Topeng Misteri

Topeng Misteri

"Sella, kau yakin dengan firasatmu itu?"

"Ya, aku tak tahu. Tapi aku melihatnya dengan jelas."

"Tentang kematian?"

"Lebih tepatnya kematianku."

***

Ambulans itu bergerak perlahan, menggiring seseorang yang baru saja tewas di apartemennya. Menurut penduduk sekitar, Si Pelaku adalah seorang psikopat. Sebab setiap kali terjadi pembunuhan, Si Pelaku selalu meninggalkan pesan misterius.

Headline koran hari ini terbaca cepat oleh mataku. Ya, kematian beruntun terjadi di apartemen yang sama. Aku meletakkan koran di atas meja, lalu menyeruput teh.

Ting tong! Ting tong!

Bel rumah berbunyi. Itu pasti Emma. Kami akan berbelanja di supermarket terdekat sebentar lagi, membeli makanan dan minuman ringan untuk teman menonton film.

Ketika aku membuka pintu, ternyata bukan Emma yang datang, melainkan ibu.

"Lama sekali kau membukanya, Sella," kata ibu seraya masuk ke dalam rumah.

Aku mengikutinya yang terlihat sedikit kesal.

"Kau tak boleh ke mana-mana, Sella."

Aku tersentak, "Sebentar lagi Emma akan datang, Bu. Kami hanya pergi sebentar, lalu pulang."

Bukkk!! Kraakkk!!

"Suara apa itu, Bu?"

"Entahlah, Sella. Ayo kita keluar dan melihatnya!"

Sesampainya di luar, kami tak menemukan apa pun atau siapa pun yang menyebabkan timbulnya suara itu.

Tiba-tiba dari arah kanan muncul seorang wanita, memakai jubah hitam dan membawa pisau yang sangat mengilat. Dia berlari ke arah ibu. Dan ...

Jleb! Jleb! Jleb!

Tiga kali tusukan di perut ibu tak bisa dihindari. Aku ternganga melihat pembunuh wanita yang amat sadis itu. Kali ini dia mengejarku.

"Jangan lari, Sella!"

Ya Tuhan ... bagaimana mungkin dia tahu namaku? Jangan-jangan dia kerabat ibu yang tak kukenal? Tapi, kenapa dia membunuh ibu?

***

Aku lupa bagaimana caranya bisa lolos dari wanita iblis itu. Dia sempat merobek kausku dengan ujung pisaunya. Walaupun begitu, aku berhasil menerobos kawat berduri di belakang rumah. Tak berapa lama, polisi pun datang setelah panggilan ke nomor 911 kulakukan.

Polisi sempat mengajukan beberapa pertanyaan padaku dan siap membantu proses pemakaman ibu. Mereka paham karena dalam situasi seperti aku pasti masih mengalami syok yang sangat hebat. Hanya saja, kekasihku—Elang, tak bisa datang karena ada urusan mendadak. Aku pun tak mempermasalahkannya.

Setelah pemakaman ibu, kini aku tinggal sendiri. Polisi menawarkan bantuan untuk menemaniku beberapa hari. Namun, aku menolaknya. Aku bisa menjaga diri dengan baik dan bisa menelepon Elang setiap saat.

Polisi mulai pergi dan aku kembali masuk ke dalam rumah. Aku merebah di atas sofa dan sengaja tak memberitahu Elang karena mungkin masih sibuk. Aku tak ingin mengganggunya dulu.

Bip! Bip! Bip!

Satu pesan pendek mendarat di telepon genggamku. Ternyata dari Elang. Katanya dia sudah ada di depan rumah. Aku sedikit kaget. Namun, juga senang karena dia memang peduli padaku.

Aku pun bergegas menuju pintu dengan antusias. Elang tersenyum hangat melihatku. Pemakaman ibu sudah satu jam berlalu, dia pasti sanggup menemani dan menghiburku.

"Kau tak keberatan jika aku menemanimu, Sella?"

"Ya, tentu saja." Aku menggamit lengannya.

"Tapi kau pasti lebih senang menemani ibumu, kan?"

Aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan olehnya. Apa maksudnya? Tiba-tiba dia mengeluarkan sebilah pisau. Pisau itu ... teramat mirip dengan pisau yang digunakan Si Wanita Iblis saat membunuh ibu. Mungkinkah Elang ...?

Jleb!

"Ahhh ...," erangku seraya mencengkeram tangannya.

"Kau ingat siapa pembunuh ibumu, Sella?"

"Aku ...,"

"Lihatlah kejutan dariku!"

Elang mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Dia menunjukkan benda itu tepat di depan mataku yang mulai mengabur. Astaga, itu topeng dengan wajah Si Wanita Iblis!

"Kau ... pem... bu ...nuh ...,"

Jleb! Jleb! Jleb!

Tiga kali tusukan dan aku mulai tak bisa menyangga tubuh. Semuanya seketika berubah menjadi gelap!

***

Kematian beruntun tak hanya terjadi di apartemen, melainkan bisa juga di rumahmu sendiri.

Semarang, Juli 2021

#ceritamisteri #setahunrimis