Someone Behind Me

Ilustrasi, mobimoto.com

 

Keluar malam sendirian dengan bersepeda motor menempuh jarak hampir 7 kilometer adalah hal biasa bagiku. Ya, itu kulakukan setiap Jum'at malam. Bentang jarak dan gelap malam, bahkan rumah penduduk yang mulai sepi dan tertutup rapat bukanlah satu halangan, karena aku akan bersua dengan kekasih hati setelah berpisah selama sepekan. Ya, beliau sibuk dengan aktifitasnya di Surabaya. 

Malam itu, Jum'at 15 Januari 2021, hampir pukul 10 malam aku menerima telpon dari suami, mengabarkan bahwa jalanan macet, sehingga akan terlambat sampai di titik pemberhentian bus antar kota daerah Papar, Kabupaten Kediri. Maklum, menjelang akhir pekan. 

Aku adalah pribadi yang tak pernah kenal rasa takut di mana pun berada. Bahkan, pukul 12 malam aku pernah menjemput suami sendirian. Namun, malam itu sungguh terasa berbeda dari sebelumnya. Baru saja keluar rumah, memacu motor jarak 200 meter, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Entah apa. Sementara lampu-lampu jalan sepanjang bangunan SMP-ku dulu masih menyala, dan sinarnya cukup menerangi rute yang kulewati. Dengan santai aku memacu sepeda motor seperti biasa. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba gelap gulita bagai sedang menjelajah dalam sebuah gua. Jalanan pun lengang, tak seperti biasa. Ya Allah! Aku baru sadar jika ternyata lampu motorku tak menyala. Dengan terus melanjutkan perjalanan, aku berusaha menyalakan lampu berkali-kali. Nihil. Lampu motor tak mau menyala meski perjalanan melewati daerah persawahan dimulai. 

Konon, sepanjang persawahan yang tanpa penerangan itu sering terjadi kecelakaan dikarenakan kemunculan sosok binatang berkepala manusia secara tiba-tiba. Teringat pula kisah petani setempat saat mengecek air sawah di malam hari, bahwa ada buaya yang menampakkan diri. Belum lagi kisah mitos bahwa area persawahan dan lapangan desaku itu adalah rumah danyang tempat kami tinggal. 

Pikiranku mendadak kacau. Panik karena lampu tak menyala juga setelah berulang kali mencoba menyalakannya. Ingin memacu gas motor lebih cepat lagi, tapi takut jika tiba-tiba ada lubang dan aku malah tersungkur sendirian di tengah kegelapan. Bulan pun tampak tak bersahabat malam itu. Bayangkan! Lampu motor mati, lewat persawahan sendiri, bulan pun tak berseri. Sempurna sudah perjalanan misteriku malam itu. 

"Aku tidak takut! Aku harus bisa melewati ranah angker yang mencapai 1 kilometer lebih ini," bisikku pada diri sendiri. 

Ya, bagaimana pun caranya aku tak mungkin berbalik arah. Sambil berdoa dan memohon keselamatan, aku tetapkan hati untuk terus memantapkan laju sepeda motorku. Namun di saat hati merasa dipermainkan oleh bayangan-bayangan menakutkan itu, aku merasakan ada sesuatu membonceng di belakangku. Meski tak saling bersentuh, tapi aku yakin betul ada yang sedang duduk di jok motorku. Sontak aku gemetaran sambil mempertahankan putaran gas agar tetap stabil. Aku benar-benar takut. Sementara perjalanan di area persawahan masih panjang. 

Angin berhembus lebih kencang, serasa mencekam. Suaranya berpacu dengan deru mesin motorku. Tengkuk dan punggung terasa lebih dingin. Aku masih saja merasakan kehadiran tamu yang tak diundang, sehingga tak punya nyali untuk menoleh sedikit pun. Dalam kekalutan terbersit rasa penasaran. Dengan keberanian yang tersisa, kulirik kaca spion. Tak tampak siapa pun juga, karena memang benar-benar gelap gulita. But I know there is someone behind me. Jika saja mampu, aku akan menjerit sekuat tenaga. Tapi percuma. Tidak ada siapa pun yang akan mendengar. 

Debar jantungku semakin cepat. Getar tanganku semakin terasa. Bulu kuduk pun meremang. Dalam hati aku hanya bisa berharap dia tidak mengganggu atau menyakitiku. Aku mencoba menghibur diri karena memang benar-benar berada pada titik tersulit. Bagaimana mengatasinya? Terus berpikir positif. Bukankah manusia mahkluk paling sempurna? Mungkin saja dia sedang menunjukkan dedikasinya. Mungkin juga memang ingin menumpang saja, bukan untuk menakuti. Atau mungkin memang sengaja, karena tak punya aplikasi gojek, he he he.

Dari jarak 200 meter, tampak lampu rumah penduduk menyala dengan terang. Sebentar lagi aku akan bebas dari gelap dan ketakutan. Benar saja, sebelum mencapai jalanan dengan rumah penduduk, tiba-tiba kurasakan motorku lebih ringan. Hawa dingin itu pergi entah kemana. Syukurlah, hatiku lega meski keringat masih bercucuran. 
Di salah satu masjid penduduk aku menghentikan motor, mengecek apa gerangan penyebab lampu motorku tak menyala. Aneh, baru saja sentil, nyala tuh lampu. Ya Allah! Atau mungkin itu faktor kesengajaan? 

Aku tak habis pikir, malam itu benar-benar telah dipermainkan oleh rasa takut. Bahkan nyali pun serasa mati. Sementara debaran jantung masih belum kembali normal, aku mendapatkan kondisi motorku baik-baik saja. Hanya istighfar dan rasa syukur yang mampu kuucap atas apa yang terjadi. Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, kukirimkan doa untuk semua penghuni alam lain. Semoga Allah mengampuni segala dosa. Wallau'alam bisshawab.

Fn : Danyang adalah sebutan untuk penunggu desa di dsersh kami.

#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut