Adinath

<3

Adinath, anak berusia tujuh tahun yang harus berpindah-pindah sekolah karena terus mendapat keluhan dari orangtua siswa lain yang risih dengan keberadaannya. Kelakuannya yang sering berbeda dari anak-anak lain, terkadang membuat sekitarnya menganggap Adinath tidak waras. Namun, kini sebuah sekolah dasar yang terletak jauh dari perkotaan akhirnya menerima kehadiran Adinath, karena pelajar yang ada di sana juga masih bisa dibilang terlalu sedikit.

Sekolah dasar yang sudah dibangun sejak jaman penjajahan Belanda, dengan kondisi bangunan memprihatinkan tidak membuat surut semangat belajar Adinath. Hari pertama untuk sekolah kala embun masih menunjukan rupanya, mentari yang mulai muncul sedikit-demi sedikit. Adinath sudah bersiap lalu diantar Ibunya berjalan kaki mulai masuk melewati gang-gang kecil sampai terlihat sebuah pesawahan, kemudian melewati jalan setapak yang sangat jauh hingga akhirnya sampai.

Setelah berpamitan dan berjanji akan menjemput lagi di waktu pulang, Ibunya pergi membiarkan Adinath agar mencari temannya sendiri.

Adinath mendapatkan teman sebangku bernama Thana, siswa paling cerewet yang senang bertanya. Bahkan Thana terus bertanya kenapa Adinath pindah sekolah, tapi Adinath tidak mengindahkannya dan menutup rapat mulut terus bungkam.

Saat waktu istirahat, jenuh mulai dirasakan Adinath. Kosong, tanpa kegiatan apapun seperti tong yang hampa. Namun Thana akhirnya mengajak Adinath untuk berkenalan dengan teman-teman yang lain. Sebuah pemandangan indah melihat anak-anak berseragam merah putih yang lari ke sana ke mari saling berteriak dan tertawa tanpa memikirkan apapun selain bermain.

Thana mengajak semua teman kelasnya berkumpul ditengah-tengah taman sekolah, mengajak mereka bermain petak umpet termasuk Adinath. Kemudian, Thana mendapat bagian menjaga dan yang lain berlarian mencari tempat sembunyi. Thana mulai menghitung satu… dua… tiga… hingga sepuluh dan membuka matanya untuk mulai mencari keberadaan yang lain.

Adinath yang belum tahu keseluruhan sekolah memilih untuk bersembunyi di bawah meja guru kelasnya. Adinath terlihat bersembunyi dengan seorang anak perempuan.

“Sempit, gak?” tanya Adinath khawatir.

“Gak papa daripada ketauan mending sembunyi bareng aja di sini.” Anak perempuan dengan baju seragam yang terlihat lusuh itu tersenyum ramah dan memperkenalkan diri dengan nama Sekar.

Adinath mulai merasakan pegal karena terus menunduk dan memilih keluar dari kolong meja. Tidak dengan Sekar yang tetap diam.

Thana yang berkeliling di kelas melirik keberadaan Adinath dan mereka berdua pun berlarian, yang satu menghindari agar tidak tertangkap dan yang satu berusaha menangkap. Adinath mulai lelah berlari akhirnya menyerah dan Thana berhasil menyentuh lengannya. Menandakan Adinath kalah.

“Tuh! Sekar juga tangkap aja sekalian.” Adinath menunjuk kolong meja guru.

Thana segera mengecek untuk melihat siapa yang ada di sana. Namun, kolong meja itu kosong dan membuat Thana heran apalagi Adinath.

“Ah, alasan kali! Kamu udah ketangkap ayo ikut!”

Adinath terlihat bingung dan berkali-kali mengecek kembali kolong meja guru yang benar sudah kosong. Thana menarik Adinath paksa ke luar kelas dan melanjutkan pencarian teman-teman yang lain.

Thana bersorak girang setelah semua ditemukan, tapi Adinath memilih untuk berhenti tidak ingin bagian menjaga dan pergi ke kelas seorang diri. Untuk memuaskan rasa penasaran Adinath kembali mengecek kolong meja guru, tapi tetap saja Sekar tidak lagi terlihat. 

"Kenapa Thana bilang semua udah ketemu, ya? Padahal Sekarbelum, atau Sekar cuma anak kelas lain yang ikut-ikutan gak jelas, ya?" Adinath terus bertanya-tanya dan menjawabnya sendiri dengan perkiraan. 

Ketukan di pintu yang tanpa jeda membuat Adinath terkejut. Ternyata Sekar kembali terlihat dan mengejek Adinath karena tadi sudah tertangkap dalam pemainan.

“Tadi bisa ngilang dari kolong meja itu gimana?” tanya Adinath antusias.

“Aku gak ngilang, kog. Cuma saat Kamu kejar-kejaran aku langsung pindah secepat mungkin ke dalam lemari itu!” Sekar menunjuk sebuah lemari kayu yang menghadap meja guru.

“Pantesan.”

Sekar tiba-tiba berbalik dan pergi meninggalkan kelas. Adinath segera menyusul, tapi saat melewati pintu kelas sudah tidak ada jejaknya sedikit pun membuat Adinath semakin bingung karena Sekar menghilang begitu saja dengan cepat.

Terlihat Thana dari arah lapangan dengan teman-teman yang lain kembali menuju kelas. Bel waktu tanda istirahat sudah habis berbunyi. Semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Mengisi waktu kosong menunggu kedatangan guru dengan memotong kecil-kecil penghapus, suit Jepang dengan imbas pukulan bagi yang kalah, dan ada juga yang berkumpul membicarakan banyak hal tentang permainan yang akan dilakukan pulang sekolah.

Tidak lama kemudian masuk seorang perempuan dengan seragam yang terlihat lusuh ke ruangan kelas Adinath. Wajahnya terlihat teduh dan percaya diri dengan senyum duchenne, senyuman terindah juga paling baik karena melibatkan otot di sekitar mata.

“Anak-anak mohon duduk di kursi masing-masing,” tegur guru perempuan itu.

Adinath langsung diam setelah mendengarnya dan menyuruh Thana untuk diam juga.

“Anak-anak mohon diam! Sekarang kalian berdiri cepat!” Guru itu berteriak dengan lantang membuat Adinath langsung berdiri.

“Kamu ngapain?” tanya Thana keheranan.

“Ki—Kita kan disuruh berdiri sama guru di depan,” jawab Adinath dengan suara pelan.

“Lah, tapi kan belum ada guru ke kelas.”

Adinath menelan ludah. Kembali menatap guru yang ternyata kini wajahnya tidak lagi teduh, tapi hancur lebur tidak utuh.

 

#ceritamisteri 

#setahunrimis