Bisikan Jin

Sumber dari Google

Namaku, Karin. Aku bungsu dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Berbeda dengan kedua kakakku yang ramah dan suka bergaul, aku tipe penyendiri. Waktuku banyak dihabiskan di kamar sembari memainkan ponsel. Temanku tidak banyak, hanya satu dua orang saja, itu pun hanya teman kuliah.

Kedua kakakku sudah menikah dan memiliki rumah sendiri. Jadi, hanya Ayah, Ibu, dan aku yang tinggal di rumah besar ini. Jika tidak sedang kuliah, aku akan berlama-lama di kamar. Hanya saat makan saja, aku akan ke luar. Selebihnya, kegiatanku banyak dilakukan dalam kamar.

Ayah dan Ibu sudah sering menasihatiku, tetapi hanya sekadar lewat di telinga.

"Jangan di kamar saja, ayo ... ngobrol sini di teras sama Ibu dan Ayah," ajak Ibu, sore itu.

"Males, Bu. Karin lagi baca-baca, nih." Aku menolak ajakan Ibu.

"Ya, udah kalo gitu, tapi jangan lupa salat Asar, Rin. Tar keburu magrib, lho," ucap Ibu mengingatkanku.

Aku hanya diam mendengar ucapan Ibu. Sering kali, Ibu dan Ayah mengingatkan aku untuk salat, tetapi kuabaikan. Entahlah, ada rasa malas untuk mengerjakannya. Padahal jika aku mau, tidak sampai sepuluh menit, empat rakaat bisa kulakukan. Namun, kemalasan melandaku.

***

Pertengahan tahun 2018, aku menikah. Suamiku berasal dari kota yang berbeda. Dia bekerja di salah satu BUMN. Aku yang juga bekerja, terpaksa berhenti dan pindah mengikuti suamiku. Rumah mungil sudah siap untuk ditempati. Kutata rumah itu secantik mungkin.

Saat suamiku bekerja, aku tinggal sendiri di rumah. Kebiasaanku di dalam kamar masih terus kulakukan. Hari terus berganti, mulai ada keanehan yang kurasakan. Di telingaku sering terdengar bisikan-bisikan halus, seperti ada orang yang membicarakanku. Entah, siapa orangnya.

Saat suamiku pulang bekerja, kuceritakan tentang yang kualami. Tentu saja suamiku tertawa. Aku dianggapnya sedang berhalusinasi.

"Makanya keluar rumah, main tuh ke tetangga, biar ada teman ngobrol. Jangan di kamar melulu," ucap suamiku sembari mengelus rambutku.

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan suamiku. Daripada main ke tetangga, tetapi ujung-ujungnya ngerumpi, mending di rumah saja.

Bisikan di telingaku makin terdengar ramai. Hal itu terjadi pada akhir tahun 2018. Namun, hanya berupa bisikan, tidak ada yang tampak di sekitarku. Bahuku terasa berat dan kulitku terasa dingin, membuatku merinding. Aku sudah tidak tahan lagi.

Akhirnya, suamiku menyuruh untuk pulang menemui orang tuaku. Pekerjaan yang menumpuk membuat suamiku tak bisa mengantar sampai ke rumah. Dia hanya mengantarku ke stasiun kereta api. Sekitar tujuh jam, waktu yang kutempuh dari kota asal suamiku ke kota tempat tinggal orang tuaku.

Selama perjalanan, bisikan-bisikan itu masih samar kudengar. Rasa tidak sabar ingin segera ketemu orang tuaku. Pukul 15.30 WIB, aku sampai di rumah. Ayah dan Ibu menyambutku.

Setelah kuceritakan semua, malam harinya, Ayah menyuruh seorang ustaz untuk melihat keadaanku.

Saat ustaz datang, kembali kuceritakan semuanya.

"Kamu sering salat, nggak?" tanya sang ustaz padaku.

"Jarang, Pak," jawabku malu-malu. Ayah dan Ibu tampak mengelengkan kepala. Mungkin mereka terkejut mendengar jawabanku tadi.

"Kamu sering melamun dan menyendiri?" tanya sang ustaz lagi.

"Iya, Pak," jawabku sembari mengangguk membenarkan pertanyaannya.

"Harusnya salat jangan ditinggalkan. Itu bisa jadi pelindungmu. Wajar jika jin itu mengikutimu. Kamu mudah dirasuki karena suka menyendiri, melamun, dan tidak ada benteng yang melindungimu. Sekarang, dia menempel di dekat telingamu." Ucapan sang ustaz membuat aku bergidik ketakutan. Sementara, Ayah dan Ibu tampak terkejut.

Malam itu juga, aku diobati. Pertama-tama, aku meminum sedikit air garam yang sudah dibacakan doa-doa. Lalu, meminum air dari daun sirih yang sudah dihaluskan dan dibacakan doa. Kebetulan, ada daun sirih di kebun belakang rumah. Daun sirih yang dihaluskan juga berguna untuk campuran air jika hendak  mandi.

Selama tujuh hari, aku mandi dengan campuran daun sirih yang dihaluskan. Salat lima waktu, mulai kukerjakan. Awalnya, malas dan terpaksa, tetapi lama-kelamaan mulai terbiasa.

Tujuh hari pertama sudah terlewati. Sang ustaz dipanggil kembali untuk melihat kondisiku. Kami juga sudah menyiapkan tiga buah dogan (kelapa muda) untuk media pengobatanku selanjutnya, sesuai dengan perintah sang ustaz waktu itu. Pada pengobatan kedua ini, ada suamiku ikut mendampingi.

"Sekarang, kamu minum air dari tiga buah dogan ini satu per satu sampai habis," perintah sang ustaz kepadaku, setelah terlebih dahulu ketiga dogan itu dibacakan doa-doa olehnya.

Aku pun meminumnya, ada rasa berbeda dari ketiga buah dogan itu. Ada rasa asin, manis, dan asam. Perutku terasa kembung dan mual. Lalu, kumuntahkan kembali air tadi ke dalam ember yang sebelumnya sudah disediakan. Ada perasaan lega setelah memuntahkannya.

***

Tujuh hari pertama, mandi dengan daun sirih yang dihaluskan sudah dilakukan. Selanjutnya, tujuh hari kedua dengan cara yang sama. Sekarang, tidak terdengar lagi bisikan-bisikan di telingaku. Bahu pun tidak terasa berat lagi. Aku mulai memperbaiki ibadah dan tidak menyendiri lagi di kamar. Meskipun terkadang salat tidak tepat waktu, tetapi selalu kukerjakan. Aku selalu ingat pesan sang ustaz.

"Ingat, berzikir dan jangan lupakan kewajibanmu yang lima waktu itu karena zikir dan salat adalah salah satu benteng yang bisa melindungimu dari perbuatan jahat jin dan manusia."

***
#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut