Perempuan Cantik di Jembatan Turi

Ilustrasi/photo/pixabay


Malam mulai turun menghamparkan gelap,  suasana lengang terasa mencekam kala hujan rintik mulai turun.  Seorang laki-laki pemilik warung kopi merapatkan sarung yang dikenalkan,  tubuhnya tenggelam dalam balutan kain kotak-kotak yang warnanya sudah pudar. 

"Assalamualaikum," sapa seseorang di pintu warung.  Suyono,  warga Dusun Ngagrok, Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, itu menoleh.

"Waalaikumussalam," jawab Suyono. Laki-laki yang kesehariannya berjualan kopi, rokok, gorengan, dan minuman di sekitar Jembatan Turi itu menatap tamunya dengan curiga.  

"Maaf,  Pak,  apa bisa saya pesan kopi?" tanya seorang laki-laki berjaket kulit, lalu duduk di bangku yang terbuat dari bambu. 

"Oh,  monggo!  Mau pesan kopi apa,  Mas?" Suyono berujar gugup, menghalau rasa curiga yang mengusik.

"Apa saja,  yang penting hangat,  Pak." jawab laki-laki itu lagi, tangannya mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya 
.
"Mas ini dari mana?  Kok malam-malam di sini?" tanya Suyono heran. 

"Saya dari Wringinanom, Pak." Laki-laki itu mengisap rokoknya kuat-kuat lalu mengepulkan asapnya hingga membuat bulatan-bulatan di udara yang dingin. 

"Oya,  saya Katno.  Kebetulan saya mau pulang ke Sidoarjo. Bapak udah lama jualan di sini?"  Laki-laki yang mengaku bernama Katno itu mengambil sebuah pisang goreng yang tak lagi hangat,  tapi udara malam yang dingin membuatnya tak peduli asal ada sesuatu yang bisa mengganjal perut laparnya. 

"Ooo, saya sudah puluhan tahun tinggal di sini, Mas,  dari sejak jembatan ini dibangun tahun 1997, jaman sebelum Pak Harto lengser,  Mas." Laki-laki bernama Suyono itu menyodorkan kopi hitam dengan asap mengepul, aroma khas kopi yang diseduh berdesakan keluar menggoda indra penciuman penikmatnya.

"Gitu ya,  Pak," Katno mengangguk-angguk, tangannya sibuk mengaduk-aduk kopi di hadapannya.

"Ada apa toh, Mas?" Suyono menatapnya dengan pandangan menyelidik. 

"Eh,  nggak apa-apa, kok." Katno berkilah sambil menyesap kopinya yang masih mengepul, "Apa nggak ada jalan lain kalo mau ke Sidoarjo, Pak?"

"Ada,  Mas, tapi jauh dan harus muter desa,  jalannya nggak enak banyak yang rusak.  Makanya dibangun jembatan ini sebagai jalur alternatif, rata-rata yang lewat sini ya pekerja pabrik yang domisilinya di Mojokerto, kerjanya di Sidoarjo atau Surabaya," kata Suyono. Sambil membawa kopi dalam mug aluminium dia duduk di hadapan Katno. 

"Dulu jembatan ini masih sepi, awalnya cuma saya yang jualan disini, sudah 15 tahun saya buka warung, tapi sekarang sudah rame siang malam banyak yang lalu lalang dan sudah banyak warung lain,” lanjutnya.

"Apa nggak ada penampakan hal-hal aneh gitu. Pak?" tanya Katno ingin tahu. 

"Ooo, kalo itu ya ada. Banyak penghuni sosok makhluk halus yang berada di Jembatan Turi ini, Mas.  Sering warga sini dihantui mulai sosok perempuan cantik sampai sosok genderuwo," papar Suyono, "Kenapa?  Apa Masnya ditampaki juga?"

"Eh,  Iya,  Pak,"  ujar Katno tersipu. 

"Apa,  Mas?"

"Perempuan cantik berambut panjang berdiri di pinggiran jembatan,” jawab Katno tersipu. 

"Ooo, kalo itu nggak ngganggu, Mas.  Dulu itu malah pernah ada tetangga yang diberi uang sama sosok perempuan cantik berambut panjang pas tetangga saya itu sedang mencari sayur di ladang dekat jembatan." 

"Kok bisa gitu,  Pak?" Katno mulai penasaran. 

"Jadi ceritanya mbak Mikah, tetangga saya itu saat mencari sayur siang-siang disuruh ambil dompet warna kuning di bawah tiang jembatan oleh perempuan itu, lalu mbak Mikah menjawab kalau posisinya jauh dan tidak bisa dijangkau, trus mbak Mikah diberi kayu panjang untuk ambil tas itu. Pas dibuka tas itu isinya uang, mbak Mikah kaget lalu menoleh kebelakang, ternyata  perempuan itu sudah tidak ada,” papar Suyono.

"Wah,  luar biasa juga sosok hantu itu," ujar Katno,  "saya jadi penasaran."

"Hati-hati lho,  Mas.  Hantunya cantik," ujar Suyono terkekeh.

Malam makin merangkak naik, Katno pun berpamitan pulang setelah membayar secangkir kopi dan tiga buah pisang goreng dengan lembaran berwarna biru.

*

Tak jauh dari warung Suyono, seorang laki-laki dengan memakai ikat kepala ala Jawa, duduk bersila dengan konsentrasi penuh.  Rasa penasaran tentang sosok perempuan cantik berambut panjang yang konon sering menampakkan diri itu,  membuat Katno membatalkan niatnya pulang. Laki-laki yang berprofesi sebagai jurnalis itu menelepon temannya yang memiliki kemampuan bisa berkomunikasi dengan bangsa jin. 

Sesaat kemudian tubuh Dani bergetar,  laki-laki bertubuh kurus yang juga keturunan seorang Kyai di daerah Pacet, Mojokerto itu rupanya telah berhasil mendatangkan sosok gaib perempuan cantik berambut panjang tersebut.  Dengan gerakan yang cepat, Dani memasukkan sosok gaib perempuan itu ke dalam tubuh Katno sebagai mediumisasi. 

"Assalamualaikum." Beberapa kali Dani mengucap salam, tapi sosok gaib itu tidak menjawab. Dani paham artinya sosok gaib itu bukan dari golongan jin Muslim.

"Sugeng ndalu." Dani pun menyapa dalam bahasa Jawa,  mengucap selamat malam dan meminta maaf,  dia mengutarakan maksudnya memanggil sosok perempuan gaib tersebut.  Dani bertanya mengapa perempuan yang terlihat cantik untuk ukuran bangsa jin itu sering menampakkan diri pada malam hari.

Dengan gayanya yang kemayu dan  suaranya yang lembut,  sosok perempuan penunggu Jembatan Turi itu bertutur bahwa dia tidak berniat mengganggu pengendara yang lewat.  Dia menampakkan diri hanya ingin menunjukkan kecantikannya. 

Mendengar penuturan jin yang mengaku bernama Lastri itu,  dia sedang menunggu pacarnya yang dia sebut sebagai Genderuwo dan bersiap untuk kencan. Namun,  sifat usil yang mendominasi membuatnya ingin menampakkan diri,  menunjukkan kecantikannya pada bangsa manusia. 

Lalu bagaimana dengan penampakan sosok yang lain yang juga sering membuat kaget para pengendara yang melintas di jembatan tersebut di malam Hari. Dani mencoba mengorek keterangan dari perempuan berambut panjang itu. 

Lastri menjelaskan bahwa makhluk dari bangsanya marah karena bangsa manusia sering kali buang air kecil atau pipis di Jembatan. Hal itu sangat menganggu karena cipratan air kencing tersebut mengenai tempat tinggal mereka,  di bawah pohon Jati yang ada di sekitar Jembatan. 

Dani mengangguk paham, dia mencoba membuat kesepakatan, akan berusaha melarang para pengendara yang melintas untuk tidak kencing di sekitar Jembatan. Namun,  bangsa mereka juga harus berjanji untuk tidak menampakkan diri lagi, karena hal itu akan membuat pengendara terkejut dan mengakibatkan kecelakaan. 
.
Setelah kesepakatan terjadi,  Lastri yang sedikit genit menggoda Dani,  apakah dia boleh ikut pulang bersamanya.  Laki-laki yang masih berusia dua puluh dua tahun itu sontak terkejut, tapi tetap berusaha menjaga perasaan Lastri,  karena dia tahu bangsa jin semacam Lastri bisa menjadi sangat sensitive jika jatuh cinta pada manusia. 

"Bukan aku nggak mau ngajak kamu,  tapi kalau kamu ikut sama aku,  pacarmu akan mengejar aku,  nanti banyak orang yang ketakutan dan celaka," tolak Dani halus, "Sekarang aku akan mengantarmu pulang."

Dani memegang puncak kepala Katno,  merapal sebaris mantra dan Katno pun terbatuk-batuk bersamaan dengan keluarnya sosok perempuan berambut panjang dari raganya. 

Setelah agak tenang, Katno menghela napas panjang, "Jadi gimana,  Kang? Apakah misteri penampakan perempuan berambut panjang itu sudah terkuak?"

"Sosok perempuan itu tidak menganggu  dia hanya ingin keberadaannya diakui,  dia ingin eksis seperti kita juga," jawab Dani sedikit terkekeh.  Sayup suara orang mengaji terdengar dari mushala desa,  kedua laki-laki petualang itu beranjak meninggalkan Jembatan Turi,  tanpa mereka sadari di bawah pohon asem tak jauh dari jembatan,  sepasang mata merah menyala memandang dengan penuh kecemburuan pada Dani.

**

Sidoarjo, 26 Juni 2021
#ceritamisteri
#setahunrimis