Hujan Menembus Batas

Ilustrasi : Hujan by Pixabay

Purbalingga 2016

Hujan turun deras pagi ini, langit gelap tertutup mendung.  Waktu berlalu dengan cepat, aku masih resah menunggu hujan reda, sesekali kupandangi jam di dinding ruang tamu.

Sudah pukul 06.45, mengapa hujan semakin deras. Pukul tujuh tepat aku harus tetap berangkat meski masih hujan, batinku.

Ternyata 15 menit berlalu, hujan masih deras basahi bumi, aku bergegas mengambil payung berwarna merah kesayanganku. Sudah terlalu siang, aku tak mau anak-anak menunggu terlalu lama di depan kelasku.

“Ibu, aku berangkat sekarang, hujan belum reda tapi ini sudah siang.” pamitku pada ibu.

“Iya, hati-hati di jalan, ke rumah teman saja jadi nanti bisa berangkat bersama, hari ini mendung dan gelap jangan berjalan sendirian.” jawab ibu penuh khawatir.

“Ibu tenang saja, nanti juga ketemu teman di jalan kok. Biasanya kalau hujan begini mereka tidak naik motor ke sekolah, karena jalan licin penuh tanah.”jawabku sambil tersenyum meyakinkan.

Kugulung celana panjang yang kukenakan agar air tak menyiprat dari sandal yang kupakai dan mengotori pakaianku. Kumantapkan langkah terus berjalan menembus hujan yang semakin deras. Sampai di pertigaan jalan tak kutemukan satu pun temanku, namun tak menyurutkan langkahku untuk berangkat ke sekolah.
Rumah terakhir di dusunku telah aku lewati. Sesaat aku berhenti dan menarik napas panjang, jalan licin karena bekas aspal rusak penuh genangan air dan tanah serta menanjak, ini cukup menguras tenaga.

Aku masih berharap ada salah seorang teman yang akan menemaniku berangkat ke sekolah pagi ini. Kupalingkan wajah ke belakang, yang tampak hanya basah dan gelap. Kabut tipis mulai turun menambah kabur pandangan.
Setelah ini, jalan panjang yang akan kulewati adalah ladang yang penuh dengan tanaman kapulaga, rumpun bambu dan pohon-pohon besar. Lebih tepat disebut alas, karena semak belukar setinggi lutut orang dewasa di sepanjang sisi jalan.

Berjalan pelan, sambil menunggu teman yang mungkin menyusul di belakangku. Kulewati jalan penuh waspada, karena setiap hujan banyak binatang melata dan berbisa seperti ular, lipan, dan kalajengking akan  keluar dari sarang. Sesekali pandanganku menyapu rimbun pohon besar di kanan dan kiri jalan, aku juga harus waspada  takut  akan muncul babi hutan di hari basah  dan gelap.

Siap siaga serta waspada, hanya itu yang mampu kulakukan. Jantungku memompa cepat, berpacu dengan deras hujan yang masih turun. Jalan menanjak membuatku lelah, sesekali berhenti dan kuhirup napas panjang agar tak sampai tersengal. Semakin jauh jalan yang kutempuh kian menanjak, keringat perlahan turun membasahi sekujur tubuhku.

Aku tak mampu mempercepat langkahku karena ini akan membuatku semakin lelah. Samar-samar kudengar suara berbisik sangat dekat di belakangku. Jantungku semakin cepat berdegup. Padahal aku tak mendengar suara langkah kaki di belakangku tadi, mengapa sekarang ada suara laki-laki yang begitu dekat  seolah mengajakku ngobrol, tapi tak jelas kata yang terucap. 

Ingin rasanya aku berbalik mencari tahu siapa orang yang ada di belakangku, tapi kuurungkan niat. Bulu kudukku berdiri, tengkuk mendingin, keringat dingin meluncur perlahan di dahi.

Suara itu masih terus terdengar mengajakku berbicara, namun aku tak menjawab atau menoleh. Sekuat tenaga kupercepat langkah kaki, suara itu semakin keras terdengar mengikuti langkahku. 

Tanganku yang memegang payung bergetar, sekujur tubuh menggigil, takut menjerat pikiran dan aku hanya mampu berdoa dalam hati. Masih dalam ketakutan kulihat semak belukar di sepanjang jalan bergoyang keras seperti tertiup angin atau dipukul-pukul oleh benda keras. 

Hanya semak yang bergerak-gerak, tak ada angin berembus. Apa yang terjadi dengan semak dan rumput di sekelilingku? Apa mungkin makhluk yang mengikutiku marah karena kuabaikan, atau dia mencoba mencari perhatian? tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh menimpa payungku, terdengar suara keras dan payungku bergoyang, seperti ada patahan ranting  yang jatuh. Penasaran kulihat payung, tapi tak ada benda jatuh di atasnya atau ke tanah.
Air mata mulai merembes basahi pipi, rasa takut yang luar biasa kurasakan. Ingin aku berbalik arah untuk kembali, tapi ketakutan menguasai pikiran, aku tak sanggup jika harus melihat sosok yang mengikutiku. Hujan bertambah deras, dan suara itu terdengar semakin keras seperti marah. 

Akhirnya berhasil kulewati seluruh jalan menanjak, kini jalan mulai rata. Semakin cepat langkahku, tinggal berapa puluh meter lagi ada pemukiman penduduk. Aku dapat menarik napas lega, tak ada lagi suara  di belakangku, tak ada semak belukar yang bergerak, ada sedikit perasaan lega dan hujan kini berganti dengan gerimis.

Tiba-tiba terdengar raungan keras menggelegar dari arah jurang. Deras aliran sungai yang gemuruh menambah kengerian, suara itu menggema di bawah sana.
 Ketakutan yang sesaat reda kini kembali datang, akhirnya aku berlari sekuat tenaga, meski napas tersengal tetap tak kuhentikan langkah. Dadaku terasa sesak, seperti ditindih beban berat namun aku terus berlari. 

Jarak yang harus kutempuh hingga sampai ke sekolah masih sekitar 300 meter lagi, kakiku terasa lemas. Kondisi jalan begitu sepi, tak ada siapa pun yang kujumpai.
Akhirnya aku sampai di gerbang sekolah, sesaat kusandarkan tubuhku di sana. Suasana sekolah juga sepi, belum ada anak-anak yang datang karena hujan. Dengan tangan masih gemetar kuambil kunci untuk membuka pintu kelas.

Kakiku tak mampu lagi menopang berat tubuhku, aku jatuh di lantai teras sekolah. Perlahan kusandarkan punggung di tembok, mengatur napas dan mengusir rasa takut.

Jika ada yang melihat, mungkin wajahku sepucat adonan bolu yang mengembang. Gegas kucari botol minum yang kubawa,  air hangat di dalamnya dan membuatku lebih tenang setelah meminumnya.

Pikiranku masih belum mampu mencerna apa yang baru saja kualami. Membaca doa dan berdzikir, hanya itu yang mampu kulakukan sampai merasa tenang kembali.

#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut