Memasuki Alam "Gaib" Diponegoro

Ilustrasi/Ist

perjalanan laut dari Jakarta-Manado (3 Mei sampai 12 Juni 1833), Pangeran Diponegoro mengatakan kepada Letnan Dua Justus Hendrich Knoerle "Hidup ini adalah urusan misteri".

Peter Carey, penulis sejarah Diponegoro dari Trinity College, Oxford, Inggris juga mengatakan, adalah hal "misteri" ia sampai bisa menyelesaikan tulisan biografi Diponegoro. Ia mengatakan hal ini dalam sebuah wawancara di Leiden, Balanda, bulan Desember 2007.

Dalam wawancara itu, ketika pertama kali melihat lukisan sketsa Pangeran Diponegoro di New York, Amerika Serikat antara tahun 1969-1970, Peter Carey mengatakan, "Saya tidak yakin benar, apa yang membuat saya tertarik pada sketsa itu, namun itu mungkin karena sifat misterius potret Diponegoro karya De Stuers dan fakta bahwa agak susah untuk melihat wajahnya (Sang Pangeran)."

Setelah kena sihir sketsa Diponegoro itu, Peter Carey, suatu hari, ketika berada di dermaga New Orleans, Amerika Serikat, bulan Frebuari 1970, melihat galangan kapal bertuliskan "DJAKARTA LLOYD".

Empat bulan kemudian, Peter Carey memutuskan berangkat ke Jakarta dengan kapal barang bernama "Sam Ratulangie".

Dalam perjalanan satu bulan lebih (Juni sampai Juli 1970) dari New York ke Jakarta, Indonesia, usus buntu Pater pecah (karena salah pengobatan) dan merasa hampir tewas. Ternyata kapal tidak langsung ke Jakarta tapi ke Palembang.

Kapal memasuki Sungai Musi. Di Palembang Peter dirawat, tapi belum memuaskan. Lewat jalan penuh liku, Peter diterbangkan ke Singapura sampai sembuh dan kemudian pulang ke Surrey, Inggris. Dua bulan di kampung halamannya, Peter menyaksikan ayahnya meninggal dunia.

Setelah mengadakan penelitian tentang sejarah Indonesia (Diponegoro) di Oxford dan Leiden Inggris, Oktober 1971 pergi ke Jakarta. Dua bulan mengadakan penelitian di Jakarta, Desember 1971 Peter naik kereta api ke Yogyakarta.

Disembuhkan Paranormal

Tiba di Jogya, jam tujuh malam. Dia memilih menginap di sebuah losmen murah di Jalan Malioboro. Di losmen itu ia bertemu temennya, orang Inggris. Malam itu setelah mandi, temannya mengajak Peter naik beca untuk nonton pertunjukan wayang wong (wayang orang).

Peter saat itu tidak tahu tempat pertunjukan. Ternyata tempat pertunjukan itu di Tegalrejo, tempat tinggal Pangeran Diponegoro masa kanak-kanan sampai pecah perang (Perang Jawa, 20 Juli 1830).

"......Tampak bagi saya bayangan Diponegoro menyambut saya di Tegalrejo (tempat tinggal Pangeran sejak kecil hingga 1825) yang dicintainya pada malam pertama kedatangan saya di Yogyakarta," demikian kata Peter Carey saat itu.

Dalam wawancara di Leiden, Belanda, 19 Desember 2007 itu, Profesor Sejarah Universitas Leiden , Leonard Blusse, menyampaikan pertanyaan dengan sebuah kalimat panjang. Kalimat itu saya potong dan berbunyi seperti berikut. "..........Sesuatu kekuatan gaib yang tampaknya menghantui setiap orang yang tinggal di Jawa."

Dalam jawabannya, Peter Carey bercerita, ketika masuk rumah kos di tempat tinggal kerabat keraton di Tejokusuman di Pasar Ngasem tepat di seberang rel kereta api, Yogyakarta. Tempat kos Peter itu adalah rumah tua berusia 200 tahun. Di rumah itu terpampang lukisan Diponegoro naik kuda dalam pertempuran

Di tempat itu Peter punya seorang pembantu rumah, seorang bocah laki-laki. Ketika Peter keluar rumah, ke luar kota (ke Surakarta), bocah itu memakai motor milik Peter sampai persenelingnya rusak. Selain itu bocah itu juga sering tidur di tempat tidur Peter bersama teman-temannya, sementara Peter keluar kota. Setelah kepergok, anak itu dipecat.

Beberapa hari kemudian kamera yang dibeli di Singapura untuk memotret berbagai manuskrip, hilang. Saat itu rumah kosnya bocor ketika hujan. Sakit perut Peter kambuh dengan parah.

Peter Carey, sarjana sejarah modern dari Inggris ini langsung ambil keputusan mendatangi seorang paranormal.

Oleh paranormal itu sakit perut Peter hilang setelah minum ramuan daun pohon buah delima yang diberikah para normal itu.

Paranormal itu juga mengatakan kamera akan kembali sendiri. Tidak lama kemudian kamera itu memang kembali.

Sang paranormal juga mengadakan selamatan untuk rumah itu. Katanya rumah itu didatangi arwah mantan jurutulis Diponegoro, Raden Tumenggung Reksoprojo. Pengalaman pahit dalam perang Jawa, kata para normal itu, orang dekat Diponegoro itu benci dengan orang Belanda (bule). Mungkin Peter dianggap orang Belanda.

"Masalah yang terjadi di bulan-bulan saya pertama saya di Tejokusuman tiba-tiba menghilang dan saya mampu memulai penelitian selama satu tahun, termasuk mendatangi tempat-tempat yang sering dikunjungi Diponegoro," demikian kata Peter Carey.

Pernah pula Peter Carey menginap di sebuah gua yang sering digunakan Pangerang Diponegoro bertapa, bersemedi, meditasi di Selarong, Bantul. Ketika memasuki gua itu Peter melihat dua ekor ular kecil bersarang di situ. Ketika ia mandi di sumber air di belakang selembar daun melekat di pahanya.

Ini mengingatkan pada Raja Hastina dalam Mahabharata, ketika masih kecil dimandikan air untuk menguatkan tubuhnya. Tapi selembar daun kecil menempel di pahanya sehingga air ajaib itu tidak membasahi sebagian pahanya, sehingga bagian itu menjadi kelemahannya.

Selarong ini menjadi markas besar Diponegoro dalam perang Jawa 1825-1830. Perang yang menewaskan lebih dari 200.000 orang Jawa, 8.000 serdadu Belanda (Eropa) dan 7.000 serdadu bantuan lokal (dari berbagai wilayah Nusantara).

Untuk memenangkan pemberontakan terbesar dalam sejarah perang melawan kolonial ini, Pemerintah Belanda harus mengeluarkan biaya 25 juta gulden atau sekitar 300 juta dollar Amerika Serikat.

Setelah 30 tahun mengadakan penelitian, Peter Carey menerbitkan banyak buku tentang Diponegoro. Pada 19 Desember 2007, Peter Carey meluncurkan buku riwayat Diponegoro di Universitas Leiden, Belanda. Tahun 2015 Penerbit Buku Kompas, menerbitkan dalam Bahasa Indonesia, buku Peter Carey berjudul Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Beberapa kali buku ini dicetak ulang.

Buku Peter Carey, sejarahwan Universitas Oxford, Inggris, berjudul Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855 yang diterbitkan Penerbit Kompas, cetakan pertama 2015 (dokpri)

Buku Peter Carey, sejarahwan Universitas Oxford, Inggris, berjudul Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855 yang diterbitkan Penerbit Kompas, cetakan pertama 2015 (dokpri)

Saya mencatat kata-kata Peter Carey dalam buku ini. "Masalah-masalah yang dihadapi Diponegoro pada masa hidupnya : korupsi pejabat, langka negarawan, intrik politisi, kemrosotan nilai budaya, dan keharusan 'revolusi mental' atas dasar budi pekerti dan kesetaraan sosial pada jamannya yang marak kolonialisme dan kapitalisme, masih menjadi tantangan kita pada jaman reformasi ini."

Catatan ini mengingatkan saya pada tulisan almarhum budayawan Radhar Panca Dahana di Kompas, Selasa 21 Januari 2020 ketika virus corona mulai merebak.

Berjudul Sakratul Maut Seni-Budaya, budayawan ini menulis, "Bagaimana kemudian di masa presiden pengganti SBY?... Membuat seni dan kebudayaan seperti kucing sakit ..... Pengangkatan seorang tokoh muda, misalnya, ....... jadi menteri yang mengurus hal itu adalah kenyataan mengecewakan". Ada caatan pula, yakni "mengurus gerak seni-budaya" tidak sama dengan melakukan kegiatan jual beli barang seni seperti lukisan.

Sebelum perang pecah Pangeran Diponegoro banyak bertapa, bersemedi, bertirakat dan bermeditasi di berbagai tempat di bagian selatan Yogyakarta. Antara lain di Gua Song Kamal, Gua Seluman, Guwa Suracala, Mancingan, Gua Langse, Parangkusuma, dan Gua Secang (di Selarong).

Masalah Pajak dan wabah

Di Parangkusuma, Parang Tritis, menjelang berakhirnya tahun 1805, Diponegoro mendapat bisikan suara yang diduganya dari Sunan Kalijogo, yang meramalkan kehancuran Yogyakarta dan awal runtuhnya Jawa tiga tahun mendatang.

Di sini pula Pangeran mendapat mandat untuk mengobarkan perang Ratu Adil, walau pun tidak lama dan tidak akan berhasil mengusir kolonial. Tapi, kata bisikan itu, perang ini akan merepotkan.

Tiga tahun kemudian, 5 Januari 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendles datang ke Jawa dan memimpin pemerintahan Hindia Belanda sebagai boneka Perancis (sampai 1811). Disusul pemerintahan Inggris di bawah Letnan Jenderal Thomas Stanford Raffles sampai 1816. Dua pemerintahan kolonial ini memporak porandakan Jawa (wilayah kraton Solo dan Yogya). Jawa terombang-ambing.

Suasana dua pemerintahan ini bagaikan sebuah mesiu yang dipasang bagi meledaknya pemberontakan besar di Jawa yang dipimpin Diponegoro.

Membaca buku Peter Carey, pemberontakan besar diawali dengan banyak peristiwa. Masalah pajak, cukai, wabah kolera, letusan Gunung Merapi, gagal panen padi.

Di bawah Dandles, dibangun infrastruktur yakni jalan raya trans Jawa (posweg) antara Anyer (ujung barat)-Panarukan (timur). Ini menimbulkan masalah perburuhan (kuli).

Di masa Raflles, ada vaksinasi cacar, tapi kemudian ada penyerbuan ke dalam Keraton Yogyakarta dan terjadilah banyak penjarahan.

Di masa Daendles dan Raffles, tulis Peter Carey, Jawa diombang ambingkan. Perang Diponegoro berakhir dan berlanjut dengan Tanam Paksa. Kekayaan Nusantara mengalir deras ke Belanda.

Baru 115 tahun kemudian, Bung Karno dan Bung Hatta di depan corong mikropon mengumandangkan Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 yang kini berusia 76 tahun (lebih muda dibanding dengan gabungan masa atau waktu pemerintahan Belanda, Perancis, Inggris dan Jepang di Nusantara)

Sebelum pecah perang Pangeran banyak bermeditasi, bertirakat. Setelah perang, Pangeran kembali banyak meditasi di Benteng Belanda Nieuw Amsterdam di Manado (1830 -1833).

Di sini Pangeran menulis Babad Diponegoro yang tercatat menjadi bagian sejarah dunia yang tak terlupakan.

Tanggal 18 Juni 2013, PBB memasukkan Babad Diponegoro dalam Daftar Internasional Ingatan Kolektif Dunia.

Dari Manado, pengasingan Diponegoro dan sebagian keluarganya dipindahkan ke Benteng Rotterdam Makassar (1833 -185). Ia melanjutkan meditasinya hingga wafatnya.

Energi meditasi Sang Pangeran masih terus membayangi hidup yang penuh misteri, hingga kini.

Gaib atau misteri apalagi yang akan dibawa Pangeran Diponegoro untuk masa kini?

 

Penulis : Joseph Osdar

Sumber : kompasiana.com