Menjelang Azan Magrib

Foto: Sumber dari Google

"Ayo, kita pulang sekarang! Sebelum magrib, aku harus tiba di rumah," ajakku kepada teman-temanku semasa SMA.

"Sebentar lagi, sih, May. Kita sudah lama tidak ketemu, kangen-kangenan dululah. Kita pulang habis magrib saja. Gimana teman-teman?" ujar Tria, salah satu temanku.

Tanpa menunggu jawaban teman-teman yang lain, aku pamit pulang. Terserah jika mereka masih ingin ngobrol lebih lama, aku tidak peduli. Lebih baik aku pulang ke rumah. Tidak apa-apa jika aku dianggap sombong, itu hak mereka. Karena teman-temanku itu tidak pernah tahu, apa yang pernah kualami.

Aku terus melangkah, mencari bus dan menaikinya. Selama  perjalanan pulang, aku mengingat kembali, kejadian yang menimpaku saat masih duduk di bangku SD.

Sore itu sepulang sekolah, aku dan teman-teman tidak langsung pulang ke rumah, tetapi masih bermain di halaman sekolah. Wali kelas menyuruh kami untuk segera pulang. Kami menuruti perintahnya. Namun, di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk kembali bermain.

Sekolah sudah tampak sepi. Kami membuka kembali pintu gerbang dan bergegas main di halaman sekolah.

Hari makin sore, tetapi kami masih asyik bermain. Tiba-tiba, perutku terasa melilit. Aku meninggalkan teman-teman dan menuju wc yang terletak di belakang sekolah. Arah menuju wc tampak seram. Letaknya memang cukup jauh dari bangunan sekolah. Di sana tumbuh beberapa pohon yang cukup besar. 

Suasana makin seram karena pohon-pohon yang berdaun rimbun. Apalagi hari sudah sore, penerangan dalam wc jadi makin gelap. Tak ada cahaya lampu karena aktivitas sekolah sudah selesai. Lampu dihidupkan jika kegiatan sekolah masih berlangsung.

Sebenarnya, aku merasa ketakutan. Namun, tak kupedulikan karena perutku terasa mulas. Saking buru-burunya, aku langsung berlari menuju wc tanpa minta ditemani oleh siapa pun.

Ruang wc terdiri dari enam pintu dan semuanya tampak sangat kotor. Aku memeriksa satu per satu. Hanya ruang paling ujung yang kondisinya cukup bersih dibanding yang lain dan masih tersedia sedikit air. 

Suasana dalam ruangan sangat gelap jika pintunya ditutup. Karena itu, pintunya kubiarkan terbuka saja. Tak mungkin juga ada yang lewat, karena di sekeliling halaman belakang sekolah diberi tembok pembatas yang cukup tinggi.

Aku pun segera menuntaskan hajatku karena rasa sakit yang tak tertahankan lagi. Setelah selesai, aku buru-buru keluar dari ruang wc itu.

Hari tampak makin gelap. Aku berlari menemui teman-temanku. Saat aku melewati pintu-pintu wc, sekilas terlihat olehku, sesosok wujud hitam besar yang duduk di dalam salah satu ruang. Namun, tak kuhiraukan karena perasaan takut yang  menghampiri. Aku terus saja berlari.

Tiba di halaman sekolah, aku tak menemui satu pun temanku. Ternyata mereka sudah lebih dulu pulang ke rumah tanpa menungguku. Dengan langkah gontai, aku menuju tempat di mana tas sekolahku berada. Namun, aku tak menemukan tas itu. Di mana kuletakkan tas sekolahku? 

Aku terus mencari tasku ke sekeliling halaman sekolah. Dari balik tanaman hingga ke ranting-ranting pohon. Namun, aku tetap tidak menemukan tas itu. Apakah teman-teman yang membawa tasku? Daripada sibuk mencari, lebih baik aku segera pulang. Mungkin benar, teman-temanku sudah mengantarkan tas sekolahku ke rumah.

Sayup-sayup terdengar suara azan magrib. Aku berlari menuju pintu gerbang sekolah. Namun, sungguh aneh. Pintu gerbang itu terkunci. Aku merasa panik juga heran. Pintu tampak sangat tinggi begitu juga pembatasnya sehingga sulit bagiku untuk memanjatinya. Aku terkurung di halaman sekolahku.

Tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa menangis dan berdoa. Kubaca doa-doa yang kupelajari saat mengaji. Tampak sosok hitam besar menatapku dari arah jalan menuju kamar mandi. Sosok itu menyeringai dan makin menakutkan.

"Tolooong!" teriakku panik.

Berkali-kali aku berteriak minta tolong, tetapi tak ada satu pun orang yang datang. Memang lokasi di sekitar sekolahku sangat sepi, hanya ada pohon-pohon di sekelilingnya. Sekolahku tampak gelap karena tak ada cahaya lampu. Ada beberapa lampu jalan, tetapi cahayanya temaram.

Aku sangat menyesal karena tak menuruti nasihat Ibu. Beliau selalu berpesan jika pulang sekolah, aku harus tiba di rumah sebelum azan magrib. Kata Ibu, saat azan magrib, banyak sekali makhluk-makhluk gaib yang muncul. 

Sekarang, aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku harus bermalam di sekolahku. Sungguh menakutkan. Cahaya yang temaram, membuat suasana makin mencekam. Dengan perasaan takut, kutatap kembali sosok itu. Dia masih berdiri di sana dengan dengan sepasang mata yang bercahaya.

"Tolooong!" Aku kembali berteriak.

"Ibu ... Ayah!" jeritku sembari terisak-isak.

Sosok itu mulai mendekat ke arahku. Aku menggigil ketakutan. Mataku terpejam sembari mengucapkan ayat Kursi. Aku tak henti-hentinya menangis. 

"Ayah ... Ibu," bisikku pelan.

Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku. Mungkinkah makhluk menakutkan itu yang melakukannya?

"Mbak, mau berhenti di mana? Sebentar lagi bus ini sampai ke terminal," ucap seseorang yang ternyata kondektur bus. 

Ya Allah, ternyata sejak tadi aku hanya melamun di dalam bus ini sehingga tak menyadari jika rumahku sudah jauh terlewat. Aku segera turun dan menaiki bus lain yang menuju ke rumahku. Sayup-sayup terdengar suara azan. Aku terkejut saat memandang ke sekeliling bus yang kunaiki. Penumpangnya hanya ada aku dan sosok tinggi besar dengan sepasang mata berwarna merah.

***
Palembang, 20 Juni 2021

#ceritamisteri

#setahunrimis