Rumah Baru

Ilustrasi by Liputan6.com

Aku menangkupkan tangan ke wajah setelah selesai salam. Sambil berdzikir kupandangi langit-langit rumah yang terbuat dari bambu. Genting-genting menghitam menjamur dimakan usia. Kupandangi tikar tempatku menggelar sajadah. Hawa dingin mulai menusuk karena sudah malam dan tanah ini basah hampir merata seluruh rumah.

Meskipun begitu, aku merasa tentram di rumah ini. Berbeda dengan rumah yang baru. Sejak rumah baru sudah jadi, aku hanya sekali salat di sana. Ibuku sering mengigau ketika aku mulai mengaji. Aku memilih salat dan ngaji di rumah lama agar lebih konsentrasi.

Tanganku kiri menyangga Al-Qur'an. Tangan kanan menahan lembaran agar tidak berbalik ke lain halaman. Jari tengah menarik tali pembatas. Baru saja aku selesai membaca ta'awudz, tiba-tiba Akbar--adikku, membuka pintu dengan tergesa.

"Mbak, Ibu kumat."

Aku ternganga sambil meletakkan tali pembatas ke halaman semula lalu menunduk terpejam. Aku tahu hal ini akan terjadi lagi karena sejak pindah ke rumah baru ibu menjadi bersikap aneh.

Aku berlari ke rumah baru. Kulihat ibu sedang tengkurap dengan mata terpejam tetapi kakinya dibentur-benturkan ke ranjang kayu.

Sudah sejak 1 Januari 2021 ibu seperti ini. Ini sudah hari ke tujuh belas. Aku mendekat memijat kaki ibu. Ibu mengibaskan kakinya seakan tak mau dipijat. Ketika kulepas, ibu kembali membentur-benturkan kakinya di ranjang kayu sambil berbicara setengah berkumur. Sesekali ibu memukul-mukul pinggangnya. Kapan aku ngajinya kalau tiap malam ibu selalu kumat?

Kubaluri kaki ibu dengan minyak. Lama-lama ibu tertidur. Setelah salat isya, aku tidur di dekat ibu dengan perasaan lega. Semoga ibu tidak mengigau yang aneh-aneh lagi.

Baru beberapa jam aku terlelap, kudengar suara orang berteriak seperti sedang dikejar-kejar. Ah, paling cuma mimpi. Tapi suara itu semakin nyata dan aku seperti mengenalinya.

"Ibu!!" Aku terlonjak bangun lalu mengguncang-guncang bahu ibu.

Ibu terkesiap lalu mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Aku kembali tidur sambil memijat kening untuk mengusir pening.

Kembali kudengar teriakan tadi. Kali ini lebih menggema.

"Ibu!!" 

Aku melompat mendekati ibu. Ibu terduduk dengan nafas tak beraturan.

"Ada merah-merah di situ." Ibu menunjuk atap rumah.

Ibu memelukku seperti
ketakutan. Yaa Allah, ada apa dengan ibuku?

"Bulat, oren, di situ, Mbak. Mau nimpa Ibu. Ayo tidur di luar saja yuk, Mbak. Ibu nggak mau di sini."

"Di luar dingin bu, di sini saja ya. Peluk aku sini, istighfar terus ya, jangan kosong."

Aku yakin ada yang tidak beres dengan kamar ini, lebih tepatnya rumah ini. Ada apa dengan rumah ini? Aku menatap ke seluruh sudut kamar. Kenapa ibu sampai takut seperti ini? 

Aku harus melakukan sesuatu. Aku terpejam mencari ketenangan untuk berpikir. Jangan takut, jangan panik, Put, ayo cari cara.

Jika dalam keadaan seperti ini ibu diminta berdzikir, tidak mungkin akan bisa melakukannya dalam jumlah banyak. Aku duduk bersila sambil memegangi ubun-ubun ibu. Teringat saat 2018 lalu, Akbar pernah mengalami hal serupa, mengigau tidak jelas. Saat itu yang kulakukan adalah memegang ubun-ubunnya sambil membaca Al-Ikhlas sebanyak-banyaknya.

Entah kenapa kali ini yang kusebut pertama kali bukan Al-Ikhlas dulu.

"Yaa Allah aku memohon pada-Mu, Yaa Allah ... kuucapkan dzikir ini dan pahalanya aku peruntukkan untuk ibuku. A'udzubikalimaatillahi taammati min syarrimaa kholaq."

Kuucap sebanyak mungkin bacaan tadi. Sambil sesekali kutiupkan pada ubun-ubun ibu. Nafas ibu mulai teratur lalu memilih berbaring.

"Mbak, aku tadi kenapa?"

Aku ternganga. Benarkah ibu lupa atas apa yang baru saja terjadi?

"Besok saja, ya, Bu. Ibu tidur saja."

Aku dan ibu kembali tidur. Aku memilih meletakkan kepalaku sejajar dengan kaki ibu sambil memijatnya.

Tak lama aku melihat gumpalan asap hitam keluar dari tubuh ibu. Sebagian ingin masuk kembali tetapi terpental. Asap hitam itu marah besar dan hendak mencengkeram kakiku. Aku ingin berteriak tetapi suaraku hilang. Seperti orang gagu, aku hanya mampu mengucap sebisaku sambil kakiku mendorong asap itu.

Mataku terbuka. Aku terduduk dengan degup jantung tak beraturan bersamaan dengan ibu yang kembali mengigau.

"Mbak, dingin, Mbak."

Kuambil kaos ibu di keranjang. Kaos ibu basah kuyup. Kulihat layar ponsel, sudah jam satu dini hari.

Setelah memakaikan kaos pada ibu, aku bersiap tidur lagi. Kulihat kaki ibu pucat sekali. Kubaluri minyak agar hangat.

"Aduh! Aduh!" Ibu memegang lutut, pinggang lalu kepala.

"Sebelah mana yang sakit?"

"Sini, sini, sini. Aduh!" Ibu menangis.

Aku kembali duduk di belakang ibu. Mataku berkaca-kaca. Yaa Allah, apa yang terjadi? Lindungilah ibu, lindungilah keluarga kami.

***

Jam sembilan pagi.

"Ini kaos yang kotor, Mbak. Taroh ember."

Dari jam satu sampai jam sembilan ini, ibu sudah lima kali ganti kaos. Minyak pun hanya tinggal seperempat botol dalam waktu semalam.

Pagi ini kuceritakan keanehan yang terjadi pada Pakde Wandi, Pakde Kis dan temannya temanku lewat WA.

Dari balasan pesannya, kudapati pendapat mereka sama. 

Ada yang menanam teluh di rumah ini saat awal pembangunan.

Selesai

Sragen,
Kamis, 10 Juni 2021

#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut