Erep-erep Lancah

Pinterest

"Astagfirullah!"

Dadaku bergemuruh dengan napas tidak beraturan. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Akhirnya, setelah susah payah membuka mata, aku bisa terbangun.

Bibirku terus melangitkan doa. Berharap ketakutan ini segera raib. Namun, sial. Bukannya lenyap, irama jantung semakin menjadi. Kamar temaram yang menyisakan bayang-bayang langit itu sungguh mencekam. Belum lagi dentingan pagar besi yang dipukul padahal lewat tengah malam.

Pernah mengalami ketindihan atau orang tua dulu menyebutnya erep-erep? Mungkin tidak asing lagi. Namun, bagiku. Sedikit berbeda. Jika sebagian orang merasakannya secara tiba-tiba, aku tidak.

Terdengar ganjil memang. Dalam beberapa situasi aku akan tahu kapan erep-erep datang di mimpiku. Percaya atau tidak, itulah kenyataannya. Aku bukan indigo yang mampu melihat sejenisnya. Namun, bukan berarti aku tidak pernah merasakan sesuatu di luar nalar.

Seperti malam ini.

Seolah mendapat alarm. Sebelum mengalami erep-erep, aku seakan melewati gelombang hitam. Ah, tidak. Lebih tepatnya dimensi lain. Sebuah gulungan tak berujung di mana aura pekat melingkupiku.

Di saat itu, kelopakku akan terasa berat, telinga berdenging seolah ragaku terhisap ke dalam lubang tak bertuan. Lalu jantung yang dirampas dari dada membuatku sesak dan di detik bersamaan, mataku sulit terbuka.

Ketindihan ini terjadi berulang kali. Bahkan dulu, hampir setiap malam. Hingga aku terbiasa. Terkadang karena peringatan itu, aku berusaha membuka mata dan memilih terjaga. Meski lebih banyaknya membiarkan erep-erep hinggap di mimpiku hingga esok pagi.

"Palingan lancah jurig, Ya. Nanti juga hilang sendiri." Kalimat yang mamak katakan selalu sama.

Anehnya. Ketindihan sering dikaitkan dengan laba-laba besar jelemaan makhluk halus. Katanya, hewan berkaki delapan itu akan merayap di dinding. Menyebabkan orang bermimpi merasakan sesak napas seperti dicekik, badan kaku dan sulit digerakkan karena diikat oleh jaringnya.

"Ini beda. Ketindihan gak mungkin setiap hari 'kan?" Aku selalu mengelaknya. Situasi yang kualami tidak seperti kebanyakan orang.

"Mungkin itu peringatan. Makanya sebelum tidur, kasur dibersihin dulu. Jangan lupa juga berdoa." Ujung-ujungnya mamak akan berceramah.

Terlahir di sebuah perkampungan yang sedikit banyak mempercayai hal berbau mistis, pemahaman itu kerap terjadi. Meski keluargaku kurang percaya. Namun, rasa takut selalu ada. Apalagi setelah tahu seluk-beluknya.

Katanya, setiap orang akan merasakan erep-erep, minimal seumur hidup sekali. Bisa juga dua sampai tiga kali, tapi aku? Bahkan tidak terhitung jumlahnya. Rasa takut berlebihan itu yang membuatku beberapa kali membaca artikel mengenai ketindihan.

Ketindihan atau bahasa medisnya sleep paralysis adalah salah satu gangguan tidur. Biasanya disebabkan menurun kualitas tidur, kelelahan, bertambah aktifitas fisik dan pikiran seperti stress. Erep-erep bisa dikatakan kondisi setengah sadar antara tidur dan bangun (Hypnagogic Hallucination). Namun, sungguh. Berapa kali kukatakan, ini berbeda.

Apa lagi malam itu, tahun 2016 di Cibeureum, perkampungan tempat aku tinggal. Saat masih mengenyam bangku menengah atas. Ketika babah ke luar kota bersama wawak, kami yang notabenenya perempuam semua memilih tidur di kamarku dengan keadaan lampu dimatikan.

Tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba tubuhku kaku seakan diikat tali dengan mata berat. Tanpa alarm seperti biasanya. Aku yakin sedang tidak berada di alam mimpi. Namun, bagaimana bisa mengalami erep-erep jika aku saja bahkan belum tertidur.

Aku berusaha terbagun dan saat mata terbuka setengahnya, samar-samar kulihat sesosok tua di dekat tembok. Lebih tepatnya duduk di sebelah adikku yang tertidur. Artinya dekat denganku juga karena posisi kami berdempetan.

Aku tidak melihat wajahnya, hanya saja ia memakai kopiah haji, jubah panjang berwarna putih, dan janggut terurai hingga ke perut. Sayup-sayup kudengar pria yang hampir sepenuhnya berbalut cahaya itu berkomat-kamit.

Aku membatu. Di tengah ketakutan, keputusasaan, dan semua rasa berkecamuk di dada. Sekelebat ingatan terlintas. Apakah itu malaikat maut yang akan mengambil nyawaku?

Aku berusaha agar bisa terbangun dari erep-erep ini. Meskipun tidak berada di alam mimpi sekalipun. Namun, seberapa kuat pun mencoba. Hasilnya nihil.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain berserah diri. Jika memang hari ini, aku tiada. Aku hanya meminta pengampunan-Nya. Mencoba ikhlas meski rasanya tidak siap. Belum cukup bekalku untuk berpulang. Sungguh, aku takut mati.

Tangisku tumpah, bersamaan dengan doa yang kulirihkan dalam hati. Aku berada di antara hidup dan mati.

Tak berselang lama, seperti ada tangan yang mencabut sesuatu dalam diriku. Kupikir aku telah mati. Namun, di detik yang sama, mataku langsung terbuka. Aku terbangun seolah sebelumnya tidak terjadi apa pun. Bahkan sosok berjubah putih hilang.

Setelah kejadian itu, perlahan erep-erep tidak mengusik mimpiku lagi. Bahkan sekarang terhitung jari. Aku juga mulai mengubah kebiasaan hidup seperti lebih banyak istirahat, menjaga pola tidur, berdoa, dan mengikuti anjuran tidur menurut sunah nabi.

Sampai sekarang erep-erep itu masih kurasakan, hanya saja tidak sesering dulu. Namun, ketakutan masih kentara menemani malamku. Tentang bagaimana jika saat tertidur, roh keluar dari jasadnya dan pergi, lalu esoknya tidak kembali.

Sungguh, kematian itu nyata adanya. Namun, aku tidak siap tiada secepatnya.

Cianjur, 10 Juni 2021

Palingan lancah jurig = Paling itu laba-laba hantu.

#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut