Lelaki Kaki Keresek

Lelaki misterius. Sumber gambar: Kumparan.com

Malam menjelang larut. Suhu udara berada di angka 18°C menurut alat pengukur suhu ruangan milik salah seorang mahasiswi. Para santri segera menggelar kasur lantai di dalam kamar dan di teras. Kebanyakan mereka mengenakan celana training panjang dan baju tebal serta jaket.Tidak jarang di antara mereka yang memakai sarung tangan dan tutup kepala. Setelah semua persiapan selesai, segera mereka bergelung di balik selimut tebal masing-masing.

Malam itu, udara memang lebih dingin dari biasanya. Pukul sebelas,  seolah terkena sirep, semua santri putri di pesantren salaf di kota Malang itu pun terlelap.

Ini kisahku di tahun 2015 saat menjadi mahasiswi yang sekaligus bermukim di pesantren yang sudah menaungiku selama enam tahun.

Di malam yang sangat dingin itu, kusempatkan untuk memakai masker bedak beras dingin di wajah, lalu menutup rapat tubuhku dengan pakaian tebal dan selimut. Kamarku adalah kamar khusus mahasiswi. Jadi, semua penghuni kamar adalah gadis-gadis remaja berusia 18 tahunan.

Tengah malam, terdengar teriakan dari kamar yang berseberangan dengan kamarku.

"Tolooonggg! Ada laki-laki!" Hani, gadis kelas 3 SMA itu histeris. 

Sontak hal itu membuatku dan beberapa santri lainnya tergopoh-gopoh bangun dan menghampiri.

Wajah gadis manis kembang sekolah itu terlihat tegang sekaligus takut. Agaknya telah terjadi sesuatu kepadanya.

"Kenapa, Han?" tanyaku pelan-pelan setelah memberinya sebotol air minum dan dia menengguknya.

Dengan terengah-engah, adik tingkatku itu menceritakan apa yang membuatnya panik dan ketakutan. 

Dia bercerita bahwa dirinya melihat sesosok laki-laki tinggi besar, mengenakan celana dan baju merah, dengan masing-masing kaki terbungkus keresek merah sedang mengintip di salah satu kamar santri putri, kamarku. 
Mendengarnya, aku kaget bukan kepalang. Astaga, kamarku? Seketika aku merinding dan juga cemas. 

Jika dibiarkan, entah apa yang bisa terjadi nanti kepadaku dan yang lain.

Tapi, kalau dipikir-pikir, lucu juga mengingat bagaimana dandananku malam ini. Kuharap lelaki itu akan ketakutan jika melihat wajahku yang seperti hantu. Lagi pula, kami tidak ada yang berpakaian terbuka. 

Malam menggemparkan itu rupanya adalah awal mula teror lelaki kaki keresek di pesantren kami yang sederhana.

Hari demi hari dilalui dengan mencekam. Hampir setiap malam lelaki keresek itu mengintip kamar-kamar santri putri. Pihak pengurus sudah mengerahkan para ustadz untuk melakukan penjagaan, namun nihil, lelaki itu selalu lolos entah bagaimana caranya.

Selalu dengan kostum merah dan kaki telanjang yang terbungkus keresek. Dia biasanya datang di malam-malam yang tak terduga. Tidak ada yang bisa menebak kapan atau bagaimana dia akan datang. Hal itu membuat semua santri ketakutan. Tidak ada lagi yang tidur di teras. Semua berdesak-desakan, berdempetan di dalam kamar. 

Para santri putri senior berjaga setiap malam di beberapa titik. Berbekal sebilah pisau dapur, aku dan dua orang teman mahasiswi berjaga di pintu masuk area kamar depan. Dua teman kami lainnya sedang bersembunyi di dalam kantor yang lampunya dimatikan.

Tanganku gemetar menggenggam pisau yang masih baru, bahkan ada sarung penutupnya. Mata dan telinga telah siaga. Meskipun, jujur saja, jantungku berdebar cepat tak terkendali. Aku ... takut.

Seorang ustadz yang kukenal bernama Fahri, berkeliling di jalan utama pesantren sambil menggeret samurai. Wajahnya tegang, kaku, dan menakutkan. Tubuh kecilnya tak menyurutkan nyali besarnya untuk menangkap si penyusup.

Hingga pukul dua dini hari, tidak ada tanda-tanda kedatangan tamu tak diundang yang sedang kami tunggu.

Sekuat tenaga aku menahan kantuk dan dinginnya udara yang semakin membuat menggigil. Dapat kulihat setiap hembusan napasku berubah menjadi uap yang menyembur dari mulut dan hidung.

Malam berlalu, aku dan para penjaga hanya berdiam sambil membuka mata sampai menjelang subuh.

Konon, lelaki keresek itu bukanlah lelaki biasa dengan obsesi kecenderungan seksual yang berlebihan. Kabarnya, dari penerawangan beberapa orang, dia adalah lelaki yang cukup sakti.

Malam-malam berikutnya berlalu dengan tenang. Kabarnya, di malam saat aku berjaga itu, Ustadz Fahri ada yang melempari punggungnya dengan batu, lalu terdengar siulan. Dengan cepat Ustadz Fahri berlari mencari posisi lelaki itu dengan membawa samurainya. Namun nihil, tidak seorang pun ditemukan.

Suatu malam, saat kami baru saja selesai berjamaah salat isya, listrik mati. Para santri putri yang masih SMP berteriak histeris di kamar mereka. Sementara aku dan beberapa teman sedang berada di dalam kamar, hanya bertiga saja. Kami ketakutan, dinginnya udara malam membuat gemetar. Telinga kami siaga, kalau-kalau terdengar siulan dari luar sana.

Untungnya, tak sampai setengah jam, lampu sudah menyala. Hanya saja, segera  tersebar berita bahwa ada dua santri putri tahfidz sempat dicegat dan dipeluk lelaki besar dalam kegelapan. 

***

Jamaah maghrib sudah tertata. Aku terburu-buru berjalan cepat agar tidak tertinggal. Kami salat di sebuah aula yang besar dan panjang. Pesantren kami berada di tempat yang lebih tinggi. Tanah yang kami injak setiap hari tingginya setara langit-langit rumah penduduk sekitar. Sementara aula tempat salat ini terdapat bukaan yang lebar dan luas di sisi kiri. Saat sudah memasuki aula, di antara beberapa santri yang berlarian mengejar jemaah salat, aku melihat jauh di luar sana, melalui bukaan kiri aula, jauh melewati pagar, sesuatu seperti duduk di atas kubah masjid. Ya, jelas sekali, seorang lelaki muda berkaus garis-garis melintang sedang bersila di kubah sebuah masjid kecil yang tidak jauh dari sini. Aku berdiri lama memastikan apa yang kulihat. Apakah hanya aku yang melihatnya atau yang lain juga? 

Aku menguatkan mental, tak ingin kalah hanya oleh lelaki mesum penganut ilmu yang kuyakin sesat. Kuacungkan telunjuk tepat ke arahnya, lalu mengancamnya lewat kepalan tangan yang kutunjukkan kepadanya.

Sejauh yang kuingat, setelah kejadian itu aku masih sempat beberapa kali melihatnya duduk di kubah, namun tak lagi kuhiraukan.

Hingga saat ini, tidak kutemukan jawaban tentang siapa lelali kaki keresek itu. Yang jelas, dia, entah manusia atau apa, tidak pernah lagi datang hingga aku lulus dari pesantren.

#kisahnyata #tipsmengatasirasatakut