Pinangan di Chai Wan Park

Chaiwan Park littlemonkeyhongkong.com

‘’ Mas Helmi,” Ratih memanggil manja sambil meletakkan kepalanya di dada Helmi.

“Ada apa sayang?” tanya Helmi sambil memeluk erat-erat kekasihnya.

Kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu duduk di rerumputan di tepi danau. Bercerita dan saling memadu kasih. Keduanya akan segera menikah minggu depan. Tempat resepsi dan pesta juga sudah siap. Dunia seakan milik mereka berdua.

“Ada sebuah rahasia yang akan kuceritakan kepadamu, tapi Mas harus berjanji tetap mencintaiku setelah mendengar kisah ini,”

“Baiklah Ratih, Apa pun rahasia yang terjadi di masa lalu kamu, cintaku padamu tidak akan berubah, kita akan tetap menikah bulan depan sesuai rencana."

Tiga tahun yang lalu.

Ratih baru saja selesai berkumpul dengan teman-teman sesama BMI (Buruh Migran Indonesia) di kawasan Victoria Park di Hong Kong Island. Mereka merayakan perpisahan karena beberapa hari lagi Ratih akan pulang ke Indonesia karena kontrak kerjanya sudah selesai. Hari sudah menjelang senja dan langit kota Hong Kong sedikit mendung ketika dengan santai dia berjalan keluar taman lalu menyusuri Gloucester Road yang lumayan ramai.

Ratih terus berjalan, langkah kakinya perlahan namun mantap. Ketika mendekati sebuah air mancur kecil di sudut taman, dia menyeberang jalan dan kemudian melewati Great George Street menuju ke Stasiun MTR Causeway Bay. Suasana sore itu sangat ramai. Namun Ratih merasa ada sesuatu yang aneh. Seakan-akan ada seseorang yang mengikutinya sejak dari Victoria Park tadi.

Penasaran, Ratih berhenti sejenak sambil pura-pura melihat-lihat barang-barang yang dipajang di jendela pertokoan, Ratih melihat ke belakang. Tidak ada siapa-siapa yang mencurigakan dan hanya orang ramai yang lalu lalang. Sangat susah menentukan apakah ada yang mengikuti atau tidak di keramaian seperti ini. Apa lagi di Causeway Bay yang tidak pernah sepi.

Walau sedikit khawatir, Ratih menenangkan diri dan melanjutkan perjalanan, 100 meter lagi dia akan sampai ke salah satu pintu masuk stasiun. Ratih terus berjalan tanpa berani menoleh ke belakang. Namun perasaan bahwa ada yang mengikuti tidak juga hilang. Perasaan itu terus menghantui bahkan ketika Ratih menuruni beberapa tingkat eskalator menuju peron Island Line yang menuju ke Chai Wan.

Ketika menunggu kereta, barulah Ratih bisa menduga sosok yang mengikutinya. Seorang lelaki berjaket warna hitam. Melihat perawakannya usianya sekitar 27 sampai 30 tahun, dan kemungkinan besar orang Filipina atau mungkin juga Indonesia. Ratih merasa lebih tenang, karena mungkin saja lelaki ini kebetulan satu arah dengannya.

Kereta datang dan Ratih serta lelaki tadi masuk ke dalam gerbong yang lumayan ramai. Ratih dan lelaki itu tidak dapat tempat duduk dan harus berdiri ketika kereta bergerak meninggal stasiun Causeway Bay menuju ke arah timur.

Stasiun Tin Hau, Fortress Hill dan North Point sudah dilewati. Sesampainya di Quarry Bay gerbong sudah mulai agak kosong karena banyak penumpang yang pindah ke Tseung Kwan O line menuju ke East Kow Loon. Ratih dapat tempat duduk. Dan ketika dia menoleh, pemuda berjaket hitam itu juga ada duduk tepat di seberang Ratih. Rasa khawatir Ratih makin menjadi walau dia masih mencoba menghibur bahwa mungkin saja tujuan mereka kebetulan satu arah.

Sesekali Ratih mencuri pandang ke pemuda itu, wajahnya lumayan ganteng dengan kumis tipis dan berewok sedikit lebat. Namun ketika pandangan mereka sempat beradu, Ratih menundukkan pandangan sedikit malu. Rasa penasaran, takut dan ingin tahu kian membuncah di hatinya.

Stasiun Tai Koo, Sai Wan Ho, dan Shau Ke Wan sudah dilewati, penumpang kian sedikit dan tinggal dua stasiun lagi Ratih akan sampai di stasiun penghabisan yaitu Chai Wan. Pemuda itu masih setia menemani di kursi di hadapannya. Ketika kereta berhenti di Heng Fa Chuan, pemuda itu berdiri, Ratih merasa lega mengira pemuda itu akan turun. Tetapi sampai pintu ditutup dan kereta bergerak menuju Chai Wan, pemuda itu tidak turun dan bahkan kembali duduk. Kali ini di samping Ratih.

“Mbak pulang ke mana?"

“Tidak jauh dari stasiun, sekitar 10 menit jalan kaki, “ jawab Ratih dengan sedikit enggan. Rasa kaget bercampur takut dan senang berkecamuk dalam dada.

Ketika kereta tiba di stasiun terakhir keduanya turun. Berjalan beriringan dan mampir di Chai Wan Park. Keduanya berkenalan dan pembicaraan selanjutnya dalam Bahasa Jawa.

Pemuda itu mengaku bernama Santo, seorang pelaut yang bekerja di kapal pesiar dan sedang dalam masa cuti. Dua hari lagi dia terbang ke tanah air dari Hong Kong dengan pesawat Cathay Pacific CX781 ke Surabaya. Santo bercerita bahwa dia berasal dari Gresik dan sudah hampir 8 tahun bekerja sebagai pelaut.

‘Kebetulan sekali, Aku juga akan pulang ke Indonesia dan naik CX781 ke Surabaya,” tambah Ratih. Ternyata banyak sekali kebetulan yang membuat Ratih dan Santo lekas akrab walau perkenalan mereka diawali dengan rasa curiga dan waswas.

Singkat kata sore hingga malam itu Ratih dan Santo melanjutkan kencan. Banyak sekali janji dan komitmen yang mereka ucapkan walau perkenalan mereka baru begitu singkat. Bahkan Santo berjanji akan melamar Ratih ketika mereka bersama pulang nanti.

Dua hari kemudian, Ratih meninggalkan pekerjaannya sebagai Buruh Migran Indonesia di Hong Kong setelah lebih 5 tahun bekerja. Dia bertekad pulang ke kampung halaman di sebuah kota kecil di Jawa Timur dan memulai usaha dengan modal dari tabungannya.

Namun, Santo yang ditunggu tidak pernah muncul di bandara Chep Lap Kok. Bahkan dalam penerbangan pesawat Airbus 330 itu, Ratih sudah keliling di dalam kabin dan tidak berjumpa dengan Santo.

“Demikian rahasia diriku Mas Helmi, sampai aku bertemu denganmu dan kita memutuskan untuk menikah,” Ratih mengakhiri kisahnya dan air mata tampak berlinang di kedua belah pipinya.

“Kalau hanya itu rahasiamu, mungkin Santo itu hanya pemuda iseng yang juga pembohong,” Helmi berkomentar sambil memeluk Ratih lebih erat.

“Kisah lanjutannya ini yang membuat saya takut Mas akan marah kepadaku,”

Ratih kemudian melanjutkan kisahnya.

Malam itu, Santo bukan hanya berjanji akan melamar Ratih. Dia juga berjanji akan memberikan mas kawin dalam bentuk uang tunai sejumlah Rp 99 juta yang akan diangsur sebanyak tiga kali ke rekening Ratih. Ketika mas kawin ini lunas, maka Ratih harus bersedia menikah dengan Santo.

Dua atau tiga bulan setelahnya, secara tidak sengaja Ratih mendengar berita lebih lengkap tentang Santo. Dia tidak muncul dalam penerbangan ke Surabaya karena taksi yang ditumpangi mengalami kecelakaan di Tsing Ma Bridge. Santo dan sopir taksi meninggal dalam kecelakaan itu.

Ratih tidak dapat menahan air matanya ketika menceritakan bagian ini. Helmi kembali menghiburnya.

“Lupakan Santo, sekarang ada aku yang akan selalu melindungimu,” hibur Helmi.

“Tetapi sekarang aku takut, Mas”

“Mengapa? Santo sudah tenang di alam sana.”

“Dalam seminggu terakhir ini aku menerima transfer uang di rekening. Tiga kali transfer sebesar Rp 22 juta, Rp 33 juta dan Rp 44 juta. Transfer itu melalui internet banking dengan catatan untuk mas kawin dan biaya pernikahan, dan pengirimnya Mas Santo.”

Helmi terdiam dan Ratih terus menangis.

***************************************

Bekasi, Juni 2021

#ceritamisteri

#setahunrimis