Malam Berkabut

dok.pri

Aku yang pertama mendorong semua orang untuk menjauh. Setelah itu, aku menangis di malam hari dengan suara tertahan. Tidak ada yang tahu karena akulah yang bungkam. Tetapi, aku ingin mereka memahamiku.

Aku terlalu lama hidup di duniaku sendiri, dan sangat terlambat menyadarinya.

Kabut tipis menyelimuti atap-atap dan halaman rumah warga. Mungkin besok langit bakal cerah tanpa awan. Hawa panas, lalu hal itu membuat penjual es krim tersenyum lebar.

Aku duduk di atas penanda rumah baruku. Ukurannya tidak besar, tapi bahan batu menjadikannya sejuk, terutama saat belum terjemur matahari. Kalau ada yang bertanya apa, maka jawabannya adalah nisan.

Benar. Aku sudah mati.

Selain aku, masih ada puluhan sosok yang melakukan hal serupa. Kalian tahu, duduk melamun di teras atau ayunan sambil memandang menara untuk mempertanyakan keinginan sendiri di sore hari, kami para roh juga melakukannya.

Ada yang sedikit berbeda. Bedanya, kami tahu hal apa yang ingin dilakukan. Menjadi lebih baik, dan menyesal tidak melakukannya ketika masih hidup. Saat ini, harapan dan pengetahuan sudah tidak berarti karena kesempatan sudah kedaluwarsa.

Apa kedengaran klise dan payah? Aku tidak bisa menyalahkan kalian yang masih hidup untuk sikapku saat ini.

Ketika masih hidup, makam adalah tempat mengerikan. Melihatnya dari jauh saja sudah membuatku bergidik. Ah, tidak! Tidak perlu melihat karena membayangkan saja sudah cukup. 

Ada wanita bersandar sambil memeluk kain bedong kosong berlumur tanah. Dia bersenandung lirih karena tetap beranggapan bayinya masih di sana. Jarak wanita bermata kosong -secara harfiah- itu sekitar sebelas langkah dari rumahku.

Agak jauh darinya, pria bertopi motif loreng memeluk senapan dengan rokok mencuat di sudut bibir. Percikan api meletup kecil setiap ada angin berembus. 

Di depannya, dua buah makam kecil dibuat bersampingan. Di tengah-tengah, sepasang saudara kembar bermain tebak isi genggaman. Wajah mereka jernih, tapi cairan merah tidak berhenti mengalir dari mata dan telinga.

"Bulannya enggak kelihatan lagi," kata wanita tua di makam, di sampingku. Rambut peraknya melayang-layang disapu angin. Wajah berahang timpang itu menengadah sendu.

"Kabut sih, Nek." Aku ikut menatap ke atas.

"Makin lama, makin tebal," balasnya. "Apa Tuhan sudah memulai hukuman-Nya?"

"Hukuman?" Aku mengalihkan mata ke arahnya.

"Kita punya mata, tapi enggak bisa lihat apa yang pengen dilihat. Apa lagi kalau bukan hukuman?"

"Masuk akal juga. Enggak apa-apa. Besok masih ada," hiburku.

"Jangan ngomong kayak orang hidup gitu," tegurnya. "Kamu harus belajar."

Otak matiku tidak bisa mencerna maksudnya. Setelah menghela napas pelan agar tidak terdengar kasar, aku turun dari nisan, lalu berjalan mengelilingi pemakaman.

"Jangan jauh-jauh," pesan wanita tua itu. Aku hanya mengangguk samar karena leherku sudah tidak bisa dibengkokkan.

Aku sampai di jalan masuk area pemakaman. Dua hari lalu, sekelompok anak-anak lari terbirit-birit karena dua di antara mereka menyadari keberadaanku. Lumayan membuat hati tersinggung. Kami 'kan tidak seburuk itu.

Itulah manusia hidup. Mereka mudah ketakutan pada hal paling remeh. Padahal, pemakaman ini hanya diisi oleh penyesalan dan mimpi mustahil untuk kembali memiliki jantung yang berdetak.

Apa kalian penasaran bagaimana aku mati? Baiklah.

Aku lupa kapan, yang jelas waktu itu sudah malam seperti sekarang. Hujan lebat, dan aku harus mandi karena baru saja terkena guyuran air dari langit penyebab pilek.

Nasib. Ketika kaki kiri melangkah masuk ke kamar mandi, sisa sabun membuatku terpeleset. Hantaman keras ke lantai tegel merenggut nyawaku. Tidak segera, tapi napasku memang habis di malam itu juga.

Cepat. Aku hanya sedikit ingat ketika tubuhku sudah mencapai lantai. Aku bahkan belum percaya kalau manusia bisa mati semudah itu.

"Ya Tuhan!!! Apa itu!?"

 Derap kaki bergerak cepat menjauhi pemakaman. Lagi, aku lagi-lagi membuat manusia hidup salah paham pada rumah baruku.

Karena tidak ingin mengganggu pejalan kaki sensitif, aku pun memutar tubuh, lalu kembali ke rumah. Malam masih panjang, tapi kabut belum juga terlihat berniat menyingkir dari pandangan kami. Mungkin, besok memang bakal panas seperti biasa.

_

"Ide dadakan pas lihat langit mendung sore ini, 13 Juni 2021." (Imel)