Seminggu bersama hantu bule

Gambar foto asli istri teman taksiku.

Kisah ini bermula saat aku tertarik untuk menulis sebuah kisah misteri di sebuah aplikasi literasi. Animo para readers yang ternyata melebihi ekspektasiku, membuatku semakin bersemangat melakukan riset dan observasi data-data penunjang kisah yang kutulis. Ya, dalam menulis aku memang tidak pernah setengah-setengah, meskipun yang kutulis adalah cerita fiksi. Informasi yang salah ke pembaca kuanggap sebagai dosa.

Suatu kali ada pembaca yang menuliskan komentar kalau foto rumah yang kujadikan cover cerbungku mirip sekali dengan “rumah hantu” yang ada di kawasan obyek wisata Telogo Puteri, di Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Aku memang mengambil satu foto yang menampilkan sebuah rumah bergaya eropa klasik dari instagram untuk kujadikan cover cerbungku. Penasaran dengan kebenaran komentar pembaca itu, aku langsung searching google, dan hasilnya luar biasa ... banyak sekali foto-foto rumah itu! Lebih menarik lagi, dari artikel-artikel yang kubaca, rata-rata meyakini kalau rumah bergaya eropa bercat putih itu “berpenghuni”, dan yang menghuninya adalah hantu bule!

Langsung saja kuhubungi teman-temanku yang ada di Yogya. Kebetulan aku pernah jadi sopir taksi di kota gudeg itu. Kebetulan pula ada temanku yang sekarang ini jadi youtuber kisah misteri.

Singkat cerita aku berangkat ke Yogya pada tanggal 8 Pebruari 2021 lalu, langsung menuju pondok pesantren Barokah Kalimusada, di daerah Ngaglik, binaan kakak kandungku. Sampai di pondok sekitar habis ashar, kangmasku langsung menunjukkan satu kamar panggung, yang dibuat dari kayu, untuk tidurku malam nanti.

Di pesantrennya kangmasku ini, semua kamar santri memang dibikin panggung, biar cukup lahan, karena memang sangat sempit.

Malam selepas salat isya, Dicky bersama seorang temannya menepati janjinya untuk mengunjungiku di pesantren. Sedikit kaget juga aku melihat perubahan penampilannya yang sangat drastis. Gondrong, jenggot juga panjang, dan memakai sarung batik bermotif hantu yang aku tak tahu apa nama hantu itu–sepertinya sarung itu, edisi pesanan khusus darinya.

Sekelebat aku teringat sosok Dicky yang dulu ganteng, dengan rambut cepak yang selalu berminyak dan seragam taksi yang paling bersih dan rapi diantara sopir-sopir yang lain, termasuk aku sendiri. Jika sopir-sopir yang lain paling banyak beli seragam ke kantor dua biji, si Dicky ini punya empat biji. Sebagai penjual jasa, pelayanan harus prima, kebersihan dan kerapian menjadi syarat utamanya –begitu alasannya, setiap ada yang menyindirnya pamer atau cari muka ke staf kantor.

Hingga akhirnya perusahaan taksi kami gulung tikar terkena imbas pandemi covid-19, pada awal januari 2021 lalu, aku dan Dicky harus berpisah dan tidak pernah lagi berkomunikasi. Aku kembali ke kampung istriku, di Cipari Cilacap, untuk kemudian menggeluti bisnis daging sapi. Yang aku dengar dari Pak Koko, ayah angkatnya Dicky, sekarang dia sedang getol-getolnya jadi youtuber spesialis cerita horor.

Aku merasa bersyukur Dicky menemuiku dengan keseriusan. Dengan detail dia dan temannya yang kemudian aku tahu namanya adalah Imam, silih berganti menerangkan rencana mereka. Mereka mengajakku kolaborasi membuat konten di rumah yang aku tuju itu. Baru aku sadar alasan mereka membawa handycam dan tripod. Namun akhirnya aku menolak ajakan mereka untuk berangkat ke lokasi, malam itu juga. Toh, sebagai ahli digital, Imam pasti akan dengan sangat gampang mengedit penahayaan suatu konten. Akhirnya kami bertiga bersepakat untuk naik, menuju lokasi ba’da subuh.

Pesan kangmasku untuk membaca beberapa surat pendek, aku abaikan. Hari sudah terang, mana ada setan gentayangan.

Baru saja sampai di lokasi, kami bertiga langsung disambut kejadian mistis. Tadinya aku pikir maklum lah di pegunungan, jadi hilangnya sinyal ponsel kami semua tidak perlu dianggap aneh. Namun, begitu kami menyadari ada keganjilan-keganjilan lain, seperti baterai handycam yang tiba-tiba habis, kopi dalam botol yang habis padahal tidak ada yang sempat meminumnya –jarak pesantren sampai lokasi hanya sepuluh menit, dan yang lebih unik lagi rokok kami juga tinggal bungkusnya saja padahal baru sebentar tadi kami sempatkan mampir beli di toko yang tak jauh lokasinya dari rumah seram itu.

Jadi ciut juga nyali kami bertiga. Segera kami turun, namun tiba-tiba saja muncul seorang pemandu wisata memanggil kami.

Bersama sang pemandu yang tidak mau memperkenalkan namanya itu, kami kembali ke lokasi rumah hantu, yang ternyata dikenal dengan nama vila putih, itu. Dari mas pemandu, kami diarahkan untuk tidak membuang ludah, kentut atau kencing sembarangan selama berada dalam area rumah itu.

Sampai di rumah itu, kami bertiga mendiamkan mas pemandu berdiri tegak dan merapalkan sesuatu, tepat di depan pintu rumah. Ajaib! tiba-tiba saja sinyal ponsel kami full, botol kopi kembali penuh, dan bungkus rokok kembali terisi. Hanya baterai handycam saja yang tetap empty.

Kami segera mengambil angel yang tepat untuk pembuatan konten. Kebetulan si mas pemandunya mau menjadi narasumber. Dari mas pemandu wisata, aku mendapatkan banyak informasi terkait vila putih itu.

Jadi, vila itu dibangun pada awal tahun 80-an oleh civitas kampus Wiyata Sarjana Tamansiswa, untuk dijadikan vila sewaan bagi turis. Nah, kebetulan sewaktu Merapi tiba-tiba saja meletus pada tahun 1994, tanpa ada tanda-tandanya terlebih dahulu, sepasang suami-istri bule asal Belanda yang sedang menginap di vila itu tidak sempat menyelamatkan diri. Keduanya mati terkena awan panas bersama sang penjaga vila dan beberapa penduduk lokal yang lain.

Selesai pembuatan konten terjadi lagi kejadian mistis menimpa kami. Cuaca yang tadinya cerah, terang-benderang tiba-tiba saja turun hujan lebat dan angin kencang. Kami berempat langsung tunggang-langgang berlarian turun ke bawah, memasuki sebuah warung kopi, yang memang berdiri berjajar di sekitar Telogo Puteri.

Sambil menikmati kopi, Imam sibuk mengedit video kami. Tiba-tiba saja dia memintaku dan Dicky meneliti isi video. Nampak jelas sosok seorang perempuan berpakaian serba putih dengan rambut pirang tergerai berdiri di balik jendela atas, tepatnya yang diatas pintu berwarna merah. Ada juga sosok genderuwo bersandar di pohon tempat aku menaruh tripod. Yang paling mengerikan bagiku, sosok lelaki paruh baya berpakain ala abdi kraton, memelototkan mata sambil mengacungkan sebatang keris ke arah kami.

Hujan tak juga berhenti. Tepat jam 20.30 WIB, aku memesan taksi online untuk menjemput kami. Dua motor kami, aku titipkan pada pemilik warung, dengan terlebih dahulu memberikan selembar uang dua puluh ribuan.

Aku tidak pulang ke pesantren, karena menurut perkiraanku jam segitu kangmasku sedang sibuk-sibuknya mengisi pengajian kitab kuning. Kebetulan aku juga memiliki kakak perempuan kandung yang tinggal di jalan pintu selatan UPN-Veteran. Ke sanalah tujuanku.

Sesampai di rumah mbakyuku dan kuceritakan semuanya, beliau menyuruhku untuk mandi dan berwudhu terlebih dahulu, sebelum tidur. Saking penatnya, dan kebetulan aku ditempatkan di kamar bekas anak kos, yang terpisah dari rumah mbakyuku, aku langsung saja mengambil bantal dan selimut.

Baru beberapa menit terlelap, aku mengalami tindihan. Sepanjang malam aku mengalaminya berkali-kali, sampai subuh. Bergantian sosok perempuan bule, genderuwo dan bapak berpakaian adat mencekikku. Sorot mata mereka penuh dengan kilatan amarah.

Pagi-pagi sekali Dicky dan Imam menemuiku. Kebetulan mbakyuku buka warung soto. Sambil menikmati soto ayam, mereka berdua bercerita kalau semalaman mereka tidak bisa tidur. Sepanjang malam mengalami tindihan, sama seperti aku.

Sejak kepulanganku dari Yogya, setiap malam selama seminggu penuh aku terus-menerus diganggu oleh ketiga sosok gaib itu. Saking khawatirnya melihat kondisi kesehatanku yang menurun, istriku sampai memanggil seorang Kyai. Pak Kyai menyuruhku mengingat-ingat barangkali ada pantangan yang aku langgar selama berada di sekitar area rumah itu.

Akhirnya aku ingat, kalau kami bertiga membuang putung rokok sembarangan, padahal tiga bungkus penuh rokok habis selama proses pembuatan konten.

Esok paginya, pada tanggal 18 Pebruari 2021 aku kembali berangkat ke Yogya, ditemani istriku dan Pak Kyai. Sampai di rumah itu, Pak Kyai menyuruhku, Dicky dan Imam membacakan fatihah dan doa bagi ketiga mahluk gaib itu. Pak Kyai sendiri aku lihat berjalan mengelilingi rumah itu sambil memutar tasbihnya. Selesai semua ritual Pak Kyai dengan tegas menyuruh kami meminta maaf kepada penghuni rumah.

Sejak saat itu aku tidak lagi diganggu. Kesehatanku berangsur-angsur pulih. Migrain di kepala selama seminggu, hilang begitu saja. Hanya saja setiapkali aku mencoba melanjutkan cerbungku yang kuberi judul “Misteri Rumah Mama” itu, aku masih merasakan kehadiran si hantu bule di sekitarku.

Awalnya aku membesarkan hati dan semangatku dengan beranggapan kalau hantu bule itu juga tertarik membaca kisah yang kutulis, karena memang isinya mengisahkan perjalanan seorang gadis indigo untuk mencari mama kandungnya, yang seorang bule asal Italia. Sayangnya ketika pada akhirnya mereka berdua bisa bertemu, gadis itu harus kecewa dan ketakutan, karena ternyata sosok mamanya adalah sundel bolong!

Namun tiba-tiba saja aku seperti merasa si hantu bule di sampingku memerintahkanku untuk segera membuatkan ending pada kisahku. Akhirnya, kisah misteri yang pada rencana awalnya akan aku buat sampai tiga puluhan bab itu, dengan terpaksa aku endingkan pada bab ke-13. Meskipun aku mendapat kritikan dan bahkan ungkapan kekecewaan dari para readersku, tekadku sudah bulat. Lebih baik dicemooh mereka, daripada terus-terusan diganggu setan.

 

Cilacap, 10 Juni 2021

#kisahnyata

#tipsmengatasirasatakut