Bayang-Bayang Arwah di Malam Gerhana Bulan Berdarah

Lingkar Film/Google

Bayang-Bayang Arwah di Malam Gerhana Bulan Berdarah
Kartika Catur Pelita
Tudung, gulungan kain hitam terbang, menyelubungi kepalaku. Aku merasa sesak bernapas. Aku meronta, bergerak sekuatnya! Tudung, gulungan kain hitam itu melayang pergi! Terbang!
Aku terbangun, kaos oblongku basah keringat. Bersamaan ponsel bergetar, berbunyi. Aku mengangkatnya. Hanya terdengar gemeresik, suara gumam. Siapa sih yang iseng menelepon malam-malam begini? Layar-layar FB dan IG-ku terpajang foto-foto gerhana bulan. Tampak gambar bulan merah, seperti berdarah. Darah merah seolah menetes. Ih, seram. Aku takut darah. Nyeri. Ngeri.
Aku ingat, ya hari ini, 26 Mei 2021, terjadi gerhana bulan total dan aku tertidur semenjak sore. Tertidur kelelahan setelah lembur mengerjakan detlen tulisan. Sebagai penulis saban hari aku menulis, utamanya menulis cerita-cerita fiksi. 
Aaaah, aku mengambil napas panjang, beranjak dari dipan. Oho, jendela kamarku masih terbuka. Bahkan pintu juga terbuka separuh. Angin malam berkesiur. Menebar dingin dan gigil. Entah, aku tiba-tiba melangkah keluar. Turun ke lantai bawah rusun, menuju halaman. Dari sana melihat langit luas dan tak ada gerhana bulan! Tentu saja bodoh, gumamku, gerhana bulan total telah usai. Aku kemudian balik menaiki tangga kembali ke tingkat lima, tempat kamarku berada.
Malam yang sepi. Penghuni rusun sudah menutup pintu. Aku melewati beberapa pintu yang tak berpenghuni. Kamar-kamar kosong, yang dibiarkan tak berpelita. Gelap. Remang. Ah, aku jadi teringat gosip di angkringan tempo hari,  jika ada yang melihat kuntilanak di beranda rusun lantai empat. Dan sekarang aku melewati beranda dan pintu-pintu kamar kosong itu. Gelap. Tapi tirai kain terasa bergoyang. Dan seperti ada sepasang mata tajam menatapku. Ah, hanya pikiranku saja, kebanyakan menonton film horor, baca-baca buku horor, dan terkadang menulis cerita horor!
Aku bergegas melangkah, setengah berlari, meredupkan debar kencang di dada. Aku sampai di depan pintu. Oh, mengapa pintu terkunci? Seingatku tadi aku membiarkannya terbuka. Siapa di dalam? 
Aku mendorong pintu, seperti ada yang menahan dari dalam. Aku mendorong sekuat tenaga. Pintu terbuka, bersamaan deru angin kencang keluar, dan aku terjerembap ke lantai. Sialan, kutukku, sembari bangun. Lantai terasa dingin. Atis.
Aku merangkak, bangkit dan menyalakan sakelar listrik. Lampu kamarku menyala. Terang. Gamang. Aku memandang seputar kamar. Laptopku yang masih menyala, tergeletak sunyi di meja kerja. Dipanku yang berada tepat di bawah jendela kamar. Jendela kamarku yang masih terbuka. 
Uuuaaaggh, aku menguap, aku merasa mengantuk. Padahal aku sudah tidur beberapa jam, semenjak bakda Asar hingga tengah malam. Namun, entah, rasa kantuk menggelayutiku. Dan rasa pusing yang aneh. Nggeliyeng. Oh, aku merebahkan tubuh di dipan. 
Ragaku lelah, tubuhku, badanku capek, mataku memejam. Aku lena sesaat. Sesaat saja. Karena aku merasakan sesuatu. Antara sadar dan tertidur, aku merasakan sebuah benda, seperti kain hitam, melayang-layang, menghampiriku, menyentuh wajahku. Menggesek-gesek hidungku  pipiku, mataku. Berat, seperti ada sesuatu menindih, aku ingin terbangun, aku ingin membuka mataku. Tapi sulit. Tubuhku terasa tak bisa digerakkan. Tapi aku merasakan kain hitam itu, seperti makhluk hidup, menempel di wajahku, menutupi mataku, mulutku, hingga aku tak bisa bergerak. Aku terpaku. 
Aku merasa sesak napasku. Oh, benda hitam melayang seperti kain hidup ini sebenarnya apakah? Apakah arwah yang menggangguku. Konon arwah bisa mengubah bentuknya menjadi apa saja.
Aku tak mau terbelenggu! Aku harus bisa bangun, bisa sadar! 
Aku di ambang kesadaran. Aku ingat siapa diriku. Aku ingat agamaku. Aku ingat Tuhanku. Aku mendoa. Makhluk hitam serupa kain masih melilit wajahku, sekarang bahkan melilit leherku. Oh, aku sesak bernapas. Aku meronta. Aku berteriak. “Siapa kau, Iblis?! Jangan ganggu aku! Pergi! Pergi! Pergi!”
Aku menggerakkan tubuhku, sekuatku. Aku terlepas. Kain hitam itu melayang, pergi. Napasku kembali lega. 
Aku terbangun. Aku mendapati tubuhku basah keringat. Apa yang telah terjadi? Aku berniat turun dari dipan saat aku merasakan dan melihat bayang hitam, seperti kaki yang sangat besar melangkahiku! Suara langkah itu sangat keras! Deg! Jantungku berdetak kencang. Ketakutan. Ada apa lagi ini?!
Aku mendengar tapak kaki menuju kamar mandi. Makjenggirat aku meloncat dari dipan. Berjingkat-jingkat melangkah ke dapur. Tak ada siapa-siapa? Dari dapur aku ke kamar mandi? Byar. Kunyalakan lampu kamar mandi. Tak ada siapa-siapa. Tapi tadi, demi Tuhan, aku melihat bayang kaki besar dan derap langkah itu.
Apakah kamar yang kutempati ini sarang arwah? Arwah-arwah itu muncul, sekadar ingin berkenalan, atau malah menggangguku? Angin berembus kencang dari jendela. Meniupkan hawa dingin. Tengkukku tiba-tiba merinding. Oh, mengapa aku merasa mengantuk lagi? 
Aku terduduk di lantai. Aku takut tidur. Aku merasa mengantuk, tapi tak ingin tidur. Aku takut kalau tidur aku akan diganggu makhluk berwujud gulungan kain hitam itu. Tapi aku mengantuk. Dan aku tertidur, dan makhluk berupa kain hitam panjang itu datang. Kali ini berupa tudung hitam terbang, ingin menyelubungiku. Menjeratku. Aku berat bernapas. Sesak. 
Aku memberontak. Aku berdoa. Aku melihat gulungan kain hitam itu terbang, menjauh.
Aku terbangun, terduduk di lantai. Keringat gemrobyos. Oh, aku tak boleh bodoh. Aku harus berbuat sesuatu. Agar aku tak tertidur dan diganggu arwah!
Aku bangkit. Aku ke dapur. Merebus air. Menyeduh kopi. Aku berharap kopi bisa mengusir kantukku. Setelah minum kopi, aku berwudu. 
Aku sembahyang tengah malam. Lama aku mendoa dan berzikir. Hingga jam di pergelangan tangan menunjukkan jelang Subuh. Aku mengucap syukur. Subuh telah datang. Panggilan ayat suci dari musala  mengusir bayang-bayang hitam dari kamarku, dan  aku merasakan tubuhku lega dan ketakutan itu sirna. 
                                                                      ***
Esoknya, aku menelepon Ucup yang kamar kosannya, di sebuah rusun di kawasan pesisir kota Jepara, aku tempati. Dari seberang  Ucup cengengesan berkabar. “Semalam gimana tidurmu, Bro? Apakah kamar kosanku menumbuhkan ide nulis novel horor?”
“Aku diganggu bayang-bayang hitam, entah arwah, entah makhluk halus serupa kain hitam terbang. Dan....“
“Dan langkah kaki makhluk hitam tinggi besar?”
“Mengapa kau tak bilang kamarmu angker sih?”
“Sebelum dibangun rusun, dulunya  kawasan empang angker, tempat dibuangnya makhluk halus,  serupa genderuwo, jin, wewe, banaspati. Makanya mereka kadang muncul ingin berkenalan dengan penghuni rusun, Bro!"
                                                                   ***
#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut