Siapa yang Mengunci Pintu

Sumber gambar, Pinterest.

Selama hidup aku belum pernah melihat bagaimana sosok yang disebut hantu. Meskipun begitu, ketika ada orang di sekitar yang membicarakan tentang hantu, seketika itu juga aku merasakan ketakutan. Seolah aku bisa membayangkan bagaimana sosok hantu yang mereka ceritakan. Setelah itu pasti aku tidak akan berani sekadar ke kamar mandi seorang diri. Aku memang penakut.

Pernah suatu ketika aku mengalami hal yang begitu misterius. Untung saja aku tidak mengalaminya sendirian, tapi beberapa keluarga juga. Saat itu sekitar awal Januari tahun 2015. Keluarga besarku sedang berkumpul di rumah nenek yaitu desa Sawahan, Kediri-Jawa Timur karena libur akhir tahun 2014.

Suatu hari bulikku yang rumahnya lumayan dekat dengan nenek sedang mengadakan acara kirim doa untuk putrinya yang sudah meninggal. Dia meminta seluruh keluarga untuk menginap di rumahnya hari itu. Kami pun mengiyakan permintaan bulik, karena tidak ingin membuatnya kecewa. 

"Sebenarnya males kalo tidur di rumah bulik Jum, suasananya kayak gimana gitu," ujar saudara sepupu yang datang dari Bekasi. 

"Iya sih, tapi kasihan kalo nggak dituruti. Toh cuma semalam," bujukku. 

Akhirnya aku dan seluruh keluarga berangkat juga ke rumah bulik Jum. Sebenarnya rumah itu terlihat nyaman, halamannya luas dengan pepohonan yang rindang. Di depan rumah ada pohon rambutan, kelapa, dan mangga. Sedangkan di halaman belakang ada pohon nangka, dan alpukat. Selain itu bulik juga memelihara ayam kampung dan beberapa ekor angsa. 

Saat memasuki ruang tamu suasana masih terasa biasa. Ruangan itu hanya berisi kursi dan meja yang terbuat dari kayu dengan ukiran sederhana. Saat memasuki ruang tengah, entah mengapa aku merinding. Sebuah pigura berukuran besar terdapat foto anak gadis bulik yang sudah meninggal saat berusia sembilan belas tahun karena penyakit lupus. Potret sepupuku itu terlihat cantik dengan kebaya putih dan sanggul adat Jawa. Entah mengapa aku merasa sorot mata dalam foto itu begitu tajam, seperti hidup. 

Di sebelah foto terdapat pigura lain berisi sebuah puisi karya paklik yang tertulis di atas kanvas. Kata-kata dalam puisi itu sungguh menyayat hati. Melambangkan betapa sedih orang tua yang telah ditinggalkan putri semata wayangnya. 

Sejak ditinggalkan anak gadisnya, bulik dan paklik memang sering terlihat sedih. Dua anak bujangnya seolah tak mampu mengobati kesedihan mereka. Kadangkala bulik membeli makanan kesukaan putrinya, lalu membiarkannya begitu saja. Tanpa ada yang boleh menyentuh.

Hari itu raut muka bulik agak sedikit ceria. Dia merasa senang karena keluarga besar mau berkumpul di rumahnya dan menginap. Kami pun segera membantu untuk mempersiapkan acara kirim doa. Aku dan dua sepupu lainnya memasukkan kue-kue ke kotak. Sedangkan ibuku beserta bulik yang lain memasak lauk di dapur. Suasana siang itu masih biasa saja. 

Saat acara selesai, kami pun merasa lelah. Bulik Jum mulai tampak membersihkan salah satu kamar. 

"Nanti kita tidurnya rame-rame aja ya, biar seru," ujar bulik Sri yang awalnya menolak menginap. 

"Iya, Bulik, biar nggak kedinginan juga hehehe," candaku.

"Ya sudah di kamar sini aja, kasurnya ada dua, ada kipas anginnya juga." Bulik Jum menjelaskan.

Karena lelah dan rasa kantuk yang menyerang, kami para perempuan pun masuk kamar, kecuali bulik Jum. Dia akan tidur di kamarnya sendiri. Sementara para sepupu laki-laki dan paklik-paklikku tidur di ruang tengah dengan beralaskan karpet. 

Semakin malam hawa terasa semakin dingin. Saudara-saudaraku tampak sudah terlelap. Tapi ibu masih tampak terjaga. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil menyala dengan begitu kencang. Sontak aku terkejut dan berpikiran yang tidak-tidak. 

"Kenapa itu klakson kog nyala, mengganggu orang tidur saja." Kudengar bulik Jum menggerutu, lalu keluar rumah. 

Setelah itu hening. Aku saling berpandangan dengan ibu. Ibu memberi isyarat agar aku segera tidur. Namun semakin aku mencoba memejamkan mata seolah semakin sulit untuk tertidur. Rasa takut mulai menjalar. Padahal aku sudah membaca doa sebelum tidur, ayat kursi dan tiga surat Qul. 

Beberapa saat kemudian terdengar suara ringkik kuda dari rumah sebelah. Tetangga bulik Jum memang memiliki dua ekor kuda. Dia seorang kusir dokar yang setiap hari mangkal di pasar Pare.

Suara ringkik kuda terdengar bersahutan. Bulu kudukku jadi meremang. Aku semakin tidak bisa tidur. Saat kuda berhenti meringkik, berganti suara angsa yang menggema dari halaman belakang. Aku jadi memikirkan hal-hal yang aneh. Apa mungkin, hewan-hewan itu sedang melihat jin atau hantu, pikirku. 

Aku menarik selimut berupa kain jarik milik bulik. Udara terasa semakin dingin. Padahal kipas angin yang menyala dihadapkan ke tembok dan membelakangi kami.  Aku pun membaca istighfar terus-menerus. Berharap bisa segera terpejam. 

Tak terasa aku pun tertidur. Beberapa jam kemudian aku merasakan udara lebih dingin lagi, terasa tiupan angin menerpa tubuh. Aku memicingkan mata sambil melihat jam dari ponsel. Pukul empat lebih sepuluh menit. Ibu tiba-tiba mengeliatkan tubuh, lalu bangun. 

"Kog dingin sekali, itu siapa yang ngadepin kipasnya ke sini?" tanya ibu. 

Pandanganku segera tertuju pada kipas angin yang kini menghadap ke arah kami. Semua yang tidur di kamar akhirnya terbangun. Dan tidak ada yang mengaku, siapa yang memutar kipas anginnya. Kami semua saling berpandangan.

"Hii, ayo bangun aja, serem amat sih," ujar sepupuku, Nia. 

Bulek Sri pun turun dari kasur. Lalu menuju pintu dan hendak membukanya, namun ternyata terkunci dari luar. Bulik Sri menggedor-gedor daun pintu dan memanggil bulik Jum. 

"Jum, buka pintunya dong! Kenapa sih pake dikunci dari luar segala," teriak bulik Sri. 
Tak berselang lama bulik Jum sudah membuka pintu. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak mengunci pintu sama sekali. Begitu juga dengan keluarga yang tidur di ruang tengah. Aneh sekali bukan, lalu siapa yang mengunci pintu itu? 

Surabaya, 10 Juni 2021

#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut