Penghuni Kontrakan Tetangga

Ilustrasi gambar by wordpress.com

Kehidupan baru Mikel selama berada di kontrakan Perumahan Modern membawa tanda tanya. Bagaimana tidak? Ayahnya melarang Mikel untuk berhubungan dengan penghuni kontrakan lainnya. 

Hal itu terjadi sejak ibunya meninggal. Sikap ayahnya menjadi sangat berlebihan menjaga Mikel. Bahkan pintu rumahnya sering terkunci dari luar selama dia pergi bekerja demi memastikan Mikel selalu berada di dalam. 

Padahal Mikel yang sedang beranjak remaja butuh kebebasan, beradaptasi di dunia luar. Bersenang-senang dengan teman. Mikel ingin kehidupan yang dulu di mana bisa bermain ke manapun yang disukai, termauk ke rumah tetangganya. .

Suatu hari keinginan itu tidak dapat ditahan lagi. Penyebabnya  Mikel mendengar tetangga kontrakan berteriak meminta bantuan. Saat itu ayahnya sedang pergi bekerja dan akan kembali lagi di tengah malam. Inilah kesempatan untuk keluar, pikir Mikel. Hal itu juga didorong rasa ingin membantu tetangganya. Ia kuatir dengan keadaan tetangga kontrakan di sebelahnya.

Mikel keluar melalui jendela dan melompat pagar belakang rumah. Setelah itu bergegas menuju gerbang kontrakan mewah yang terbuka untuk menemui Keti, anak yang baru berusia 5 tahunan.

Pintu masuk kontrakan ini berada di atas tangga yang dikelilingi pohon cemara yang menjulang--menajubkan. Masih asri seperti kontrakan di daerah pegunungan. Di balik kaca Keti memberi isyarat.

"Kak Mikel..., Kuncinya di bawah keset," ujar Keti dengan nada ketakutan.

Usai menemukan kunci rumah tetangganya Mikel bertanya kepada anak itu. 

"Ke mana Papih dan Mamih Keti?"

"Papih pergi mengejar Mamih, Keti lihat Mamih menangis."

Mikel tahu hubungan orang tua Keti sedang dirundung masalah. Pertengkaran sering terjadi membuat anak itu frustasi--sangat butuh dukungan. Mikel datang untuk menghibur.

Mikel baru sadar bahwa di ruang tengah terdapat ranjang bayi. Di dalamnya ada bayi tengah minum susu dari botol. Tiba-tiba botol susu jatuh menggelinding ke kolong meja. Sungguh tega orang tua Keti meninggalkan bayi itu sendiri, gumannya. Tak kuasa melihat bayi menangis. Mikel segera menggendong dan berusaha menidurkannya dengan membuatkan susu baru dalam botol. Keti terlalu asyik menonton televisi menghabiskan roti bantal yang tengah tersisa lima gigitan lagi.

Tanpa sengaja Mikel tertidur pulas di dekat ranjang bayi, dalam posisi rebahan di sofa. Tapi, kemudian Mikel terperanjat ketika ia tersadar bayi tersebut sudah menghilang.

"Keti!" Teriak Mikel.

Suara piano menyala di ruang pribadi, lantai tiga paling atas. Mikel baru tahu jika Keti bisa memainkan piano. Melodi yang indah namun Mikel berhenti dalam kamar mandi yang terbuka. 

"Astaga!" Mikel mendekap mulutnya sendiri.

Bayi yang ia tidurkan, kini sudah mengambang dalam bathup klasik dengan keran menyala air dingin membuat tubuh bayi kaku, dengan wajah pucat seperti kapas. Mikel berteriak histeris meminta bantuan. Dalam ketakutannya ia segera menggendong tubuh kaku bayi tersebut menuju halaman rumah. Memperhatikan sekeliling, namun tidak ada orang yang lewat. 

Mikel belum berani menelepon ayahnya atau orang tua Keti . Benar, dia tidak memiliki keberanian untuk berkata jujur. Yang ada dalam pikirannya, ia harus segera menelepon ambulan. Tapi, gadget miliknya tertinggal di dalam kamar. 

Mikel terus berjalan sambil menggendong tubuh bayi itu dengan selimut tebal. Ia mulai menggedor pintu rumah tetangga lain namun belum ada satu orang pun yang keluar. Mikel meracau dalam hati, ke mana perginya orang-orang? Di jam 15.00, keadaan rumah kontrakan tetangga semua kosong. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bisa saja semua orang pergi bekerja. Mikel terlalu lelah untuk berjalan ke sudut kota. Apa lebih baik kembali? Namun, ada nyawa yang harus segera diselamatkan, pikirnya.

Tiba-tiba ada motor melintas, Mikel mencoba menghentikan namun sang pengendara justru melaju semakin cepat. Akhirnya, Mikel berhasil menghentikan sebuah mobil pick-up yang dikemudikan Kakek Amri. Mikel mengenalnya lalu menyuruhnya untuk mengantarkan ke rumah sakit.

"Mikel, apa kau sakit?' tanya Kakek Amin setelah mobil kembali berjalan.

"Bukan Mikel, Kek. Tapi, bayi ini harus cepat ditolong!" Kata Mikel dengan suara serak.

"Bayi?" Kakek Amin menoleh.

"Ya, bayi ini!" Mikel memperlihatkan wajah bayi kaku itu.

"Itu boneka, Mikel!" seru Kakek Amin sambil menginjak rem. Ia merasa keal karena mengora telah dipermainkan oleh Mikel. Setelah menurunkan Mikel di tengah jalan, Kakek Amri mengeluarkan gadget dari dalam saku celana dan menelepon.

"Jons, anakmu sudah gila!" 

***

#ceritamisteri

#setahunrimis

 

PML, 22 Juni 2021

@Aksara_Sulastri