Serigala Berbulu Domba

Picture by Pinterest

Ini hari pertama aku bekerja di rumah Prof. Lupin. Beliau seorang pengusaha muda dan ilmuwan kaya. Rumahnya tua, besar, memiliki tiga lantai, dan bergaya Eropa. Di rumah sebesar itu, Tuan Lupin hidup tanpa keluarga.

"Sawitri, tugasmu adalah membersihkan rumah, memasak, dan merapikan kebun. Hanya saja aku melarangmu menginjak lantai tiga," peringat Tuan Lupin.

"Baik, Tuan," jawabku sambil menunduk hormat.

"Jika sedang kuminta, kau juga boleh ikut denganku. Saat aku membutuhkanmu dengan serangkaian perjalanan amalku," tambahnya.

"Mematuhi perintah Anda, Tuan," jawabku lagi.

Tuan Lupin terkenal sangat dermawan. Beliau sering mengundang janda dan anak yatim untuk makan bersama. Tak jarang mereka juga diberi bantuan, berupa uang, pakaian, bahkan dana untuk perbaikan rumah. Kepopuleran Tuan Lupin dalam hal kebaikan membuatku jadi tertarik menjadi pelayan di kediamannya. Konon katanya, jika prestasi di rumah ini bagus, maka Tuan Lupin akan merekomendasikan pekerjaan yang lebih baik di perusahaannya yang banyak.

Tidak ada kesulitan yang kurasakan di rumah ini. Tuan Lupin juga jarang makan di rumah. Aku memasak ternyata untuk diriku sendiri. Yang paling butuh kerja keras adalah membersihkan rumah besar ini. Namun, apa pun akan selesai dengan baik jika dilakukan dengan senang hati.

Genap seminggu aku bekerja di rumah ini. Biasanya setelah menyelesaikan tugas aku kemudian pulang ke rumah. Namun karena Tuan Lupin pergi ke luar kota maka aku diminta untuk menginap. Sejujurnya aku agak takut, walau bagaimanapun ini rumah tua, bagian teratas gedung tidak pernah dibuka, jadi bisa dibayangkan betapa menyeramkannya itu.

Aku kebingungan hendak mengerjakan apa. Jadi aku membuat secangkir teh beraroma melati untukku seorang diri, memanggang pie pumpkin dan strawberry di oven lalu melahapnya. Aku tidak peduli jika tubuhku mengembang seperti donat karena makan malam-malam.

Sebenarnya aku terkantuk-kantuk saat duduk di sofa sambil membaca buku. Aku terjaga oleh lolongan panjang anjing liar di luar rumah. Ternyata ruang tengah juga sudah terang benderang, ada jamuan di meja makan. Cangkir-cangkir terisi. Mereka mengobrol, juga tertawa bersama Prof. Lupin. Sisa-sisa pieku kandas, dan mereka juga memakan daging-daging yang masih mengepul dari tempat pemanggangan. Ngomong-ngomong sejak kapan Tuan Lupin pulang?

Yang bisa kulakukan hanya diam, sambil mengamati mereka yang tengah larut oleh suasana pesta.

"Oh, astaga. Rupanya aku ketiduran dan bermimpi," ucapku saat menyadari selimutku terjatuh.

Rupanya sudah dini hari, aku beraktivitas seperti biasanya. Membersihkan diri, kemudian turun ke lantai satu berniat memasak. Namun langkahku terhenti saat aku menemukan meja makan yang berantakan, seolah baru ada pesta. Kucubit pergelangan tanganku, bertanya-tanya apa aku saat ini masih bermimpi? Sialan sakit, ini bukan mimpi.

Aku merapikan semuanya. Itu sudah jadi kebiasaanku meskipun Tuan Lupin tidak ada. Mereka tidak menyisakan daging-daging panggang, tetapi meninggalkan teh yang diseduh semerah darah. Aku melemparkannya dengan pelan ke bak cuci piring dan menyiramnya dengan banyak air.

"Apa ini pengalaman misterius? Kurasa bukan, lupakan!" gerutuku.

Aku melupakan kejadian pagi itu, sudah kubersihkan juga setiap jengkal rumah tanpa menyisakan debu. Aku kemudian menuju kebun, dengan mengenakan sepatu boots, kaos tangan, dan topi koboi lebar. Aku menyemprot dan menyiram mawar-mawar koleksi Tuan Lupin. Ada satu tanaman yang membuatku terkejut sekaligus takjub karena baru kali ini berbunga. Yaitu anggrek darah. Ukuran bunganya lebih besar ketimbang biasanya. Ini pasti mahal sekali, aku menyiramnya dengan hati-hati.

Malam berikutnya aku mulai terbiasa dengan suasana. Aku tidur kembali di sofa lantai dua seperti kemarin sambil memegang buku. Setengah halaman membaca aku menguap lalu tertidur. Aku merasa mimpi aneh lagi. Terdengar langkah kaki kuat yang mondar-mandir di lantai atas. Volume suaranya sampai menembus lantai beton. Seolah-olah yang sedang berlarian adalah raksasa. Ada suara jerit pilu laki-laki, kemudian suaranya menghilang di kesunyian malam.

"Sawitri!"

Aku tergagap mendengar panggilan itu. Seketika terbangun dan mendapati Tuan Lupin telah pulang. Di tangannya menenteng koper besar. Aku langsung bangun, cepat bangkit dengan gugup.

"Maaf Tuan, saya bangun kesiangan," ucapku sambil tertunduk.

"Tidak mengapa, Sawitri. Kau pasti kelelahan bekerja. Bersihkan dirimu, tidak perlu memasak, ikutlah saja bersamaku," ucapnya sambil memasuki pintu kamarnya.

Pagi itu Tuan Lupin mengajakku makan di restoran yang ada di jantung kota. Setelah itu kami ke panti jompo. Rupanya Tuan Lupin juga menyantuni orang-orang lanjut usia yang ditelantarkan keluarganya. Sebelum tengah hari kami pergi ke galeri seni untuk melihat pameran, lalu pulang membeli satu lukisan semi abstrak yang membuat Tuan Lupin jatuh hati. Sebuah susunan bentuk dan permainan warna yang samar-samar membentuk serigala.

"Sawitri, memasaklah yang gampang-gampang saja jika kau lelah," ucapnya sebelum masuk kamar.

"Baik, Tuan."

Sempat kulihat koran di dalam pagar saat masuk tadi. Aku keluar untuk memungutnya mumpung ingat. Tanpa sengaja aku melihat berita utama. Jika narapidana banyak yang menghilang secara misterius dari penjara dalam kurun waktu satu tahun. Bahkan keluarganya juga mencarinya. Aneh sekali.

"Mereka kabur?"

"Siapa yang kabur, Sawitri?"

"Mereka, Tuan," jawabku sambil menyerahkan koran.

"Mungkin saja. Oya, aku akan pergi lagi nanti. Menginaplah di sini. Tolong jaga rumah baik-baik ya?"

Teringat kejadian malam demi malam membuatku bergidik. Aku tidak sadar antara kehidupan nyata atau mimpi. Aku mengalami disorientasi terhadap suasana dan waktu yang cukup serius.

"Ada apa, Sawitri?"

"Tak apa, Tuan. Saya baik-baik saja."

Malam ini aku berjanji tidak akan tidur. Aku memilih buku bergenre komedi untuk kubaca hingga tertawa semalaman. Apa aku langgar saja larangan untuk pergi ke atas supaya tidak penasaran? Ada apa di sana? Toh Tuan Lupin sedang pergi.

Aku melangkah perlahan menaiki tangga. Mengendap-endap di lorong sampai tiba di depan pintu kamar besar yang hanya satu-satunya di lantai tiga, lantas mengintip dari balik kaca susah payah. Ruangannya beratap tinggi dengan suasana suram. Penerangannya hanya remang-remang. Ada banyak sarang laba-laba di sana-sini.

Oh Tuhan. Ternyata ada beberapa orang bertubuh kekar dan bertampang preman terikat dengan mulut tersumpal. Mereka seperti para penjahat saja. Di ujung ada sosok misterius yang menempati kursi goyang, menghadap ke dinding membelakangi mereka. Ada bulu-bulu putih menyembul dari balik mantelnya. Aku tersentak saat menyadari sesuatu. Orang-orang ini kemungkinan yang diceritakan hilang itu. Rupanya aku telah salah besar. Baru kali ini aku tertipu. Tak kusangka, jika selama ini aku bekerja bukan dengan manusia, tetapi bersama serigala berbulu domba.

"Sawitri! Bergabunglah! Kau pelayan ke tujuh puluh yang mengulangi kesalahan sama. Kemarilah, Sayang. Aku akan menutup mulutmu dari dunia selamanya!"

#ceritamisteri #setahunrimis

 

Trenggalek 18 Juni 2021

Rini Dwi merupakan penulis buku Stiletto dan Laire Lintang Kemukus