Gambar Kematian

Picture taken from instagram milik dark picture

Desti berdiri diam memperhatikan Dara, anak perempuannya yang berusia lima tahun sedang menggambar sambil tiduran di depan televisi yang dibiarkan menyala. Sudah hampir jam sembilan malam, waktunya si kecil tidur. Namun, begitu melihat rona keseriusan di wajah putri kesayangannya, Desti mengurungkan niatnya untuk menyuruh Dara tidur.

Desti bersyukur, akhirnya bakat melukisnya menurun pada anaknya. Ya, Desti adalah seorang pelukis terkenal. Bahkan karya-karyanya sudah melenggang sampai manca-negara. Para pencinta seni lukis sangat mengagumi hasil goresan tangannya, meskipun bagi orang awam lukisannya terkesan Dark, sangat gelap dan mengerikan!

Perempuan dengan lesung pipi dan mata bulat itu memang suka melukis hal-hal mistis yang sangat mencekam, seperti keranda, prosesi kematian, mahluk gaib, atau kecelakaan. Menurutnya, selama proses melukis semuanya itu, dia merasakan kedamaian menyelimuti hatinya, seperti merasakan kehadiran Tuhan di dekatnya.

Sebenarnya Rendi, suaminya, yang berprofesi sebagai pilot tidak mendukung dan bahkan sering marah-marah setiap melihatnya sedang melukis. Menurut Rendi kebiasaannya melukis hal-hal mistis seperti itu, bisa membawa aura buruk masuk ke dalam rumah. Desti cuek saja mendengar pendapat suaminya itu. Tahu apa seorang pilot dengan dunia seni?

Melihat Dara berkali-kali memundurkan kepalanya, lalu menatap lama-lama gambarnya, Desti merasa seperti sedang melihat dirinya sendiri. Ya, begitu pulalah kelakuannya selama proses melukis, suka memundurkan badan, garuk-garuk kepala sambil menatap lukisannya, juga suka sekali menggigiti kuku tangannya kalau merasa masih ada yang kurang dari lukisannya.

Menurut rekan-rekannya seprofesinya, juga para kolektor lukisannya, mereka belum pernah menjumpai seorang pelukis yang sebegitu perfeksionisnya seperti dirinya. Biasanya seorang pelukis hanya akan melukis sekali jadi, tidak mengoreksi lagi secara mendetail hasil lukisannya.

Sebenarnya kemahiran Desti dalam melukis adalah hasil dari jerih payah bapaknya, yang sampai rela menjual ini itu hartanya, demi membiayainya kuliah di sebuah kampus seni. Desti anak tunggal dan sedari kecil punya keteguhan hati luar biasa kalau sudah mengambil satu pilihan. Ibunya meninggal pada saat kelahirannya. Itulah mengapa Pak Sarip selalu berusaha memenuhi semua permintaan Desti.

Ada satu keunikan atau bisa juga dikatakan keistimewaan di setiap lukisan karyanya, Desti selalu menyematkan nama bapaknya di belakang namanya sendiri. Desti sangat menghormati bapaknya, bahkan dia selalu berpesan pada Dara, kelak jangan pernah merasa lebih hebat dari orang tua, sesukses apapun posisinya. Ya, setenar apapun dia kini, tanpa perjuangan dan doa bapaknya tidaklah mungkin dia bisa mencapai kesuksesan luar biasa seperti yang sudah diraihnya.

Tak terasa sudah tiga puluh menit Desti menahan diri. Kini, sudah waktunya Dara istirahat.

“Sudah malam, sayang, sana bobok. Besok lanjutin gambarnya,” bisik lembut Desti di telinga anaknya.

“Iya, Bunda. Lagian udah jadi kok gambarnya,” jawab Dara sambil merapikan pensil warnanya.

“Eh, udah jadi ya. Coba tunjukkin ke Bunda, gambar apaan sih putri jelitaku, sayang.”

“E-enggak usah ah, Bun,” elak Dara. Seketika wajahnya jadi tegang, seperti tengah mengkawatirkan sesuatu.

“Emang kamu gambar apaan sih, sayang?”

“Bunda janji dulu ya, gak bakalan marahin Dara.” Si kecil mengacungkan jari kelingkingnya. Dengan menyunggingkan senyum, Desti mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Dara.

“Maaf ya, Bunda. Dara sayang banget Bunda.”

Deg!

Desti merasa ada kepedihan mendalam mendengar perkataan anaknya. Dia belum pernah mendengar Dara mengucapkan kata ‘sayang’ sesedih ini.

“Iya, sayang. Bunda juga sangat menyayangimu.”

Melihat Desti merentangkan tangannya, Dara langsung memeluk ibunya erat-erat. Cukup lama Desti menahan kecupannya di kening Dara.

“Udah seneng, udah tenang?”

“Iya, Bunda. Makasih ya, Bun,” jawab Dara sambil mengelap matanya yang basah. Rupanya gadis cilik itu menangis saat dipeluk ibundanya.

“Nah, sekarang coba tunjukkan ke Bunda, gambarmu.”

Duaaar!

Seperti terkena ledakan bom, mata Desti terbelalak melihat gambar yang dipamerkan Dara. Seketika dia kehilangan kontrol dirinya.

“Masuk kamar!” bentaknya. Dara berlari masuk ke dalam kamarnya.

Desti meremas-remas gambar di tangannya dengan gusar. Dia tidak pernah menyangka akan melihat gambar semengerikan itu, sebuah gambar yang melukiskan sebuah kecelakaan pesawat. Banyak mayat bergelimpangan di sekitar bodi pesawat yang terbelah menjadi tiga bagian. Batu-batu bercampur tanah hitam berceceran di sekitar lokasi. Sepertinya dalam imajinasinya Dara membayangkan pesawat itu jatuh lalu menabrak tebing sampai bodinya terbelah menjadi tiga bagian, mengakibatkan seluruh penumpangnya tewas.

Tentu saja gambar itu membuat Desti panik dan marah. Bisa-bisanya Dara menggambar pemandangan seseram itu, padahal bapaknya pilot. Desti takut kalau-kalau gambar milik anaknya itu bakalan menjadi pertanda buruk.

Belum berhasil menenangkan diri, tiba-tiba televisi menayangkan news flash. Sebuah pesawat mengalami mati mesin, lalu jatuh menabrak tebing, mengakibatkan semua penumpangnya yang berjumlah 113 orang, termasuk sang pilot, tewas. Pilot? tiba-tiba perasaan tak enak menyergapnya. Desti takut ada hal buruk yang menimpa suaminya.

Desti langsung berlari memeriksa kamar Dara. Tiba-tiba matanya nanar begitu melihat anak itu masih duduk menahan tangis, di samping suaminya yang sudah tertidur lelap.

“Bun-Bunda kan sudah janji gak bakalan marah. Kenapa Bunda marah? Dara sayang Bunda ….”

Desti mendekap anaknya erat-erat.

“Iya, maafkan Bunda ya, sayang. Maaf, tadi bunda takut ada apa-apa sama Ayah. Maafin Bunda ….”

“Ayah? kok jadi Ayah si Bun?”

Pertanyaan Dara menyentak kesadaran Desti. Dia melihat kembali gambar Dara yang masih digenggamnya. Matanya perih, seperih hatinya ketika membaca satu nama di antara mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar bodi pesawat dalam gambar itu … Bunda Sayang.

Ingatan Desti seketika kembali pada saat-saat genting di dalam pesawat yang ditumpanginya dalam rangka membuka pameran pribadi di Jepang, yang tiba-tiba saja mengalami mati mesin dan dengan cepat jatuh. Pada detik terakhir sebelum pesawat itu menabrak tebing, Desti meneriakkan nama anaknya.

 

Cilacap 28 Juni 2021

 

#ceritamisteri

#setahunrimis