Cerita Misteri - Teror di Kertas Gambar Qie

Foto: Ist

Qie bisu sejak lahir. Ia hanya berkata Pa untuk Papa, Ma untuk Mama, dan Ya untuk memanggil Qya.

Hinga kini kosakata Qie masih tetap. 

Tapi Qie suka menggambar. Mencoret-coret buku Qya awalnya, akhirnya aku memberi Qie buku dan pensil gambar untuk dirinya sendiri.

Usia dua tahun ia menunjukkan padaku sebuah bentuk menyerupai ceruk mungil, di tengahnya bentuk bulat berwarna hijau dan coklat. Aku memandangi gambar itu. Beberapa detik kemudian gambar itu makin menyerupai sesuatu. Mirip mangkuk berisi sayur dan lauk, makanan kesukaan Qie.

Aku berlari ke dapur, lalu kembali membawa apa yang paling mirip dengan gambar Qie. Dan seketika itu juga Qie berlonjakan di tempatnya semula duduk. Aku mengerti apa yang ia inginkan. Ia mendapat cara untuk mengungkapkan sesuatu. Aku memeluknya erat. Qie-ku bertumbuh, istimewa dengan caranya sendiri. 

Semenjak hari itu, gambar-gambar Qie bicara tentang segalanya. Padaku, pada Papa, juga pada Qya. Bahkan seringkali Qie mampu menghibur Qya yang bosan dan lelah dengan tugas-tugas sekolahnya dengan gambar. Qya cukup mengucap satu objek, dan Qie memindahkannya pada kertas gambar. 

Kian hari Qie makin hebat. Bagiku ia bukan lagi menggambar. Ia bicara, ia merajuk, ia bahagia, atau bersedih, semuanya. Perangkat gambar Qie telah bertambah kini, juga penggemarnya. 

Qie adalah murid sebuah sekolah khusus. Ia anak yang luar biasa, juga baik. Hanya butuh satu kali saja bagi Qie untuk melihat benda, Qie mampu menggambarnya dengan nyaris sempurna.

Suatu petang kami sekeluarga pergi mengunjungi kerabat yang dikabarkan sakit. Qie menyukai hal ini, sebagaimana ia menyenangi liburan bulanannya ke rumah sakit penderita kanker untuk menggambar dan menghibur mereka. 

Ketika tiba di halaman rumah kerabat kami, Qie terdiam lama. Ia tidak biasa seperti itu. Qie menggeleng pelan saat aku bertanya kenapa, dan segera meraih alat gambarnya, mengekor Papa turun dari mobil. 

Sebentar kami beramah tamah, sebelum akhirnya menuju kamar anak kerabat kami yang sakit. Ketika kami masuk, anak remaja yang lebih tua dari Qya itu sedang tidur. Tapi tak berapa lama kedua mata anak itu terbuka.

Bersamaan dengan itu Qie menjerit kencang sekali, lalu berlari meninggalkan kami. 

Aku kaget, tak menyangka sekaligus takut. Qie belum pernah seperti ini. Dalam gemetar aku menyusul Qie yang berlari ke arah luar, Papa dan Qya di belakangku. 

Aku menemukan Qie di dalam mobil. 

Tubuh Qie bergetar hebat, keringat membanjiri wajah, tengkuk, punggung dan tangannya. Qie menjadi pias. Ia duduk meringkuk di kursi paling belakang. 

"Ada apa, Qie?" aku memeluk Qie, ia memelukku erat sekali. 

Qie menggeleng pelan, dan meraih buku gambarnya, mencari suatu gambar. Qie menunjuk gambar rumah kami. 

Dua minggu sejak kejadian itu Qie tidak bercerita apapun pada kami. Hanya, Qie tampak mengurangi aktivitas menggambarnya, juga menolak pergi ke sekolah. Aku kerap menemukan Qie cuma diam, sambil memandangi lantai, atau langit-langit, atau daun, apa saja. 

"Ma ...," kata Qie siang itu.

"Ya?" aku berhenti menyusun buku-buku di rak baca Qya, dan duduk di samping Qie, menunggunya menggambar sesuatu. 

Awalnya Qie diam. Pensil warnanya tak satupun bergerak. Hingga perlahan Qie mengambil pensil warna hitam, dan mulai membentuk sesuatu di kertas. 

Sambil menunggu Qie, aku pergi ke dapur untuk mengambil jeruk peras dan makanan ringan buat Qie. Dan betapa terkejutnya aku ketika kembali, hingga baki nyaris jatuh dari tanganku. 

"Apa ini, Qie?" tanyaku setengah berbisik.

Qie tidak pernah menggambar sesuatu yang tidak digunakannya untuk berkomunikasi atau menghibur. Tapi gambar ini?

Sesosok tubuh yang kurus, sangat kurus. Seluruh tubuhnya berwarna hitam, kecuali mata yang melesak ke dalam dan kuku tangan yang demikian panjangnya. Qie menggambar dua bagian itu dengan warna merah. Rambut makhluk itu begitu lebat dan berantakan, bibirnya menyeringai seram. Dan, dalam gambar Qie makhluk itu tampak terbang, barusaja melepaskan diri dari sosok tubuh yang terbaring. Aku pernah melihat selimutnya. Ah, itu anak kerabat kami yang sakit! 

Aku mencoba menepis pikiran yang tak kusukai di dalam kepala. Tapi tak pelak, aku tetap mengerti bahwa ini yang Qie lihat kemarin, hingga menyebabkannya berlari menjauh dari kami dalam ketakutan. 

Aku memeluk Qie erat. Entah kenapa sesuatu tak enak bergemuruh dalam dada dan kepalaku.

***

Pada akhir pekan aku mengajak Qya dan Qie bermain di taman dekat rumah. Sebuah rekreasi kecil yang biasa kami lakukan saat Papa tidak bisa menemani, juga sebagai angin segar bagi Qie setelah kejadian kemarin. Di sana Qya suka bermain gelembung sabun. Qie tentu saja menggambar. 

Hampir semua orang yang suka bermain di taman mengenal Qie. Jika melihat Qie mulai menyiapkan perangkat gambarnya, mereka segera mengelilingi Qie, dan berebut menyebut sesuatu untuk digambar oleh Qie. Qie tidak keberatan. Qie senang menghibur. 

Di tengah kerumunan itu, tiba-tiba salah satu dari mereka menjerit. Lalu jeritan itu menular, dan nyaris semua anak menjerit sambil berlari menjauhi Qie. Membuat orang-orang dewasa yang ada di sekitar mereka turut terkejut dan bingung.

Aku sendiri memeluk Qie, mengajaknya menjauh dari tempatnya duduk menggambar. Aku tidak tahu apa yang terjadi.

Belum juga habis terkejutku, Qya tiba-tiba menubrukku. Dengan panik ia menunjuk buku gambar Qie dan orang-orang dewasa yang tengah mengerubunginya. 

Mereka mendekatiku, bertanya tentang maksud dari gambar Qie. Dan saat melihatnya, aku tak tahu harus melakukan apa selain menutup mulutku sendiri yang tiba-tiba ternganga. 

Taman ini. Anak-anak yang ramai. Pepohonan dan kelinci-kelinci yang manis.  Tapi, Qie menggambar sesuatu yang lain. 

Ada anak kecil berwajah biru kehitaman duduk di ayunan. Sebelah kakinya yang terpotong mengucurkan darah. Darah berceceran dimana-mana. 

Lembar berikutnya seorang wanita tua di seberang taman. Tengah tertawa, di tangannya membawa sesuatu. Setelah mengamati dengan baik, aku melihat wanita tua itu membawa kepala, sangat mirip kepala bayi. 

Dan di lembar terakhir, Qie menggambar ia yang tengah duduk menghadap buku gambar dikerumuni oleh teman-temannya. Lalu, entah kenapa Qie menambahkan sosok itu di tengah-tengah mereka, sosok yang membuatnya ketakutan pertama kali. 

Orang-orang bertanya padaku tentang gambar Qie. Aku tak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak tahu pasti apa yang sebenarnya Qie tengah ingin katakan. 

Aku merasa lebih baik mengajak Qie dan Qya pulang. 

"Qie, apa yang kau lakukan?" tanyaku pada Qie seraya menggenggam tangannya setiba kami di rumah. 

Tapi Qie diam saja, membuatku hanya mampu menghela napas berat. Sejenak kami hanya saling berpandangan. Qie kemudian tersenyum, lalu memelukku hangat. 

Aku tidak mengerti. Semenjak apa yang terjadi di taman itu, Qie kerap menggambar hal-hal aneh. Benar-benar aneh karena ketika Qie menggambar sesuatu, gambar itu adalah kenyataan yang terjadi beberapa waktu kemudian. 

Seperti ketika Qie menggambar sebuah rumah cantik yang merah menyala. Qie menggeleng ketika aku bertanya itu rumah siapa. Tapi esoknya, kami mendengar rumah salah seorang teman sekolah Qie habis terbakar. Aku ingat kami pernah berkunjung ke sana, dan aku amat tak habis pikir karena memang itu rumah yang ada di kertas gambar Qie.

Atau saat siang yang terik Qie menunjukkan padaku gambar sebuah mobil yang rusak di seluruh bagiannya, nyaris hancur. Aku tidak pernah lagi bertanya pada Qie tentang apa yang digambarnya, karena Qie menggeleng untuk semua pertanyaan. 

Malam harinya Papa menerima telepon bahwa rekan kerjanya mengalami kecelakaan hingga meninggal. Dan Papa terhenyak ketika di tempat sial itu ia mendapati mobil yang sama persis dengan gambar Qie. 

Entah darimana mulanya, orang-orang mendengar apa yang Qie bisa lakukan ini. Mereka menganggap Qie bisa meramalkan masadepan. Dan setiap hari ada saja yang mencari Qie untuk memintanya menggambar. 

Qie tidak ambil pusing awalnya. Mudah baginya mengabaikan mereka. Sebelum wanita tua itu datang ke rumah kami. Dia terang-terangan mencari Qie. Meminang Qie untuk menjadi medium. 

Hanya ibu gila kurasa yang tega melepas anak delapan tahunnya untuk menjadi seorang medium. Itu sangat berbahaya, Qie-ku masih terlalu dini untuk mengenal dunia metafisik itu.

Wanita tua itu merindukan anaknya yang telah lama meninggal. Ia ingin Qie menjadi medium bagi roh anaknya agar ia dapat melepas rindu. Ia sendiri yang akan mengundangnya. Ia bilang, materialisasinya akan sempurna jika mediumnya adalah sesama anak kecil. 

Gila! 

Aku menolak wanita itu dengan tegas. Dan ia marah. Ia terus menatap Qie tajam, membuat Qie amat ketakutan. 

***

Sudah tiga malam ini Qie demam. Tubuhnya kerap tiba-tiba menggigil, padahal suhunya tinggi sekali. Qie tidak menggambar apapun, kecuali roti panggang selai kacang kesukaannya. 

Selama tiga hari hanya itu yang Qie makan. Qie banyak menghabiskan waktu dengan tidur, dan diam. 

Pagi hari berikutnya aku membangunkan Qie. Ia sudah tidur sejak kemarin sore. Malam keempat ini demamnya memang sudah turun. Mungkin itu juga yang membuat Qie tidur nyenyak sekali. 

Hampir lima belas menit aku membangunkan Qie. Tapi Qie tidak juga bangun. Papa bergantian membangunkan Qie. Qie tidak bergeming. Kami mengguncang tubuh Qie. Qie tidak bergerak. 

Setelah dokter datang dan memeriksa, barulah kami mengerti.

***

Saat saat seperti ini aku merasa seperti terperangkap dalam kotak kaca yang pengap. Ingatan tentang semua nyaris membunuhku. Qya kerap mendapatiku menangis sendirian. Dan ia jadi ikut menangis. 

Aku kasihan pada Qya. Seharusnya aku menjadi lebih kuat, untuk menguatkan Qya. Ia pun tentu merasai kesedihan yang sama.

Setelah terus menerus menguatkan diri demi Qya, aku siap masuk ke kamar Qie, untuk merapikan apapun yang ada di sana. Aku melarang siapapun membersihkan kamar Qie, karena aku sendiri yang akan melakukannya. 

Tapi apa yang kulihat di dalam kembali mengguncangku hebat. 

Kertas-kertas gambar Qie berserakan di lantai. Pensil warna bertaburan dimana-mana. Aku bingung, bagaimana bisa kamar Qie seberantakan ini? Apakah Qya sempat masuk kemari?

Aku memutuskan memungut satu persatu gambar yang semuanya telungkup. 

Kertas pertama adalah gambar kami sekeluarga. Kami saling bergandengan tangan. Mataku berembun melihatnya, rindu pada Qie kian membuat sesak.

Kertas kedua, Qie menggambar dirinya sendiri. Ia duduk, sibuk dengan buku gambar dan pensil warnanya. 

Kertas ketiga, Qie menggambar ia terbaring di tempat tidur, di keningnya ada sesuatu, mirip kain kompres yang kuberi untuknya. Qie menggambar ia sakit? Kapan? Selama sakit ia tidak menggambar apapun. 

Kertas keempat, Qie menggambar ia sedang terbang. Atau setidaknya melayang. Langit biru tua disekitarnya. Qie sendirian. 

Kertas kelima, Qie menggambar Aku, Papa dan Qya. Kami bertiga sedang menatap ke atas.

Kertas keenam, aku tak kuasa menahan diri hingga memekik tanpa kusadari. 

Qie menggambar seseorang dengan amat jelas. Tubuhnya hitam kurus, wajah menyeringai-kali ini lebih lebar hingga tampak sangat menyeramkan, rambut lebat tak beraturan, dengan mata merah menyala, kuku menjuntai tajam. Orang itu menggandeng tangan banyak anak kecil. Semuanya menangis.

Qie-ku salah satu di antara mereka. 

[-]