Ketika Anies Lulus Uji Nyali di Gedung Angker

Anies menyaksikan pusaka peninggalan Kerajaan Sumedang Larang. Foto: dokpri

Alkisah, seorang penyanyi nasional asal Yogyakarta secara khusus mendapat undangan manggung di Kota Sumedang. Sebagai tamu kehormatan, pelantun lagu-lagu dengan musik synthetizer tersebut diinapkan di salah satu kamar di Gedung Negara, yang juga rumah jabatan Bupati Sumedang. Gedung warisan kolonial Belanda tersebut sudah berumur lebih dari 170 tahun.

Tanpa dinyana, saat tengah malam penyanyi tersebut tergopoh-gopoh lari keluar kamar dengan wajah  ketakutan. Katanya ada mahluk halus yang mengganggu tidurnya. Konon tiba-tiba kasur tempat tidurnya terangkat sendiri. Akibat kejadian itu, sang penyanyi pun hengkang dan pindah menginap di hotel.

Kisah ini diceritakan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di pagi hari. Padahal malamnya Anies menginap di “kamar horor”. Hari itu, Jumat, 11 Juni 2021, Gubernur Anies memang sedang berkunjung ke Sumedang untuk acara penandatangan MoU kerjasama ekonomi antar BUMD DKI Jakarta dengan BUMD Kabupaten Sumedang.

"Untung Bapak ceritanya pagi ini. Kalau tahu dari tadi malam, saya nyalakan video recording sebelum tidur. Biar ada rekamannya in-case ada kegaduhan," respon Anies sambil tertawa.

"Tetapi bagaimana tidurnya semalam, Pak?” tanya Bupati Dony.

"Nyenyak dan damai!," jawab Anies.

"Saya yang tidak bisa tidur, Pak. Sebab deg-degan, kuatir kalau Pak Anies tengah malam tiba-tiba lari keluar kamar seperti penyanyi itu," kata Bupati. "Tapi alhamdulillah, Bapak sudah dinyatakan lulus! Lulus menginap di Gedung Negara tanpa didatangi penunggu.”

Bupati Dony bahkan "mentahbiskan" kelulusan Gubernur Anies tersebut dalam pidato resminya saat acara penandatanganan MoU kerjasama ekonomi Sumedang-Jakarta di Desa Tolengas, Kecamatan Tomo. Acara itu turut dihadiri oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan masyarakat Sumedang.

"Hari ini istimewa. Pak Anies semalam sudah menginap di Gedung Negara. Beliau bisa tidur dengan pulas tanpa ada gangguan apapun. Pak Anies sudah saya nyatakan lulus!" Ucapan Bupati Dony mendapat sambutan meriah dari hadirin yang mayoritas warga Sumedang asli, seakan memberikan ucapan selamat kepada Anies.

Gedung Negara Sumedang memang sudah berusia ratusan tahun. Gedung itu mulai dibangun pada tahun 1796 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai pada tahun 1850 pada masa Bupati Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih). Bisa dibayangkan suasana mistisnya. Ruangan-ruangan kosong dengan temboknya tebal, atap tinggi, serta kamar tidur yang luas namun sepi nan creepy.

Belum lagi, di lingkungan bangunan tersebut juga disemayamkan benda-benda pusaka warisan kerajaan Sunda kuno dan kerajaan Sumedang Larang seperti Mahkota Binokasih, yaitu mahkota raja terakhir Kerajaan Pakuan Pajajaran (Sunda pra-Islam). Ceritanya, setelah Kerajaan Pajajaran bubar (1579), empat orang utusan bangsawan mengirimkan mahkota tersebut kepada Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun) selaku Nalendra Sumedang Larang (yang sudah memeluk Islam).

Pemberian mahkota emas seberat 5 kg tersebut secara simbolik merupakan legitimasi kepada Kerajaan Sumedang Larang sebagai pewaris sah kerajaan Pajajaran yang telah bercerai-berai. Mahkota tersebut masih tersimpan rapih bersama benda-benda pusaka lainnya. Dilihat dari tahunnya, umur mahkota tersebut sudah lebih dari 500 tahun.

Ada juga keris Naga Sastra milik Pangeran Kornel yang anti kolonial. Keris tersebut dikenal sebagai simbol perlawanan Kerajaan Sumedang Larang terhadap kolonial Hindia-Belanda. Saat bersalaman dengan Kolonel Dendels, Pangeran Kornel menggunakan tangan kiri sementara tangan kanannya memegang keris Naga Sastra. Sikap itu sebagai bentuk perlawanannya terhadap kerja rodi pembangunan Jalan Cadas Pangeran – bagian dari ruas jalan  Panarukan -- Anyer yang melewati Sumedang. Selain keris, terdapat ratusan koleksi senjata peninggalan masa lalu baik dalam bentuk pedang, kujang, tombak, dan bahkan rencong.

Mengingat usia dan koleksi benda-benda klasik yang ada di kompleks Gedung Negara, tak heran jika berkembang cerita-cerita mistis seputar lokasi, bangunan, dan benda-benda yang ada di dalamnya. Kisah tentang diganggunya seorang penyanyi kenamaan dari kamar tidur Gedung Negara hanyalah salah satunya saja.

Ziarah ke Makam Pangeran Santri

Mungkin banyak yang bertanya, kenapa ketika menginap di Gedung Negara Sumedang Anies Baswedan bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan apa pun. Bahkan dinyatakan lulus dan mendapat sambutan luar biasa dari bupati, jajaran birokrat serta masyarakat kota penghasil tahu tersebut.

Rupanya sebelum sampai ke Gedung Negara, Anies sudah sowan dulu ke Kompleks Pesarean Gede,yang terletak di Kampung Pesarean, Kota Sumedang. Di kompleks tersebut dimakamkan generasi pertama pendiri Kerajaan Sumedang Larang yaitu Pengeran Santri dan  juga makam Pengeran Kornel. Anies Baswedan datang ziarah ke makam ditemani langsung oleh juru kunci utama yang masih keturunan langsung Sang Pengeran.

Siapakah Pangeran Santri? Pengeran Santri adalah julukan, nama lainnya adalah Pangeran Koesoemadinata I atau Ki Gedeng Sumedang atau Maulana Solih (1530-1578). Disebut Pangeran Santri karena perilakunya yang berakhlak mulia sebagai hasil dari gemblengan pendidikannya di pesantren.

Meski bukan keturunan langsung bangsawan Sumedang Larang, Pangeran Santri dianggap sebagai peletak pertama garis kerajaan Sumedang Larang Islam. Asalnya dari Cirebon, merupakan cucu Syekh Maulana Abdurahman atau Pangeran Panjunan dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut. Jika ditelusur, silsilahnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Pangeran Santri menikah dengan Nyai Ratu Pucuk Umun, yang tiada lain adalah keturunan langsung raja Sumedang kuno. Saat menikah, Ratu Pucuk Umum memang sudah memeluk Islam, sehingga keturunan selanjutnya dididik secara Islam. Dari pernikahannya dengan Pangeran Santri, Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya.

Prabu Geusan Ulun inilah yang mendapat kehormatan warisan mahkota Binokasih dari Kerajaan Pajajaran pasca keruntuhannya. Sejak penyerahan mahkota tersebut, centrum peradaban Sunda otomatis juga berpindah ke Kerajaan Sumedang Larang. Jika peradaban Sunda di era Kerajaan Pajajaran masih belum Islam, di era Sumedang Larang sudah Islam.

Sampai di sini paham khan, kenapa Anies Baswedan aman-aman saja menginap salah satu kamar keramat di Gedung Negara? Jawabannya, ternyata sebelum masuk Gedung Negara, Anies telah terlebih dahulu sowan (ziarah) ke sesepuh yang menjadi pangkal pertama peradaban Sumedang Larang.

Anies memang dikenal sebagai salah satu pemimpin negeri yang selalu mengedepankan keberadaban. Ia tahu dirinya sedang sowan di wilayah yang menjadi jantung peradaban Sunda. Ia tahu adab bertamu: yang senior musti lebih dihormati, yang leluhur diziarahi terlebih dahulu.***