Ghost is Typing

Ilustrasi

Berita orang hilang tersebar di media sosial dan grup whatsapp. Gadis cantik, penampilan modis serta merupakan mahasiswi fakultas Sains dan Teknologi semester 4, dikabarkan tidak pulang tiga hari. 

 

Kania hilang? 

Cewek cantik dan jenius di antara teman seangkatan itu. Pantes aja dari kemarin nggak bisa dihubungi, padahal tugas kuliah lagi banyak banget. Biasanya dia adalah pertolongan terakhir ketika otak udah mampet, nggak bisa mikir lagi. Silvi menggelayut lesu di meja belajarnya seraya memainkan ratusan lembar buku tebal. Sinyal operator juga sedang buruk untuk berselancar di internet. Silvi nyaris terkapar karena kaget. Sambungan internet layar 10 inchi itu lagi-lagi terputus, namun bukan gambar Dino monocrome yang muncul melainkan gambar aneh dan menyeramkan.

 

"Busyet!  kurang kerjaan amat ini  google, pakai gambar beginian!" rutuknya gemetaran sambil menutup jendela browser.

 

Ini minggu pertama keluarganya pindah ke rumah ini. Selama itu pula jaringan internet tak pernah benar-benar bagus. Teknisi dari perusahaan provider telah dihubungi, namun mereka hanya menjanjikan untuk membuat jadwal perbaikan. Huh!

 

Ponsel android 6 inchi miliknya berkedip menandakan ada pesan chat yang masuk. Dia langsung mengecek. Kania?

File-file jawaban tugas dikirimkan begitu saja tanpa pemberitahuan sebelumnya.

 

"Kania, loe di mana?" tanya Silvi melalui balasan chat. Cukup lama menunggu chat terkirim meski tak dibalas. Dibaca pun nggak. "Loe baik-baik aja kan?"

 

Nihil.

 

Silvi tak punya waktu memikirkan Kania. Dia secepatnya menyalin jawaban teman jeniusnya itu sebelum waktu pengumpulan tugas berakhir.

 

Selamet, selamet. Gumamnya.

 

***

 

Grup angkatan kuliah masih hangat memperbincangkan Kania. Anak itu benar-benar tidak memberikan tanda-tanda keberadaannya. Silvi merasa segan untuk mengakui, selama ini Kania mengirimkan file tugas mata kuliah. Sebab Kania tak memberi kabar apa pun dan membalas chatnya.

 

Saat sedang fokus mengetik, mendadak muncul pop up di layar. Ketika mengarahkan kursor dan membentangkan jendela baru, hanya muncul layar hitam. 

 

"Hai Silvi, apa kabar?"

 

Jantung Silvi mencelos. Dia melihat tulisan itu muncul tidak sekaligus, namun huruf demi huruf seperti diketik langsung di depannya.

 

"Silvi, tolongin aku."

 

Tulisan itu hilang, lalu muncul video seperti rekaman CCTV dengan kualitas piksel yang buruk, seperti direkam dengan kamera yang tidak stabil. Terus bergerak dengan kasar. Terdengar suara jeritan dalam video buruk itu. Kania?

 

Perlahan gambar bergerak seperti direkam dengan kamera sambil merangkak di rerumputan menuju sebuah benda. Saat semakin dekat dengan sesuatu itu, Silvi terperanjat oleh suara pintu terbuka dengan keras. Sontak dia menjerit sambil membalikkan badan.

 

"Silvi, ngapain sih dipanggil-panggil nggak nyahut? Kebiasaan deh." Mamanya terlihat kesal, berdiri di depan pintu, "Ayo makan dulu!"

 

"Iya Mah, sebentar lagi." 

 

Saat menoleh kembali ke laptop, video itu sudah hilang secara misterius. Silvi tidak mendapatkan petunjuk, aplikasi apa yang memuat video seram barusan. Lagi pula, jaringan sedang buruk buat memutar video secara online.

 

 

***

 

Tiga hari sudah Arul mengantar jemput Silvi. Setiap melintas di lahan kosong itu, Arul menjadi pendiam dan melajukan motornya lebih cepat. Masa sih dia sepenakut itu?

 

Namun Silvi teringat satu hal. Tempat itu  seperti familiar.  Silvi ingat dengan video misterius beberapa hari yang lalu.

 

"Rul, berhenti dulu sebentar." Silvi menepuk-nepuk pundak cowok itu.

 

"Jangan lah, Vi. Nanti aja di depan." Arul malah ngebut. Setelah sampai di pemukiman, Arul baru berhenti, "Mau ngapain sih?"

 

"Udah lewat, Rul. Percuma."

 

"Mau ngapain sih? Memangnya aku cowok apaan berhentiin kamu di tempat sepi kayak gitu."

 

"Bukan gitu, aku ... ," Silvi urung bercerita. Mungkin saja Arul juga tak akan percaya, "ya udah, ayo jalan."

 

***

 

Silvi terbangun mendengar suara notifikasi yang beruntun di gawai yang tergeletak di samping bantalnya. Pasti sedang ada pembahasan serius. Benar saja, grup almamater sedang heboh membicarakan Kania. Silvi membaca chat mereka satu per satu hingga dapat menarik informasi bahwa mahasiswi tercerdas itu telah ditemukan dalam keadaan  .... 

 

Kania ditemukan oleh petugas teknisi dari provider internet yang akan memperbaiki jaringan. Mayatnya yang hampir membusuk tergeletak di semak-semak  bawah menara BTS.

 

Silvi semakin lemas mengetahui fakta berikutnya bahwa Arul ditangkap polisi dan statusnya adalah tersangka. Hati dan otak Silvi sedang terlalu ruwet memikirkannya. Bagaimana bisa Arul membunuh Kania dan ada masalah apa antara kekasih dan teman baiknya itu?

 

Saat itu pula pintu kamarnya diketuk dari luar. Silvi bangkit dan membuka pintu. Terlihat papa dan mamanya yang tampak syok. Tiga polisi melihatnya dengan wajah tegas.

 

 

 

 

 

*note:

BTS = Base Transceiver Station (Stasiun Pemancar)

 

#ceritamisteri

#setahunrimis