Stasiun Tua

SumberGambar:GoogleWallpaperAnime")

Jiwaku semakin sekarat, lelah, dan menyerah karena tidak bisa menahanmu pergi menaiki kereta. Semakin panjang jarak waktu yang tersisa untuk saling mendamba. Stasiun tua yang sudah dilupakan orang sedikit demi sedikit tetap aku kunjungi menunggu kepulanganmu.

“Aku berjanji akan kembali dan mengajakmu pergi.” Kau mencium keningku dua jam sebelum keberangkatan saat itu.

“Kenapa tidak sekarang?” Aku menarik koper yang dipegangmu dengan erat.

“Aku harus memenuhi sebuah undangan khusus.” Kau mencubit pipiku dan kembali merebut koper. Tanpa sepatah kata lagi kau mulai berbalik dan menaiki kereta.

“Katakan yang sebenarnya!” aku berteriak sekeras yang kubisa dan mulai berlari coba untuk mengimbangi laju kereta yang mulai pergi dengan cepat.

Aku bertekuk lutut di stasiun tua ini sendirian, perlahan tertunduk dan menyerah pada perasaan yang mulai patah.

Kini aku bingung harus ke mana? Aku berkeliling di stasiun tua ini setiap waktu. Lalu menemukan selembaran koran yang bersebaran di lantai. Gambar besar sebuah mobil berwarna netral hitam dengan bunga rangkai di depannya terlihat hancur dengan satu gerbong kereta nampak jebol.

Sempat aku ragu apa kau akan kembali padaku, tapi hati ini sudah terpatri. Kau berjanji bulan depan akan pulang, tapi sudah banyak detak waktu bertahun-tahun yang terlewat tanpa ada sosok setia yang berjanji hanya akan berteguh pada satu hati saja. Bangku yang sama di stasiun saat pertama kali aku melihatmu masih ada dan mulai pudar warnanya. Dalam diam aku terus membayangkan jika kau turun dari kereta dan ikut duduk bersamaku lagi di sini, lalu kita bercerita menyurutkan rasa rindu yang dalam melebihi palung terdalam di dunia.

Aku merogoh saku dan merasakan ada sesuatu di dalamnya. Ternyata selebaran kertas yang penuh noda merah darah. Aku tertegun, sesaat berfikir mencoba untuk menjelajahi setiap ruang memori.

Aku teringat tepat tanggal 31 Mei 2005 setelah kita janji pernikahan kau menyelipkan selembar kertas ini.

“Terkadang kita harus lihat dari sudut pandang yang berbeda.” Kau mengedipkan netra dan terus menggoda. Kita bersama menaiki mobil BMW 3 Series Sedan yang dipasangi bunga rangkai kesukaanku.

“Boleh kubuka kertas ini?” tanyaku saat mobil mulai melaju membawa kita menuju sebuah tempat.

“Tentu, itu hasil karyaku semalam karena tidak bisa tidur memikirkan bagaimana bisa aku mendapatkan bidadari bumi yang begitu cantik dan baik.” Kau merubah rona di wajahku yang malu.

Selembar kertas itu menampung guratan-guratan pena yang membentuk suatu wajah.

“Cantik tidak?”

Belum juga menjawab kepalaku tiba-tiba terasa begitu sakit dan buatku tidak sadarkan diri.

Perhatian kereta nomor 101 akan tiba mohon untuk tidak melebihi garis pembatas berwarna kuning.

Sebuah kereta dengan nomor sama yang dulu kau naiki akhirnya kembali. Aku begitu gembira bahkan rela terinjak-injak dan bertahan demi hadirmu. Akan tetapi semua orang yang turun dari kereta tiba-tiba melihat ke arahku. Mereka meledek, berteriak, bahkan menjambak rambut yang susah payah kujaga agar menjadi panjang seperti yang kau suka.

“Pulang bodoh! Lima tahun terlalu lama!” mereka berteriak dengan kata yang sama. Aku menutup telinga dan mencoba bertahan menunggumu yang tak kunjung turun dari kereta. Semua gangguan orang-orang aneh ini berhenti ketika sebuah tamparan keras entah dari mana bersarang di pipiku.

“Gadis koma ini mulai menggerakan jarinya,” samar-samar kudengar seorang perempuan berbicara.

“Aletha!” teriakan panggilan itu buatku tersadar sedang ada di stasiun. Dengan memfokuskan netra aku melihat kau merentangkan kedua lengan seolah menunggu sebuah pelukan.

Aku hanya mengamatimu dari jauh karena orang-orang aneh di stasiun kota ini semakin banyak. Mereka kembali berteriak dan menjambak rambutku.

“Aletha!” teriakanmu kembali kudengar. Dengan susah payah aku berdiri dan berusaha menepis tangan-tangan yang ingin menjambak. Sekuat tenaga aku berlari menghampirimu. Deg…! Sebuah hantaman keras tepat menghantam dadaku buat sesak dan terhenti langkah ini untuk berlari menghampiri.

“Berhasil!” suara teriakan dari perempuan yang tidak dapat kulihat dengan jelas.

“De—Deniel,” suaraku parau memanggilmu. Sejak kapan mataku buram? Aku bahkan tidak dapat melihat sekelilingku sekarang dengan benar.

“Bertahanlah! Ayo pulang!” teriakan-teriakan itu terus berulang.

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu kembali menutup netra dan membukanya lagi perlahan.

“Maaf aku telat, tapi aku membawakan undangan khusus juga untukmu jadi kita bisa pergi bersama sekarang.” Kau tiba-tiba berada di hadapanku dan mengulurkan tangan.

Hatiku hampir saja mati dalam dekapan sepi, tapi sekarang aku senang sekali kau kembali dan mau mengajaku ikut pergi. Terimakasih … telah membawa senyumanku kembali.