ras, lihat itu!” seruku pada Laras sambil menunjuk ke arah semak.

“Apa lagi Nez? tidak ada apa-apa di sana kamu pasti capek, atau kamu sakit?” jawab Laras sambil mengenyitkan dahi cemas.

Kembali kulihat ke arah semak, Lutung itu masih ada, dia tampak memamerkan barisan giginya kepadaku. Tengkukku menjadi dingin, badanku gemetar dan kakiku terasa lemas seolah tak bertulang. Aku memaksa melangkah namun sangat berat rasanya.

Kang Kimin melihat Laras yang kesulitan membantuku berjalan, dia berbalik dan memapahku, raut wajahnya tampak khawatir tapi dia berusaha menenangkanku. Pos 4 Samarantu sudah mulai terlihat dari kejauhan. Angin dingin berembus perlahan, membuat rambut di tubuh kami meremang.

Akhirnya kami sampai di pos 4 dengan ketinggian sekitar 2688 mdpl, sampai di tempat yang datar aku  tak sanggup lagi berdiri dan jatuh terkulai. Segera Kang Kimin sebagai ketua, memberi perintah kepada rombongan kami yang berjumlah 8 orang.

“Dito, Agus kalian bangun satu tenda dan buat api, Laras tolong bantu Inez ganti baju di tenda hangatkan tubuhnya dengan selimut, dan Dea kamu masak air minumkan pada Inez. Ayo cepat-cepat kita harus segera menolong Inez.”

“Tapi Min, kita tidak boleh bermalam di sini” sanggah Kang Karto dengan wajah cemas.

“Keselamatan Inez lebih penting, jangan sampai dia mengalami hipotermia. Kalian lihat wajahnya sangat pucat dan tubuhnya menggigil kedinginan, aku tak ingin berdebat!” jawab Kang Kimin dengan nada tinggi.

Kami semua diam mengikuti perintah, tegang dan ketakutan mulai membayang di wajah kami. Semburat warna jingga di langit yang seharusnya indah, tapi membuat tempat yang kami singgahi semakin menakutkan. Teman-temanku berusaha keras menolong, hingga keadaanku berangsur membaik.

Rasa dingin berkurang, meski kakiku masih lemas. Kang Kimin masuk ke tenda melihat kondisiku, tanpa kata dia membuka tas bekal yang kubawa. Dia mengambil sebungkus roti pisang kesukaanku, aku dan Laras saling pandang tak mengerti namun tak berani bertanya. 

“Nez, ingat kembali pesanku sebelum kita naik tadi!” ucap Kang kimin sebelum keluar dari tenda, sembari mengacungkan bungkusan roti di tangan.

Deg, aku mencoba mengingat pesannya. Dia banyak berpesan, dan ada kalimat yang diucapkan berulang yaitu, apapun yang kalian lihat, dengar, atau kalian cium di perjalanan, abaikan saja jangan pernah membicarakannya. Aku tersadar kenapa tadi Kang Kimin menegur  keras saat kami terus berbicara di jalan.

Laras tampak diam, kepalanya tertunduk raut wajahnya ketakutan. Mereka yang berada di luar tenda juga tak bersuara sama sekali, penasaran aku mengintip keluar, Kang Kimin berjalan menjauh ke arah semak. Ketika sedang mengamati, tiba-tiba kulihat sosok samar di rimbun batang pohon besar, aku bersurut mundur menempel pada tenda tanpa memberitahu Laras.

Aku kaget namun berusaha menahan agar tidak berteriak, aku mencoba menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Belum hilang rasa takutku tiba-tiba kurasakan ada yang menarik bajuku dari luar tenda. Kali ini aku menjerit, Laras tak kalah kaget dia juga melihat tubuhku yang tertarik ke belakang. Laras berusaha menarik tanganku dan minta tolong pada teman-teman.

Kami semua menjadi panik, Kang Karto yang juga merupakan senior kami masuk ke tenda untuk menolong. Kami berhasil keluar dari tenda sedangkan Kang Kimin dan yang lain bergegas melihat ke balik tenda, dan ternyata tak ada siapa pun di sana. Kami semakin panik, ketakutan, dan gemetar.

Aku, Laras, Dea dan Mbak Sekar berkumpul jadi satu di luar tenda. Sebagai senior, Mbak Sekar mencoba menenangkan kami sembari berusaha menyembunyikan rasa takut dan cemasnya agar kami menjadi tenang. Kang Kimin dan Kang Karto mencoba menenangkan para pria di kelompok kami yang mulai tampak panik dan ketakutan.

Angin bertiup kencang, kali ini aroma wangi menguar di udara. Tapi kali ini bukan hanya aku yang merasakan tampaknya mereka semua juga menciumnya, tampak jelas perubahan di raut wajah. Suasana mencekam membuat kami bergidik ngeri, terlebih lagi ketika terdengar suara-suara berisik yang entah  dari mana asalnya.

Kami saling berpelukan menguatkan satu sama lain, namun mata kami tetap waspada memandang sekeliling. Aku melihat, bayangan samar juga berkelebat di antara gelap. Senja mulai kehilangan jingganya, gelap mulai tumpah menutupi langit. Kami masih terus diam tanpa suara tenggelam dalam doa dan pikiran masing-masing.

“Inez, apa kamu sudah baikan? Kalau sudah, selepas maghrib kita lanjutkan perjalanan” kata Kang Kimin memecah keheningan.

“S-siap Kang, saya sudah sehat,” jawabku terbata.

Kang Kimin tersenyum, hanya dia yang berhasil menyembunyikan rasa takut di wajahnya. Dia berusaha terlihat tenang meski dalam keadaan panik. Senyum dan kata-katanya membuat kami bersemangat kembali.
Kembali aku terkesiap ketika melihat ke arah dua batang pohon besar yang berjajar, sesosok bayangan menatap tajam dan tersenyum ke arahku. Aku pernah mendengar bahwa celah di antara dua batang pohon itu adalah pintu gerbang menuju ke dunia lain.

Kupejamkan mata, dan semakin merapat pada Laras. Suara-suara itu perlahan hilang, kembali keheningan menyelimuti. Kami masih terjerat rasa takut, tubuh kami gemetar hanya mampu berdzikir dan berdoa untuk menenangkan hati.

 

Purbalingga, 2 Juli 2021

#ceritamisteri
#setahunrimis