Misteri Kamar Depan

Cover oleh Gita FU. By:Canva

Saya mendusin lalu melirik jam dinding. Jarum pendek menunjuk angka dua dan jarum panjangnya tepat di angka dua belas. Saya dapati dahi si bungsu berpeluh dan saya mengelapnya perlahan. Hawa begini panas mengungkung, embusan kipas angin di langit-langit ruangan tengah pun tak banyak berguna. 

Saya memilih bangkit dari pembaringan terus keluar kamar. Tenggorokan saya kerontang, butuh guyuran segelas air sejuk. Suara burung malam terdengar melintasi rumah.  Embah mertua pasti akan berseru tiap mendengar jeritan burung tersebut. "Terbang yang jauh, jangan berhenti di sini!" Begitu berulang-ulang. Sebab menurut mitos yang dipegang embah, bunyi burung itu merupakan pertanda bakal ada musibah orang sakit atau meninggal. Ada-ada saja.

Rasa haus saya sudah hilang, bertukar dengan panggilan alam. Saya beranjak ke kamar kecil. Saat menunaikan hajat mau tak mau benak saya membayangkan kegelapan di belakang rumah. Dinding kamar mandi kami berupa separuh tembok separuh bilik bambu. Tentu banyak celah  bagi angin malam untuk menerobos masuk. Saya mempercepat hajat sebelum pikiran liar menguasai diri. Sungguh tak menyenangkan dikuliti oleh kegugupan.

Sampai di kamar saya berniat membaringkan diri. Namun saya merasa seseorang sedang memperhatikan dari ruang tengah, sehingga saya melongok ke penjuru ruangan. Tak ada siapa-siapa selain dua ekor cicak berkejaran di dinding. 

"Kenapa, Mi?" Rupanya suami  terusik oleh tingkah saya barusan. 

"Nggak apa-apa, tadi kayak ada yang ngeliatin," jawab saya. Suami hanya bergumam pendek kemudian kembali memejamkan matanya. 

Ketika kembali berbaring pikiran saya malah terjaga. Rumah ini sudah kami tempati sejak akhir tahun 2015. Sebelumnya kami tinggal di Purwokerto dengan status tukang ngontrak. Mertua saya yang memiliki beberapa rumah, telah menyilakan kami meninggali rumah tua  ini. Alasan mertua saat itu, ketimbang rumah ini dikontrakkan ke orang lain lebih baik ditempati anak sendiri. 

Seolah baru terjadi kemarin, saya ingat betul awal kepindahan kami. Rumah ini kurang terawat. Di beberapa bagian atapnya bocor. Dindingnya begitu kusam. Kusen jendela dan pintu banyak dimakan rayap. Lantainya semen biasa. Kayu penyangga atap dapur hingga kamar mandi pun telah keropos. Tetapi saya mensyukuri halaman belakangnya yang  luas. Ditambah keberadaan tembok keliling,  menjamin  privasi keluarga kami dari mata tetangga. 

Ada dua kamar tidur di sini. Kamar depan, berukuran 3 x 2 meter,  memiliki satu jendela kaca tertutup di dinding selatan dekat plafon, yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi. Kamar ini sebelumnya dijadikan  gudang oleh almarhumah ibu mertua. Tak heran kondisinya begitu kotor, berdebu.   Kabel listrik yang menyambung ke sakelar telah lama putus, sehingga tak bisa dipasangi lampu. 

Adapun kamar kedua luasnya 3 x 4 meter, jendelanya dari kayu berdaun empat yang menghadap timur. Secara fisik ruangannya lebih lega dan memiliki pertukaran udara yang baik. Maka kamar  inilah yang kami pilih dan tempati. 

Semenjak tiba di sini saya dan suami segera membersihkan rumah agar terasa nyaman. Secara bertahap  kami memperbarui warna cat dinding, mengganti plafon teras yang jebol, serta memperbaiki atap yang bocor. Kebetulan kami menganut paham minimalis sehingga tak banyak perabotan yang kami bawa untuk mengisi rumah. Selain itu kami pun melibatkan anak-anak (si bungsu belum lahir) supaya mereka terbiasa dengan lingkungan baru.

Namun yang namanya rumah baru ditempati tetap saja menyimpan sesuatu. Saya yang kebetulan cukup peka, merasakan hawa tak enak di kamar depan itu. Semacam perasaan dialiri listrik statis setiap saya berlama-lama di dalamnya. Setelah saya sampaikan ke suami, kami putuskan bersama-sama merapikan dan membenahi aneka barang di situ. Mungkin dengan cara demikian suasananya menjadi lebih baik.  

Sayangnya perkiraan kami keliru. Tetap saja saya merinding jika mendekati kamar depan. Kala malam tiba perasaan itu makin menekan. Apalagi bila lampu ruang tamu dipadamkan menjelang kami beranjak tidur, aura tak nyaman semakin mengalir keluar dari dalam sana. Membuat saya merasa ketakutan sendiri. 

Oleh sebab itulah saya tidak begitu sering masuk ke kamar depan. Hanya sekadar menyapu sekenanya saja. Selebihnya  saya rapatkan pintu kamar meskipun tak bisa tertutup sepenuhnya (ada kerusakan pada engselnya). Saya pun melarang anak-anak bermain di dalamnya.  

Suatu hari suami mencetuskan gagasan membuat jendela baru di kamar tersebut. Jendela itu haruslah menghadap timur dan bisa dibuka tutup, supaya pertukaran udara dan cahaya bisa maksimal. Barangkali dengan cara demikian bisa mengusir hawa 'dingin' yang saya keluhkan berulang-ulang. 

"Sebelum mbobok tembok untuk jendela, mending betulkan dulu kabelnya, Bi. Biar bisa dipasangi lampu," celetuk saya sebal. Selama ini suami sering beralasan sibuk jualan hingga mengabaikan perkara tersebut. 

"Iya, nanti kalau udah sempat Abi betulkan," jawabnya. Saya mendelik kesal. 

"Bikin jendela itu nggak murah, Bi. Yang paling realistis aja dulu," sahut saya gemas. 

"Iya, Mi, iyaaa," tanggap suami dengan santai. 

Saya geregetan teringat masa itu. Betapa akhirnya kesibukan berjualan nyaris setiap hari membuat kamar depan tidak masuk dalam prioritas suami. Bahkan ia kerap menasihati agar saya melawan  ketakutan tersebut, dan banyak mengamalkan zikir. Selama tak ada gangguan dari sang penghuni tak kasat mata maka tak ada yang perlu dirisaukan, katanya. 

Hingga tibalah kami di bulan Agustus 2017. Embah mertua kakung meninggal dunia. Alhasil embah putri tinggal sebatang kara. Sebagai cucu yang dibesarkan semenjak bayi hingga dewasa bagai anak sendiri oleh beliau berdua, membuat suami berinisiatif mengajak embah putri pindah dari Sokaraja ke Cilacap, bersama kami sekeluarga.  Beliau menyambut penuh sukacita ajakan tersebut. 

Kemudian kami merancang kamar depan agar layak ditempati. Kebetulan ada rezeki tak terduga sehingga kami bisa membuatkan jendela baru, memperbaiki kabel, dan mengecat ulang kamar tersebut. Akhirnya kamar depan terlihat lebih terang dan ramah. Tak berselang lama embah datang dan menetap, hingga sekarang. 

Kembara pikiran saya terputus. Ada suara deritan dipan dari kamar depan, disusul langkah kaki setengah diseret. Tak lama pintu penghubung ruang tengah dan dapur ditarik membuka. Oh, rupanya embah terjaga karena panggilan berkemih datang.

Saya patut bersyukur karena berkat kehadiran beliau kini kamar depan menjadi hangat. Tak ada lagi keseraman yang merayap ke sekujur tubuh.(*)

Cilacap, 090621

#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut