Perempuan yang Bernyanyi di Tengah Gunung

Sumber : pinterest.id

Aku terbangun karena hawa dingin yang menusuk di sekujur tubuh. Pegal-pegal kurasakan di sepanjang bahu, lengan sampai betis akibat tertidur di atas kerikil-kerikil tajam tanpa alas apa pun. Cuaca menjelang fajar  di pos Samarantu memang sangat tidak bersahabat, bahkan terkadang sampai menyebabkan hypothermia bagi para pendaki yang tidak cukup tangguh.

Kulayangkan pandangan ke segala arah di mana kedua mataku masih sanggup menjangkau. Kira-kira lima belas meter dari tempatku, di atas sebuah batu besar, kulihat seorang perempuan muda tengah duduk menghadap ke arahku. Rambutnya yang panjang dan hitam digelung seadanya.  Bibirnya pucat, tampak komat-kamit melantunkan sesuatu. Seperti tembang Jawa Kuno atau tembang macapat yang pernah aku pelajari di bangku sekolah, tetapi aku lupa apa judulnya.

Padha gulangen ing kalbu
Ing sasmita amrih lantip
Aja pijer mangan nendra
Ing kaprawiran den kaesthi
Pesunen sarinira
Sudanen dhahar lan guling

Telingaku seperti tersihir sekaligus merinding mendengar suaranya yang begitu fasih dan merdu menyanyikan langgam Jawa tersebut. Aku bisa merasakan ada energi aneh yang tersampaikan lewat udara yang bergerak di sekeliling meskipun kami berdua cukup berjarak.

“Hei, burung-burung bahkan belum mulai berkicau dan kau sudah bernyanyi sepagi ini?" kataku pada perempuan yang mengenakan kain jarik tradisional motif Parang Kusumo dan kemben yang menutupi bagian atas tubuhnya.

"Namaku Anantari, Wira. Panggil aku Tari," jawabnya singkat tanpa menoleh padaku. Dia masih setia menembangkan lagu yang meliuk-liuk dari bibirnya yang mungil dan pucat.
        
“Hhmm, Tari, bisakah kau membantuku menemukan jalan pulang?” tanyaku ragu-ragu. 
        
Di atas pohon lebat netraku menangkap sesosok makhluk besar berbulu yang tengah bergelantungan menatap kami berdua. Matanya besar memerah.
        
Anantari menoleh padaku, “Mau pulang ke mana lagi? Di sinilah rumahmu,” katanya tersenyum misterius.
       
“Rumahmu, bukan rumahku. Ingat, aku tersesat di sini.”

Anantari terkekeh ringan. “Kau masih saja belum menerima takdir, Wira. Tapi tenanglah, sebentar lagi kau bisa kembali ke rumahmu. Bertemu dengan orang-orang yang kau rindukan. Hihihihi.” Perempuan itu melolong panjang membuat bulu kudukku berdiri.
       
Sudah hampir sebulan aku berada di sini, di antara gemercik anakan Sungai Pelus. Berkawan dengan Anantari, perempuan seperempat abad penduduk asli Dusun Bambangan, kaki Gunung Slamet, yang gemar melantunkan tembang macapat. Untuk bertahan hidup, sehari-harinya aku makan dedaunan atau apa saja yang selalu ditinggalkan seseorang misterius di depan tendaku. Entah siapa dia, yang pasti aku mesti berterima kasih padanya.
        
Krosak…krosak…krosak. Terdengar suara dari arah semak-semak tak jauh dari tempatku dan Anantari duduk.
        
“Sebelah sini! Benar, aku menemukannya di sini!” teriak seseorang dari balik bebatuan.
        
Seorang laki-laki muda terlihat amat kelelahan menggendong beban tas ranselnya. Tentu saja terasa berat, dua anak kecil berkepala plontos bergelantungan riang di sepanjang punggungnya yang kokoh.
        
Beberapa laki-laki kemudian bertanya pada Anantari. Perempuan itu lantas menunjuk pada sejumlah tulang belulang di pinggir sungai dan tersenyum padaku.
        
“Kamu sekarang pulang ke rumahmu yang sesungguhnya, Wira. Senang bisa mengenalmu meskipun sebentar,” ucapnya terlihat sedih.
        
Bersamaan dengan potongan tulang belulang yang dimasukkan ke dalam kantong plastik putih, tubuhku pun ikut melayang-layang di udara. Samar-samar kudengar suara Anantari mengidungkan tembang Jawa sembari bibirnya mengucapkan kata selamat tinggal. Dan aku pun pulang ke rumahku yang sesungguhnya.

 

Cilacap, Juni 2021

 

#ceritamisteri

#setahunrimis