Lepaskan Aku dari Perangkapmu

Ilustrasi by Pinterest

Aku merasa seperti seseorang mengusik ketenanganku, ada yang mencoba bermain-main dan  dengan lancang menyeretku ke dalam imajinasinya. Kekuatan itu menarikku ke sana, ke sebuah pekarangan temaram yang hanya disinari pendar bulan separuh. 

Lelaki berewokan berpostur tinggi kerempeng dengan rambut lurus sebahu terlihat asik di beranda depan, di sebelah kursi rotan di atas meja kayu nampak secangkir  kopi dan sepiring kue pukis tercium dari aromanya. Sedangkan jemari kurus itu lincah memainkan keyboard laptop di atas pangkuan. Haha, apa lagi yang akan ia tulis tentangku. Perselingkuhan yang tak berdasar dan ngawur atau dalang pembunuhan yang berlagak jadi pahlawan. Ingin rasanya kucabik-cabik wajah kumal itu dan menghempasnya ke atas pohon. 

Dasar tidak peka, sedikit pun dia tidak menyadari keberadanku padahal sudah beberapa saat aku mengawasinya dari balik rimbun pohon duku yang tumbuh di sudut halaman. 

Terdengar panggilan dari dalam rumah, suara nyaring seorang wanita menyuruhnya masuk.  Malam sudah berada dipuncaknya, terlihat dari bulan yang berada tepat di atas kepala. Sebelum beranjak lelaki itu mengangkat cangkir dan menandaskan kopinya, menyomot kue pukis lalu buru-buru memasukan ke dalam mulut dan bergegas membuka pintu sambil menenteng laptop miliknya. 

Ini kesempatan yang sedang kutunggu untuk membuat perhitungan. Sekali loncat tanpa menimbulkan banyak suara aku sudah berada di dalam ruang pengap tapi rapi. Jauh sekali dari kesan pemiliknya yang selebor. Beberapa baris rak kayu berjejer menempel ke dinding, penuh dengan buku-buku yang tertata apik bahkan sebagian masih ada yang tertumpuk di atas meja berbagi tempat dengan seperangkat komputer. Tawaku pecah tanpa kendali, mengejutkan dan sepertinya dia mulai menyadari kedatanganku. 

Kutatap pria itu nanar, tawaku kian melengking pilu. Jemari berkuku runcing ini sudah berancang-ancang untuk menerkam, merobek-robek wajahnya. Spontan ia nampak pias, matanya membelalak ke arahku. Tidak menyangka, hah! Mulut ini sudah tidak tahan lagi untuk menghujaninya dengan umpatan. Kekesalan sudah memuncak di ubun-ubun membuatku hilang kesabaran.

"Dasar pria bodoh, penulis amatir gak tahu diri!" jeritku memuntahkan kemarahan. Kudekati lelaki jangkung  berwajah dekil dengan berewok tipis yang sengaja ia biarkan tumbuh liar. Tulang lenganku yang hanya berbalut kulit tipis dan mulai mengelupas siap mencengkeram leher lelaki di depanku yang kini mukanya terlihat seputih kapas. 

"Bisa ketakutan juga kau rupanya," umpatku sinis. Tak perlu waktu lama untuk menancapkan kuku-kuku runcingku dan dengan cepat mencomot jantung itu dari rongga dadanya yang tipis. Tapi urung, aku tidak akan menghabisinya secepat itu, ingin menguji seberapa besar nyalinya menghadapiku.  

"Rasakan pembalasanku! Ini imbalan atas kelancanganmu menyeretku ke dalam cerita horor dari imajinasimu yang tumpul. Mengarang seenak dengkul demi mengejar deadline recehan. Itu sangat menyakitiku dan mengganggu misi balas dendam yang sebentar saja akan tuntas, hanya sejengkal lagi pengkhianat itu akan merasakan kesakitan seperti yang aku alami. Gara-gara kamu kini aku terjebak di tempat ini dan tidak bisa lagi leluasa bergerak. Memainkan peran yang bukan sebenarnya aku," rutukku panjang meluapkan kemarahan sedang lelaki itu hanya menunduk gemetar, nyalinya melingsep tak tersisa. 

Tulisanmu sangat melenceng jauh dari peristiwa yang sesungguhnya aku alami. Dasar penulis sampah, dengusku kesal. 

Ia menggunakan namaku, mengarang semaunya atas kematian dan cerita hidupku. Sungguh tidak benar. Peristiwa itu bukan sebuah kecelakaan yang kebetulan tapi sebuah kesengajaan. Ada orang yang menyabotase mobilku, hingga saat melewati turunan aku tidak bisa mengendalikan mobil Avanza yang kukendarai, aku ingin menemui ibuku tapi naas baru separuh perjalanan mobilku terperosok ke bawah kolong truk gandeng yang sarat muatan. 

Dia tahu apa tentang kejadian itu,  tidak ada yang tahu dan betapa kesakitan itu membawaku sampai ke tempat ini. Gentayangan dengan penuh dendam. Enak saja, kenapa bisa ia menjadikanku pesakitan dalam ceritanya. Dendamku butuh terbalaskan, dan lelaki itu telah menghalangi dengan menyekapku di sini. 

"Karena ulahmu aku terperangkap dalam kisah konyol ini. Kini kau harus melepaskanku atau mati!" sentakku kasar. Tatapan tajam menghunjam ke wajahnya yang pucat pasi. Sementara matanya melebar horor saat pandangan tertuju pada kedua bola mata putihku. Pemandangan yang kusuka.

"Ja...ja...ngan, lepaskan aku. Too...looong." teriaknya terbata dalam puncak ketakutan.

Kudekatkan wajahku yang penuh jahitan bernanah dengan makhluk penghuni tanah bermain bebas dan sesekali lidah berlendirku menjulur menjilati lehernya. Membuat lelaki di hadapanku memejamkan mata, gemetar dan peluh dingin sebesar kacang perlahan meleleh di dahi lebarnya, aku sendiri tertawa puas. 

Dasar pembohong, ternyata bualanmu hanya omong kosong, rutukku sinis. 

"Buka matamu, tatap baik-baik. Ini tokoh dalam ceritamu. Jangan palingkan mukamu itu! Lihat aku!" jeritku geram. Spontan kucengkeram tubuh jangkung itu dan melemparkannya ke sudut ruangan dengan kekuatan penuh, mendaratkannya di atas tumpukan kardus penuh buku-buku berdebu. 

"Arrrggh ...." pekiknya kesakitan. Tawaku kian melengking, memperhatikannya dengan sudut mataku.

Di sudut ruangan lelaki itu terkapar mengaduh dan berusaha bangkit. Tentu saja tidak akan kubiarkan lolos, enak aja. Aku masih ingin bermain-main dengannya, tak kubiarkan ia beringsut dari lantai keramik itu. 

Perlahan menarik tubuhnya ke awang-awang seringan kapas lalu memutarnya secepat baling-baling, setelah itu kulempar lagi tapi kali ini masih berbaik hati medaratkan tubuh ceking itu di atas kasur. Ternyata masih terlalu keras, spontan dipan kayu itu ambruk diikuti lengking tawa yang tak bisa kutahan, derainya mampu meremangkan bulu kuduk setiap telinga yang mendengar.

Bagaimana pun aku harus menggagalkan semua postingan cerita bersambung yang telah selesai ditulis lelaki itu dengan ending yang bikin perut mual. Jangan sampai dia mengikatku dan membuatku gentayangan selamanya karena dendam yang tak terbalaskan. Tunggu saja, dengusku kesal. 

Kujulurkan tangan menyeret satu kakinya, sedangkan dia sudah terkulai tidak berdaya. Tunduk di bawah kakiku, aku belum puas bermain-main. Kini kujentikkan jari, tubuh kurus itu terdorong keras menabrak dinding kamar bercat oranye, dan jelas itu bukan warna kesukaanku. 

Sebelum aku sempat mendekati lelaki yang terkulai di bawah jendela, tiba-tiba daun pintu terkuak perempuan gempal berdaster batik menerobos masuk membuatku tertegun. Ada palu besar di tangannya, apa yang ia pikirkan. Melawanku dengan itu, tawaku sinis. Dia pikir palu itu bisa mengalahkan dan melukaiku, naif sekali kalau dia berpikir seperti itu. 

"Bu, tolong aku," rintih lelaki yang terkapar tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Dia menoleh ke arah suara putranya lalu maju selangkah, sedangkan aku masih diam ditempatku. Mengamati gerak-geriknya, bagaimana ibu itu akan melawanku. Dia sendiri memalingkan muka, enggan atau ngeri mungkin melihat penampilanku. Ia menghentikan langkah hanya beberapa depa di mana aku berdiri, kali ini ia menunduk perlahan mengangkat palu besar yang ada ditangannya. Aku melengkingkan tawa, menunggu apa yang akan ia lakukan. 

"Braaakk! Braaakk, braaakk!" 

Tiga kali pukulan palu itu menghancurkan benda pipih yang tergeletak di atas lantai, seketika menghentikan tawaku. Tubuhku  melayang dan gemetar hebat seperti berada dalam pusaran angin yang perlahan-lahan menyedot dan meremukkan tulang-tulang rapuhku. Kekuatanku seperti luruh, tidak mampu meski hanya untuk tertawa perih. Dendamku belum terbalaskan, kembalikan kekuatanku! Geramku. Aku hanya bisa mengambang di awang-awang, pendar keperakkan menyelimuti tubuhku yang beku. 

"Untung dari pagi sambungan internet sedang bermasalah, jadi kamu bisa bebas sekarang. Dengan ini mungkin cerbung itu tidak akan terkirim." Suara ibu itu terdengar parau seraya duduk di sebelah anaknya, sementara aku hanya bisa mematung tubuhku mulai memudar. 

"Anggap saja ini permintaan maaf suamiku, orang suruhan yang telah menyabotase mobilmu. Jiwanya guncang dirundung penyesalan. Semoga dengan ini jiwanya akan kembali tenang. Pergilah, jangan pikirkan dendammu, suamimu akan mendapatkan balasannya kelak." Penjelasan lirih perempuan itu lamat-lamat masih merambah gendang telinga.

Sebelum bayangan tubuh ini menghilang sempurna menyatu dengan udara dingin dini hari.  Cahaya merah keemasan memancar selayaknya jingga menghias senja di batas cakrawala. Lalu hening. 

#setahunrimis

#ceritmisteri

Khotimah Zaenuddin

Pondok Indah 21 Juni 2021