Penyusup Jiwa Lili

#fiksi

Penyusup Jiwa Lili

Lili, putri semata wayangku. Aku sangat memperhatikan perkembangannya. Namun aku merasa gagal. Sangat kecolongan. Ketika mendapati makhluk lain menyerupai putriku. Anak itu benar-benar sangat mirip Lili.

Aku dan suamiku sangat memanjakan Lili. Aku dan mas Irwan berupaya keras mencukupi apapun kebutuhannya. Kami tak ingin Lili merasakan apa yang kami rasa saat kecil dulu. Ya, aku dan suamiku sama-sama dibesarkan dalam keluarga kurang mampu.

Namun akhir-akhir ini Lili kurasa berbeda. Aneh. Dia sering bermalas-malasan. Suka menghabiskan waktu dengan ponselnya. Seharian hanya tiduran. Ia hanya bangun ketika lapar. Setelah itu kembali ke kamar. Meninggalkan piring kotornya di atas meja.

Awalnya, aku dan mas Irwan mengira Lili hanya butuh istirahat banyak. Sehingga kami memaklumi kebiasaan buruk itu. Namun lama-lama dia semakin menjadi-jadi. Lili yang dulu gadis energik, sekarang pemalas.

Rumah kami sering berantakan. Dan Lili yang suka bicara keras nan kasar. Mungkin pengaruh pergaulan, pikirku. Tapi setelah ku renungkan, anakku itu hampir tidak pernah keluar rumah. Setiap hari dia hanya bermalasan di kasur.

Putriku sekarang pembangkang. Mulai berani menunjukkan sifat negatifnya. Ia sering ku tegur, karena sengaja meninggalkan ibadah. Menutup telinga rapat-rapat ketika azan bergema. Lili pun tak mau lagi ketika diajak teman-temannya datang ke majelis. Alasan ini lah, itu lah. Aku dan suamiku sering menasihatinya. Agar dia tidak bersikap demikian.

Dan yang lebih mengejutkan adalah, ternyata putriku mempunyai taring di giginya. Ah, mungkin ia mengikuti gaya remaja masa kini. Atau lagi menirukan gaya tokoh dalam film. Jika ku amati, taring itu asli. Bukan tiruan, pasangan. Aku semakin kebingungan di buatnya. Jika taring itu tiruan, seharusnya Lili ke tempat ahlinya, untuk dipasang. Toh kunci rumah aku yang pegang. Atau minimal dia meminta uang dariku atau mas Irwan.

Aku semakin terheran-heran. Sampai tak habis pikir. Ketika tetanggaku menceritakan hal-hal diluar nalar yang terjadi di rumahku. Saat itu, Maya dan anaknya sedang main ke rumah. Ia duduk dan memangku Leon di ruang tamu. Alangkah terkejutnya, ketika tiba-tiba Lili keluar dengan postur tubuh sangat tinggi. Bahkan kepala Lili hampir menyentuh genting. Lili tertawa menyeringai, memperlihatkan taringnya. Membuat Maya bergidik dan jatuh pingsan. Detik kemudian, Lili menghilang di balik tembok. Allah.

Selepas kejadian itu, aku dan mas Irwan sering menjumpai hal-hal mistis di rumah. Siapakah sosok di balik tubuh Lili?

Suatu hari, aku sedang menyapu kamar Lili. Dia sendiri sedang mandi. Tak lupa, aku merapikan spreinya. Allah, mendadak tanganku gemetar. Ketika menyaksikan sprei itu bergerak-gerak sendiri. Seperti ada yang sedang tidur disana. Aku memberanikan diri meraba-raba benda itu. Nihil. Tidak ada apapun. Tapi gerakan itu masih berlanjut

Kejanggalan yang lain, ketika putriku mengenalkan pacarnya kepadaku. Hah, ada apa ini? Lili sudah berjanji untuk tidak pacaran dibawah umur dua puluh tahun. Gadisku itu baru menginjak angka delapan belas. Awalnya biasa saja, hingga aku muak melihatnya. Lili menciumi bibir anak lelaki itu. Terlihat sangat nafsu dan rakus. Peristiwa itu ia lakukan di ruang tamu, di depanku langsung. Miris memang. Tentu pacarnya terlihat risih dan takut. Namun Lili kuat mencengkeram leher anak itu. Duh, Gusti.

Semakin hari, aku dan suamiku dibuat kalang kabut. Bahkan mas Irwan sampai jatuh sakit. Aku merasakan ada keganjilan pada putriku. Seperti ada penyusup dalam jiwanya. Yang membuatku sangat terbelalak, Lili tahu semua apa yang aku pikirkan.

Ketika jam dua malam. Lamat-lamat aku mendengar suara ringkikan kuda di ruang tengah. Pun suara gamelan lengkap dengan tembang-tembangnya. Lalu bau pandang yang menyeruak. Dan lampu yang tiba-tiba paham. Kemudian terdengar suara tangisan anak perempuan yang memilukan. Suara itu mirip tangisan Lili.

Aku beringsut keluar kamar. Tujuanku ke kamar Lili. Deg, seperti palu di hantam ke dadaku. Gusti, ada apa ini? Rumahku dipenuhi asap. Bau-bau aneh menyergap. Seperti kemenyan, lalu aroma melati yang menusuk. Tubuhku seketika tubuhku lemas menyaksikan semua. Samar-samar ku lihat kuda sedang menarik kereta dari arah ruang tamu. Apa aku mimpi?

Ketika lampu ku nyalakan, semua lenyap. Menghilang. Ini benar-benar nyata. Apa aku harus melakukan pembersihan rumah dari energi negatif ini? Ah, aku harus ke kamar Lili. Setibanya disana, mataku menangkap keanehan. Putriku memang terbaring. Namun panjang kakinya melebihi kasur. Kaki Lili mentok ditembok. Aku malah merinding melihatnya. Aku cepat-cepat keluar, kembali ke kamarku. Membangunkan suamiku dan menceritakan semua.

Paginya, kami mengajak Lili ke rumah Kyai. Suamiku sudah kenal sebelumnya. Syukur, anaknya menurut saja. Setibanya disana, kami dibuat sangat terkejut.

“Ingkang njenengan ajak mriki menikah sanes Lili.” (Yang kamu ajak kesini itu bukan Lili)

Aku dan mas Irwan saling berpandangan. Sangat terkejut. Sedang Lili cuek saja. Kami diarahkan masuk ke ruang tengah. Aku dan mas Irwan merasakan hawa sejuk, namun Lili kepanasan. Dan dia lebih memilih keluar, menunggu di halaman.

Setelah Kyai bergabung. Aku dan mas Irwan menjelaskan panjang lebar. Namun sepertinya beliau sudah tahu detailnya.

“Mengko aku mrono nduk!” (Nanti aku kesana nak)

Kami pamit pulang. Diperjalanan, Lili sering memaki-maki diriku. Uring-uringan tak jelas. Bahkan anak itu sampai meludahi bajuku. Aku semakin geram. Namun mencoba menetralisir diri, agar tidak terbakar emosi.

Satu jam kemudian. Kyai dan rekan-rekannya tiba. Kyai melakukan pembersihan rumahku. Satu orang ditugaskan memegangi Lili kuat-kuat. Dan satu lagi sedang merapalkan do'a-do’a dikamar Lili. Aku dan mas Irwan semakin yakin kalau Lili sebenarnya kerasukan.

Aduh, Gusti. Tiba-tiba putriku merangkak. Membuat sanak keluarga dan Orang-orang ketakutan. Lili seperti Macan yang sedang meraung-raung. Suaranya menjadi aneh, tidak seperti biasanya.

Aku menangis melihat semua ini. Tak lama kemudian, Kyai datang kepadaku. Katanya ia menemukan anakku. Aku tak percaya dengan omongannya. Bagaimana bisa, putriku menjadi ganda? Kemudian hening. Aku jatuh tak sadarkan diri.

Ketika sadar,aku langsung ke kamar Lili. Dia sedang duduk dan diberi minum. Di kerubungi orang-orang. Lalu siapa yang sedang meraung di depan?

“Nduk, sing nok kamar iki Lili asli. Sing nggereng iku jin Qorin. Dudu anakmu. Anakmu diturokno jin lawase rong tahun. Saiki wes mbalik.”( Nak,yang ada di kamar ini Lili yang asli. Yang meraung itu jin Qorin. Bukan anakmu. Anakmu ditidurkan jin selama dua tahun. Sekarang sudah kembali.)

Apa aku tak salah mendengar? Lili yang selama ini ku rawat adalah jin Qorin. Konon, jin tersebut diciptakan sebagai kembaran manusia. Dan mendampingi. Mereka hanya terpisah ketika si manusia meninggal. Karena jin tidak bisa masuk ke alam Barzah.

Putriku tertidur selama dua tahun. Jin itu menyembunyikan anakku di kamarnya. Bodohnya aku, yang tak bisa membedakan putri kandungku. Ku peluk anakku erat-erat. Dia merasa sangat ketakutan dan tertekan. Ketika bercerita, pernah di datangi orang yang kembar dengan dirinya, namun bertaring.

Jin itu masih berwujud Lili. Ia meminta di bakar agar kembali ke alamnya. Dan berjanji tidak mengganggu putriku lagi. Ada rasa sesak, ketika jin itu dibakar. Ia masih bewujud anakku. Dan benar saja,ketika api melahap nya. Perlahan ia menghilang dibalik asap.

Malamnya, pacar anakku datang. Lili sangat asing. Aku dan suamiku menjelaskan semuanya. Beruntung anak itu paham dan undur diri. Gusti, aku menemukan anakku kembali. Lili masih seperti yang dulu, putri sholihahku

Dan kata Kyai, jin itu hanya iseng dengan keluargaku. Tak ada maksud lain. Meski aku jengkel. Ketika ia menjadi putriku, dan berani bermain-main dengan pria.