Korban Pesugihan

Foto: Sumber dari Google

Lily pulang ke rumah dengan langkah gontai. Untuk kesekian kali, dia dipermalukan oleh Molli, Amel, dan Dara, teman-teman satu kelasnya. Kali ini, kelakuan mereka sudah sangat keterlaluan. Lily tak mampu melawan karena orang tua mereka sangat berkuasa.

Semua terjadi karena Lily terlahir dari keluarga tak punya. Mereka merasa puas jika menghina dan berbuat jail terhadap Lily. Hampir setiap hari, ada saja cara yang dilakukan teman-temannya itu untuk mem-bully.

Pak Hendra, ayah Lily hanya seorang buruh bangunan, sedangkan Mutia, ibunya hanya seorang buruh cuci. Lily tidak memiliki saudara. Gadis itu adalah putri satu-satunya yang dimiliki oleh Pak Hendra dan Bu Mutia. Meskipun anak tunggal, Lily bukanlah anak yang manja. Dia termasuk anak yang mandiri.

Lily sering menitipkan kue buatannya di kantin sekolah. Hasil yang didapatkan dari berjualan kue, Lily simpan untuk kebutuhan tak terduga. Gadis itu jarang sekali mengeluh. Sebisa mungkin, dia menyimpan kesedihannya.

Akan tetapi, kali ini Lily tak dapat menyembunyikan luka hatinya. Sepulang sekolah, dia menangis sembari membawa kantong plastik berisi kue-kue yang telah hancur.

"Ada apa, Nak? Mengapa kamu menangis?" tanya Bu Mutia dengan nada khawatir.

Lily tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dia langsung masuk ke kamar meluapkan semua kesedihannya. Bu Mutia mengikuti Lily hingga ke kamar.

"Nak, ceritakan kepada Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" Bu Mutia bertanya lagi sembari mengelus rambut putrinya.

"Bu, me-mengapa orang susah seperti kita selalu dihina? A-apa kita tidak pantas hidup berdampingan dengan mereka yang kaya?" Dengan sesenggukan, Lily balik bertanya.

Bu Mutia terdiam. Mata beliau pun mulai berkaca-kaca. Namun, dia mencoba untuk menguatkan hati putrinya itu.

"Sudahlah, Nak. Jangan diambil hati hinaan dari teman-temanmu. Ibu, kan, sudah bilang, kamu harus kuat jika ingin bersekolah di sana," ucap Bu Mutia, lembut.

Dulu, Bu Mutia memang merasa keberatan ketika mengetahui Lily mendaftar ke sekolah yang dipilih putrinya itu. Banyak anak-anak dari kalangan berduit yang mendaftar ke sana. Meskipun mendapatkan keringanan biaya, Bu Mutia tetap kurang setuju. Namun, Lily tetap bertekad. Dia terus menyakinkan ibunya. Sementara itu, Pak Hendra selalu mendukung keputusan putrinya itu.

Lily berhasil diterima di SMA favorit tersebut. Karena kecerdasannya, dia sering menerima beasiswa sehingga kedua orang tuanya tidak mengeluarkan banyak biaya. Pak Hendra rela bekerja keras demi membiayai pendidikan putrinya itu.

"Siapa lagi yang telah menghinamu?!" Suara Pak Hendra mengejutkan istri dan putrinya.

"Eh, Ayah sudah pulang. Ibu siapkan teh hangat untuk ayahmu dulu, ya, Nak," ujar Bu Mutia kepada Lily.

Lily hanya mengangguk. Dia masih sesenggukan. Pak Hendra duduk di samping putri kesayangannya itu.

"Ayo, katakan kepada Ayah. Masih orang-orang yang sama?" Pak Hendra kembali bertanya.

"I-iya, Yah," ucap Lily terbata-bata.

Pak Hendra mengepalkan kedua tangannya. Hati beliau terasa sakit saat melihat air mata putrinya. Beliau merasa sangat bersalah karena tidak dapat membahagiakan anak dan istrinya. Pria itu bertekad akan mencari uang lebih giat lagi.

"Sudahlah, Nak. Mandi sana, setelah itu kita makan dan salat berjemaah," perintah Pak Marta.

"Baiklah, Yah," ucap Lily sembari bangkit dari tempat tidurnya.

***

"Bu, besok Ayah mau berangkat ke kota. Kebetulan ada teman yang membutuhkan tenaga Ayah di sana. Gajinya gede, Bu," ucap Pak Hendra saat sedang duduk santai di teras rumah.

"Tapi, Yah ...." Bu Mutia tak melanjutkan kata-katanya.

"Tapi apa? Ibu jangan khawatir. Ayah bisa jaga diri. Ini semua demi kamu dan anak kita. Ayah tak mau Lily dihina terus-menerus. Ayah sakit hati mendengarnya, Bu," jelas Pak Hendra dengan nada kesal.

Bu Mutia tak bisa berbuat apa-apa. Jika suaminya sudah berkehendak, siapa pun tak bisa menghalangi. Akhirnya, Bu Mutia menyetujui keputusan suaminya.

"Jaga putri kita dengan baik, Bu. Hibur dia jika  kembali dihina oleh teman-temannya dan jangan tinggalkan salat," pesan Pak Hendra kepada istrinya.

"Lily bisa jaga diri, Yah," ucap Lily sembari membawa pisang goreng dan teh manis untuk ayah dan ibunya.

Sepasang suami istri itu terkejut melihat kedatangan Lily yang tiba-tiba. Namun, akhirnya Pak Hendra merasa lega mendengar ucapan putrinya. Beliau memberikan banyak nasihat kepada Lily agar putrinya itu kuat menghadapi hinaan teman-teman sekolahnya.

***

Dua bulan kemudian, Pak Hendra kembali ke rumah. Beliau membawa uang yang cukup banyak. Bu Mutia sangat terkejut menerima uang tersebut. Seumur-umur, baru kali ini dia melihat uang sebanyak itu.

"Yah, Ibu tidak bermimpi, 'kan?" tanya Bu Mutia tak percaya.

"Tidak, Bu. Ini semua hasil kerja Ayah selama di kota," jawab Pak Hendra sembari tersenyum.

"Assalamualaikum, Ayah sudah pulang?" Tiba-tiba Lily menghampiri kedua orang tuanya.

"Waalaikumussalam. Kamu dari mana saja, Nak. Kok, baru pulang jam segini?" tanya Bu Mutia.

"Lily dari melayat, Bu. Ayah Molli meninggal semalam," jawab Lily.

"Ngapain kamu ikut melayat, Nak? Bukankah dia termasuk teman-teman yang suka menghinamu?" celetuk Pak Hendra kesal.

"Kok, Ayah ngomong begitu? Ayah lupa dengan ucapannya waktu itu? Meskipun mereka jahat, kita harus tetap baik," jelas Lily yang terkejut mendengar perkataan ayahnya.

Pak Hendra hanya terdiam, lalu beliau pergi meninggalkan ruangan tersebut.

***

Sejak Pak Hendra kerja di kota, perekonomian keluarga itu makin membaik. Rumah yang dulunya kecil dan sederhana, kini berubah menjadi besar dan cukup mewah. Bu Mutia pun tidak lagi bekerja sebagai buruh cuci. Kini, beliau menikmati hasil kerja suaminya. Begitu juga Lily, dia tak lagi berjualan kue.

Sekarang, Lily tidak dipandang sebelah mata lagi oleh teman-temannya. Dia tidak lagi jadi bahan bully-an. Namun, Lily tetap seperti yang dulu. Dia tetap baik dan tidak sombong.

Akan tetapi, kekayaan yang didapatkan ayah Lily berbanding terbalik dengan yang dirasakan Molli, teman sekelas gadis itu. Sejak ayahnya meninggal, keluarga Molly jatuh miskin. Perusahaan ayah Molli bangkrut dan utang di mana-mana. Belum genap empat puluh hari, ibu Molli menyusul kepergian sang suami. Hidup Molli benar-benar hancur.

Selain Molli, baru-baru ini Dara juga kehilangan kedua orang tuanya. Mereka meninggal karena kecelakaan. Anehnya, tak lama dari musibah itu, Pak Hendra kembali ke rumahnya dengan membawa uang yang banyak. Bu Mutia menyimpan uang itu ke pundi-pundi penyimpanan yang mereka miliki.

***

Sebenarnya, rumah Pak Hendra yang mewah, terlihat mengerikan pada malam hari. Apalagi saat beliau ada di rumah. Di dalam rumah itu, terdapat satu kamar khusus yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun. Bahkan, oleh istrinya sendiri. Bu Mutia tak mempermasalahkan hal itu karena menurutnya, kamar itu merupakan ruang kerja suaminya.

"Bu, Ibu merasa aneh nggak? Perasaan setiap Ayah pulang, terdengar suara-suara burung yang aneh gitu, deh, Bu," ucap Lily yang malam itu tidur bersama ibunya.

"Sttt, jangan berisik, nanti ayahmu dengar. Sebaiknya, kita tidur sekarang. Besok kamu mau sekolah, 'kan?" bisik Bu Mutia.

Lily hanya mengangguk, lalu dia membalikkan badannya. Sebenarnya, setiap ayahnya pulang, Lily sering ketakutan. Bukan takut terhadap ayahnya, tetapi takut dengan suasana rumah yang mencekam. Karena hal itulah, dia sering tidur bersama ibunya. Kebetulan, sang ayah sibuk di dalam kamar khusus itu sampai pagi.

Lily sering mendengar suara-suara aneh. Kadang, dia merasakan tubuh dan tengkuknya tiba-tiba terasa dingin dan merinding. Lily memang tak bisa melihat makhluk gaib, tetapi dia bisa merasakan kehadirannya. Gadis itu pun mulai curiga dengan kelakuan ayahnya. Akhir-akhir ini, ayahnya makin sering menghabiskan waktu di dalam kamar khusus itu.

Keesokannya, setelah sarapan bersama, Lily mulai mempertanyakan perihal pekerjaan ayahnya. Namun, Pak Hendra merasa tidak suka karena putrinya itu mulai ikut campur.

"Banyak yang Ayah kerjakan. Kamu tidak perlu tahu. Yang penting nasib kita sudah jauh berubah!" bentak Pak Hendra.

Lily terkejut melihat perubahan sikap ayahnya. Baru kali ini, Pak Hendra bersikap kasar. Karena kecewa, Lily berlari masuk ke kamar.

"Mengapa Ayah jadi kasar begitu? Lily, kan, hanya bertanya," ujar Bu Mutia, heran.

"Kalian berdua jangan ikut campur dalam urusan pekerjaanku, ingat itu!" seru Pak Hendra sembari meninggalkan ruang makan.

Malam itu tepat pukul dua belas malam, Lily melangkah dengan hati-hati menuju kamar itu. Karena rasa penasaran, dia memberanikan diri untuk mengintip dari lobang pintu. Suasana di dalam kamar begitu gelap. Gadis itu tak bisa melihat apa pun. Tiba-tiba, dia mendengar kaki yang diseret. Lily buru-buru mencari tempat untuk bersembunyi.

Pak Hendra ke luar dari kamar itu dengan wajah pucat. Lily merasa heran melihat kondisi ayahnya. Gadis itu memperhatikan gerak-gerik ayahnya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dia melihat ayahnya meletakkan kunci dalam sebuah guci antik. Lily berinsiatif untuk memeriksa kamar khusus itu jika ayahnya sudah berangkat ke kota.

Pagi itu Lily akan berangkat ke sekolah seperti biasanya. Sebelum dia berangkat, Pak Hendra meminta maaf kepada putrinya itu.

"Maafin sikap Ayah kemarin, ya. Ayah tidak bermaksud demikian. Kamu harus rajin belajar, Nak. Sekolah sampai sarjana. Buatlah ayah dan ibumu ini bangga," ucap Pak Hendra sembari memeluk putrinya.

"Tidak apa-apa, Yah. Lily yang seharusnya minta maaf, sudah mencampuri urusan pekerjaan Ayah," balas Lily.

Setelah cukup lama memeluk putrinya, Pak Hendra pun bersiap-siap untuk berangkat ke kota. Sementara itu, Lily pamit pergi ke sekolah.

Sepulang sekolah, Lily segera mandi, salat, dan makan. Kemudian, dengan sabar dia menunggu ibunya bersiap pergi ke pengajian. Hari ini gadis itu akan menjalankan rencananya. Dia tak akan menunda-nunda kesempatan baik ini.

"Ibu berangkat ke masjid dulu, ya, Nak. Kunci rumah dan jangan terima tamu, kecuali keluarga," pesan Bu Mutia kepada putrinya.

"Iya, Bu. Lily mau tidur siang, kok," ucap Lily.

Bu Mutia pun berangkat ke masjid. Setelah ibunya pergi, Lily segera mengunci pintu dan melangkah menuju kamar khusus milik ayahnya. Terlebih dahulu, dia mengambil kunci yang terletak di dalam guci. Kemudian, pintu kamar itu dibukanya. Karena sangat gelap tanpa cahaya lampu, dia mengambil senter untuk dipergunakan sebagai penerangan.

Lily sangat terkejut melihat kondisi kamar khusus tersebut. Di kamar itu, terdapat boneka perempuan berambut panjang yang dibungkus kain kapan; ada nampan berisi jarum, gunting, dan bunga bermacam warna; ada cangkir berisi cairan darah yang berbau sangat amis dan mangkok berisi rambut. Semuanya berada di atas tempat tidur.

Kamar itu suasananya sangat menakutkan. Tak ada jendela dan cat dinding berwarna hitam pekat. Saat Lily mengarahkan senternya ke dinding, ada sebuah lukisan dengan sosok berwujud kuntilanak di dalamnya. Seketika Lily merinding ketakutan, tetapi perasaan itu segera ditepisnya.

"Aku akan membersihkan kamar ini. Terserah jika Ayah memarahiku. Ayah sudah salah jalan. Aku harus menyelamatkannya," gumam Lily, lirih.

Lily segera menarik seprai tempat tidur beserta semua barang yang ada di atasnya. Gadis itu membawa bungkusan seprai itu ke belakang rumahnya. Setelah itu, Lily masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil lukisan yang ada di dinding. Dengan susah payah, dia berhasil melepaskan lukisan itu.

Gadis itu menyiapkan pemantik api dan sedikit minyak, lalu membakar semua barang dan lukisan tersebut.

"Ti-tidaaak! Jangan ... tolooong!"

Samar terdengar teriakan di telinga Lily. Namun, tak ada siapa pun di dekatnya. Lily terus menatap ke arah api yang membakar lukisan. Sosok itu terlihat sangat marah, tetapi Lily terus menyiramkan minyak ke arah lukisan tersebut sembari membaca ayat kursi.

Setelah semua hangus terbakar, Lily segera membersihkan sisa-sisa pembakaran. Lalu, gadis itu menuju ke kamar khusus dan meletakkan beberapa kitab suci Al-Qur'an ke dalamnya. Ada desiran angin yang berembus ke arahnya, kemudian berangsur normal. Suasana kamar tak lagi mencekam. Lily segera mengunci kamar itu dan mengembalikan kunci ke tempatnya.

Hari sudah menjelang senja, tetapi Bu Mutia belum juga pulang. Lily merasa khawatir, lalu dia berinisiatif untuk menjemput ibunya. Namun, saat Lily hendak melangkah ke luar rumah, ada suara panggilan dari ponselnya. Lily ragu untuk mengangkat telepon karena tertera nomor tak dikenal. Karena panggilan yang berulang-ulang, akhirnya telepon diangkat juga oleh Lily.

"Assalamualaikum. Maaf, siapa ini?" tanya Lily.

"Waalaikumussalam. Apakah ini keluarga Bapak Hendra?" Penelepon itu balik bertanya.

"Iya, Pak. Saya putrinya," jawab Lily.

"Maaf, Dek, saya mau kasih kabar. Pak Hendra meninggal sore ini. Beliau ditemukan hangus terbakar di kontrakan milik saya," jelas penelepon yang ternyata pemilik kontrakan, tempat Pak Hendra tinggal selama ini.

Lily tak mampu berucap. Ponsel yang digenggamnya jatuh ke lantai. Dia terduduk lemas dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ayah, maafkan Lily."

***
Palembang, 23 Juni 2021

#ceritamisteri
#setahunrimis