Ketukan Misterius

Cover by Gita FU/Canva

 

Malam belum beranjak jauh, tapi mata Sayaka seolah digantungi tabung gas melon. Berulangkali ia menguap lebar.  Aroma kasur begitu menggoda. Sekujur tubuhnya diserang penat, minta dibaringkan segera di atasnya. Akhirnya perempuan tiga puluh tahun itu menyerah. 

"Mas, aku tidur duluan, ya," pamitnya. Tanpa menanti jawaban ia langsung ke kamar, menyebelahi Nora, putri semata wayang mereka. 

Toni mendongak dari buku yang tengah dibaca. Biasanya sang istri duduk menemani hingga ia selesai, sembari bercakap-cakap ringan perkara apa saja. Lelaki ini mencoba memaklumi, Sayaka pasti lelah oleh rutinitas hariannya. Meskipun tak urung ia membatin, baru juga jam setengah sembilan sudah tidur. 

Setengah jam berikutnya Toni masih membaca. Namun kini kantuk mulai menyapanya. Ia mengucek mata dan berpikir, apakah sebaiknya menyeduh segelas kopi ataukah tidak. Sebab esok adalah jadwal piket pagi, jadi ia harus berangkat kerja lebih awal. 

"Tumben, baru jam sembilan mataku sudah sepet," gumam Toni. 

Ia bangkit, meletakkan buku, meregangkan tubuh dengan nikmat. Kemudian ia beranjak ke kamar ibunya.  Toni  membuka tirai kamar. Bu Suji terlihat lelap di balik selimutnya.
 Giliran Toni garuk-garuk kepala, menyadari malam Jumat ini terasa berbeda. Seakan-akan kabut ilmu sirep hadir melumpuhkan mereka serumah. 

Toni menguap. Sebelum balik badan, ia berhasil memaksakan dirinya untuk memeriksa ulang pintu dan jendela rumah. Setelah yakin semua aman terkunci barulah lelaki itu menyusul istrinya tidur.

**
Malam telah  tiba di puncaknya. Lamat-lamat terdengar suara ketukan di jendela kaca. Mulanya pelan, lalu menguat. 

Sayaka tersentak. Sejenak ia gelagapan dan disorientasi. Namun yang ia dengar itu nyata. Ada yang mengetuk kaca jendela rumahnya! Spontan Sayaka membangunkan suaminya. 

"Mas, bangun, Mas!" Sayaka menepuk-nepuk pipi Toni hingga mendusin. 

"Ada apa, sih, Say?" kesal Toni.

"Itu! Ada yang mengetuk kaca jendela kita," sergah Sayaka.

Pasangan tersebut sama terdiam dan terpaku. Irama ketukan yang mereka dengar kini bernada mendesak. Toni segera bangkit dibuntuti oleh istrinya. "Mas, siapa, ya kira-kira?" mimik Sayaka dipenuhi ketegangan. 

Mereka beringsut-ingsut ke ruang tamu. Toni pun penasaran. Dalam benaknya ia menghitung semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Langkah mereka sampai di muka jendela. Toni mengulurkan tangan untuk menyibak tirai. 

"Lho? Nggak ada siapa-siapa," heran Sayaka. Ia masih menempel di belakang Toni. 

Toni belum percaya. Ia periksa tiap sudut jendela,  melongok ke teras. Siapa tahu si pengetuk tadi berjongkok. Selagi mengintai dari dalam, tanpa sengaja tangan kirinya menyentuh pegangan pintu dan reflek menariknya. 

"Ya Allah! Kok, nggak dikunci?!" seru Toni dan Sayaka berbarengan. 

Di depan mata  pintu itu tertarik membuka. Menampakkan kesunyian malam di gang depan rumah  mereka. Dan tak  seorang pun terlihat di teras.

"Kok, bisa?" gumam Toni bingung. 

"Tadi sebelum tidur diperiksa lagi nggak, sih, Mas?" 

"Yaa jelas diperiksa. Aku yakin tadi udah ngunci pintu dan jendela."

"Lha, tapi ini buktinya?"

"Ya nggak tahu!" gusar Toni. Sayaka terdiam. Angin berkesiur, dingin. 

"Ya sudahlah. Kita kunci lagi saja," putus Toni. Kali ini ia pastikan benar kunci sudah terpasang sempurna. Sayaka membenahi tirai jendela. 

Sampai di pembaringan, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kejadian barusan masih terasa mengguncang batin mereka. Siapa yang mengetuk jendela? Kenapa pintu depan tidak terkunci? 

"Mas, aku jadi serem," bisik perempuan berambut ikal tersebut. Sesaat Nora menggeliat. Sayaka sigap mengipasi perlahan bocah lima tahun itu hingga kembali pulas.

Toni tak langsung merespon. Ia masih berkutat dengan benaknya sendiri. "Hmm?" Ia menoleh saat Sayaka menepuk lengannya. 

"Udahlah, Say. Nggak usah terlalu cemas. Gini, kita anggap saja siapa pun yang mengetuk kaca tadi itu, bermaksud mengingatkan keteledoran kita. Gimana?" bujuk Toni. 

"Jadi, Mas merasa teledor perkara kunci pintu depan?" kejar Sayaka. Matanya menuntut penjelasan. 

Toni menghela napas. "Entahlah...."

Tiba-tiba kesenyapan suasana dipecahkan oleh decak sepasang cicak berkejaran di dinding. Tak lama terdengar kelepak sayap kelelawar melintas di kegelapan. Di kejauhan, gemuruh guntur menyapa langit. 

"Tidurlah, Say... Kita sama-sama butuh istirahat," pungkas Toni sebelum merapatkan kedua matanya. 

Sayaka menatap kesal. Namun tak lama kemudian ia pun ikut merebahkan diri. 

**

Sisa hujan dini hari mewujud dalam kesejukan udara pagi. Sayaka tengah menyiapkan sarapan favorit Nora; nasi hangat berlauk telur ceplok, dihiasi dua larik kecap manis. Suaminya  berangkat jam tujuh barusan, lebih awal setengah jam dari hari biasa. 

"Ibuk, Embah ngasi roti buat Nora," panggil bocah bermata bulat ini. Ia menyodorkan sebuah kotak snack berwarna putih. 

"Oya? Ya, nanti dimakan habis sarapan aja, ya?" Sayaka menilik isi kotak: brownis cokelat, pie buah mini, dan roti isi pisang. 

"Nanti Nora mau roti buahnya dulu, ya, Buk?" celoteh putrinya girang. 

"Itu rotinya buat Nora, Ya. Eman-eman, nggak basi, kok," cetus Bu Suji, menyusul ke dapur. 

"Makasih, Bu. Omong-omong ini snack dari mana, Bu?" Sayaka menatap heran pada mertuanya. 

"Dari Surip. Roti arisan, katanya. Tapi dia udah kenyang karena disuguhi soto juga. Jadi ini dikasihkan ke Ibu," urai perempuan sepuh tersebut. Surip adalah kakak sulung Toni. 

Sayaka manggut-manggut. "Ngasihnya barusan ini, Bu?"

"Ngasih tadi malam habis dia arisan," tandas Bu Suji. 

Sayaka tertegun. Eh? (*)

Cilacap, 020721

#ceritamisteri
#setahunrimis