Teror Penghuni Rest Area

Foto ilustrasi dokumen pribadi

Sebenarnya waktu itu sempat ragu saat pertama kali ditawari untuk buka usaha kuliner di Rest Area yang baru selesai dibangun. Tempatnya memang nyaman tapi  berada di salah satu kawasan paling angker di daerahku. Itu sudah terkenal sejak lama bahkan  dari jaman aku belum lahir.  Area hutan yang seram, tidak hanya dari gangguan penghuni tak kasat mata tapi juga dari kawanan begal yang sering merampas kendaraan pengguna jalan. Itu semua karena lokasinya yang dulu sepi dan dikelilingi hutan juga lumayan jauh dari pemukiman. 

Sudah banyak kejadian, bahkan dulu ada yang pernah dibunuh dan mayatnya dibuang di pinggir jalan dan sempat membuat geger warga, semua itu semakin membuat orang takut melintas apalagi saat malam hari. Dan tempat berjualan berada di tengah kawasannya bukit yang sudah terkenal seram. Itu yang menjadi alasan untuk berpikir berulang kali sebelum mengiyakan tawaran temanku. Gerai tempat berjualan juga dibangun hanya beberapa ratus meter dari kuburan PKI yang sudah tidak diragukan lagi keangkerannya oleh penduduk. 

Bayangkan setiap hari aku harus bergumul dengan rasa was-was, ngeri aja kalau-kalau ada penampakan makhluk halus yang usil dan suka mengganggu. Sebagai orang yang bernyali ciut, ini seperti tantangan uji nyali. Tapi ya mau gimana lagi sepertinya tidak ada pilihan lain, akhirnya aku ambil juga kesempatan itu. Demi mencukupi kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan tak bisa ditunda lagi.    

Ini salah satu resiko sebagai single parent. Tidak mudah tapi mau gimana lagi, yang penting masih ada jalan untuk usaha. Jadi ya sudah, nekat saja biar pun setiap hari harus menahan tegang apa lagi saat menjelang malam. Suasana serasa mencekam, setidaknya buat diriku yang penakut ini. Untung saja ada lima pedagang lainnya yang aktif berjualan jadi tidak sehoror perkiraanku. 

Terus terang aku paling tidak bisa menahan rasa takut, untuk itu setiap hari aku memilih pulang cepat dari pedagang lain apalagi mendengar cerita mereka yang sering kali diusilin. Demi Tuhan, aku jangan sampai memergoki penghuni beda dunia di tempat ini apa pun wujudnya. Jadi sebelum masuk warung aku selalu berdoa terlebih dulu sebisaku, sekedar untuk mengurai sedikit rasa takut.

Suatu hari selepas isya warung lumayan rame dan aku pun sibuk menyiapkan ayam kremes juga nasi brongkos pesanan pelanggan. Mbak Asih pemilik gerai soto berbisik lirih dari gerai jus buah yang hanya berbatas dinding bambu. Tidak begitu jelas suaranya karena mungkin tidak ingin didengar para tamu dan perhatianku tersita oleh ayam yang sedang aku goreng. Tadinya kupikir ada gosip terbaru, tapi  ternyata ....

"Mbak Chotie dengar orang ketawa cekikikan nggak dari depan situ. Itu tuh, dari bawah pohon akasia?"

"Nggak dengar, kan di luar memang sepi. Nggak ada tamu yang duduk di depan situ to?" Jawabku balik bertanya aku sendiri tidak menoleh ke arah yang ia tunjuk karena tanganku masih sibuk memotong mentimun buat lalap. 

"Astaghfirullah!" desis perempuan setengah baya itu dan dengan cepat beringsut  ke belakangku.

"Opo iku, jangan bilang liat sesuatu," rengekku gusar tanpa diminta bulu tengkuk pun mulai meremang, sedang kaki loncat tanpa menunggu aba-aba. Duh, perasaan mulai tidak karuan dan reflek kucengkeram lengan Mbak Asih keras. 

"Jangan kencang-kencang pegangnya," tepis Mbak Asih, "memang Mbak Chotie gak lihat? Barusan ada perempuan terbang dari pohon itu ke arah hutan pinus di depan sana," jelasnya lagi, telunjuknya mengarah ke seberang jalan. Membuatku semakin merinding sedikit pun tak ada nyali untuk mendongak ke arah hutan yang gelap gulita.

"Oraaa, Mbak. Emooh, ojo ngasi. Aku nggak mau lihat," rengekku tertahan. Jemariku pun semakin erat mencengkeram lengannya. Aku juga tidak berani melempar pandang ke arah depan apalagi pohon besar yang tumbuh rimbun di sebelah gardu pandang tempat di mana Mbak Asih melihat bayangan itu. Secepatnya kuselesaikan pesanan dan mengantar ke meja tamu dengan tangan yang masih gemetaran. Bergegas duduk berkumpul dengan teman-teman yang lain sambil menunggu pelanggan selesai makan. Ingin segera merapikan dagangan dan buru-buru pulang. Sungguh sudah tidak nyaman untuk berlama-lama di tempat ini. 

Sepanjang perjalanan pulang mulut komat-kamit melafalkan bacaan apa saja yang aku ingat pandangan lurus ke depan sambil sesekali menahan napas. Tidak berani menengok ke sisi jalan yang gelap pekat, sedang dahi dan telapak tangan sudah basah oleh keringat dingin. Perasaan  sedikit lega manakala sudah terlihat terang lampu jalan dan melewati rumah pertama warga di kampung terdekat. Setelah sampai di rumah kejadian tadi masih juga terbayang. Meski aku tidak melihat atau mendengar langsung tapi kan aku di sana dan Mbak Asih jelas-jelas melihatnya, bagiku tetap saja seram. 

Setelah kejadian itu aku semakin tidak punya nyali untuk pergi ke belakang sendirian dengan terpaksa sering kali merepotkan teman-teman. Minta di antar ke kamar mandi, begitu juga saat shalat aku memilih menunggu teman lain untuk berjamaah karena terus terang tidak berani untuk ambil air wudhu di toilet yang berada di bawah saung. Apa lagi selepas Maghrib suasananya yang gelap serasa mencekam. Kabut seringkali turun menambah aura mistis di kawasan ini. Tiap kali merasa ada yang memperhatikan dari kegelapan membuat hati tidak nyaman dan berandai-andai jika ada yang tiba-tiba muncul mengagetkan, membuatku selalu buru-buru dan tidak tenang. 

Seperti malam itu aku kebelet ke belakang tapi teman lain sedang banyak pesanan, tidak enak jika harus minta diantar sementara untuk menunggu mereka selesai sudah tidak tahan lagi. Akhirnya dengan sangat terpaksa memberanikan diri pergi ke kamar mandi yang berada di bawah saung dan hanya diterangi balon lampu dengan bohlam lima watt, nampak temaram. Sedang kolong saung terlihat seperti lubang hitam dan aku harus berjalan melewatinya untuk mencapai kamar mandi. Tak sedikit pun aku berani menoleh ke sisi kanan anak tangga, entahlah seperti ada sesuatu di sana aku bisa merasakan auranya tapi aku berusaha untuk tidak memikirkan itu. Meneruskan menuruni anak tangga dengan berlari kecil dan langsung masuk salah satu dari dua WC yang bersebelahan. Seperti ada orang berdiri di pojokan tepat di bawah toren air tapi aku tidak mau memastikan itu apa atau siapa yang mungkin hanya penglihatanku saja yang salah. Aku buru-buru menuntaskan hajat mengurangi rasa mules yang sudah tidak bisa aku tahan sejak tadi. Tapi, belum juga tuntas tiba-tiba bohlam lima watt itu mendadak padam, ruangan sempit ini mendadak gelap gulita.  Jangan tanya bagaimana perasaanku, dengan panik meraba-raba gayung yang tidak kelihatan untuk segera membersihkan diri. Tidak bisa dibayangkan, sementara keringat dingin sudah merembes deras dari sela pori-pori. 

Spontan aku berteriak panik memanggil nama teman-temanku. Ya Allah, kepala tiba-tiba pening dan gemetaran sementara kaki menapaki anak tangga yang tak terlihat mata. Kembali otak ngelantur membayangkan yang tidak-tidak dengan menahan nafas menuntaskan langkah hingga tangga teratas. Bruuughh. Ternyata ujung rok terinjak, seketika badan limbung terpelanting dan lutut dengan keras mencium tanah. Mata jelalatan dalam gelap buru-buru bangkit dan berlari ke dalam saung yang remang-remang yang hanya diterangi sinar lilin juga nyala senter dari salah satu ponsel . 

Syukurlah, beberapa meja masih terisi tamu yang asik ngobrol.  Nafasku tersengal, kaki terasa lemas juga perih akibat terjatuh tadi dan aku segera duduk  di tengah-tengah temanku yang sedang berkumpul.

"Tumben Mbak Chotie berani sendiri," seloroh Ondos mesem. 

"Terpaksa, udah gak tahan tapi apes bener malah lampu padam gini, gemetaran tau," tukasku berkaca-kaca, berusaha mengatur nafas dan menempelkan telapak tangan yang masih gemetar dan basah di lengan Mbak Asih. 

Setelah beberapa saat akhirnya lampu kembali menyala, untung hanya sebentar. Kepanikanku pun menurun dan segera mengemasi barang-barang untuk bersiap pulang. 

****

Dari pagi warung sepi hanya beberapa tamu yang datang untuk makan siang, bahkan sampai sore juga belum ada tanda-tanda banyak yang akan mampir. Jalanan lengang jarang sekali kendaraan berseliweran tidak seperti malam-malam Minggu biasanya. Mungkin orang-orang malas keluar karena cuaca mendung dan dingin, kabut juga sudah mulai turun di kawasan bukit. 

Setelah shalat Maghrib dari pada tidak ada kerjaan iseng saja kami menyalakan obor dari bunga kapas kering yang banyak tumbuh di belakang saung. Menancapkan di sisi gardu pandang dan membuat tempat itu terlihat semarak. Kami atur berjejer rapi membentuk garis suasana jadi remang-remang oleh pendar cahaya obor menembus kabut tipis yang turun sejak sore tadi, menjadikan suasana terasa dingin dan syahdu. 

Kami ramai-ramai berswafoto lalu bergantian mengambil gambar teman-teman dengan berbagai pose. Sebagian ada yang memegang obor,  jadi teringat waktu kecil suka sekali bermain obor-oboran saat malam tiba. Kami membuat sendiri dari ruas bambu yang diisi minyak tanah dan disumpal dengan kain sebagai sumbunya. Kenangan masa kanak-kanak yang tak terlupakan dan para milenial mana tahu rasanya karena semua itu sudah digantikan oleh gadget. 

Entah mengapa saat berdiri di bawah pohon besar yang ada di sebelah gardu, pelan tapi pasti seperti ada yang meniup tengkukku. Angin dingin menyapu belakang kepala, aku menoleh sekilas tidak ada daun yang bergoyang juga tidak ada siapapun di belakangku karena teman-teman yang lain sedang asik berfoto di depan gardu.
 
Tanpa menunggu kejadian tadi terulang lagi aku bergegas bergabung dengan yang lain berlalu dari bawah pohon. Setelah puas kami pun masuk ke dalam saung karena ada beberapa pengendara yang berhenti untuk memesan kopi dan gorengan anget dan beberapa porsi makan malam dan kami pun kembali larut menyiapkan pesanan tamu masing-masing. 

Setelah semua makanan selesai dihidangkan kami kembali ngumpul di meja pojok sambil melihat-lihat hasil bidikan masing-masing. Saat sedang asik melihat galeri ponsel, tiba-tiba dikagetkan tepukan seseorang.

"Mbak, Mbak. Ini apaan ya?" tanya mbak penjual kopi menyodorkan benda kotak pipih dari pangkuannya.

"Mana?" Aku balas tanya sembari meraih ponsel pintar dari tangannya. 

"Itu, bayangan di sebelah Ondos, coba punya Mbak Chotie ada nggak?" sergahnya penasaran.

Setelah aku perhatikan memang ada bayangan putih seperti orang duduk bersimpuh di awang-awang melayang tidak jauh dari tempat pemuda penjual jus itu  jongkok. Tengkukku kembali meremang sama seperti waktu tadi berdiri tak jauh dari pohon samping gardu tempat bayangan tadi tertangkap kamera. Untuk menghilangkan rasa penasaran kami cocokkan semua hasil bidikan kamera dari ponsel masing-masing. Anehnya hanya satu foto itu saja yang berbeda  meski posisi sama waktunya juga cuma selang beberapa detik. Kan aneh, jika itu bayangan dari efek pendar cahaya otomatis akan tertangkap juga oleh kamera yang lain tidak hanya punya Mbak Lengger dan ini membuat kami merinding berjamaah. 

Sampai rumah masih juga terbayang-bayang, tidak berani melihat foto itu lagi yang sudah jadi trending topik dan dibagikan di grup para penjual. Sebenarnya selama setahun lebih berjualan tidak hanya kejadian ganjil seperti itu saja yang kami alami. Pernah sekali waktu anak gadis Mbak Lengger diganggu hantu berkepala botak yang menyala seperti neon di sela tiang bambu penyangga atap saung di sudut gerai paling ujung. Saking ketakutannya hampir satu minggu Novie sakit. Emaknya sendiri pernah dicolek-colek makhluk tanpa wujud saat ketiduran. Waktu itu hampir tengah malam mereka seperti mengingatkan dan membangunkan dia untuk segera pulang. Nasib baik waktu kejadian itu aku sudah pulang kalau masih di sana otomatis aku tidak berani pulang sendiri dan untungnya aku selalu di jemput sama adik jadi sedikit melegakan.

 Mau tidak percaya bagaimana wong sudah banyak kejadian yang tidak masuk logika. Yah meski jujur aku sendiri belum pernah melihat dengan jelas dan tidak mau juga berinteraksi langsung dengan para penghuni gaib tempat itu. Nyatanya teman-teman yang lain sering diganggu membuatku sering was-was tapi tetap harus berdamai dengan rasa takut setiap harinya, sungguh tidak enak sekali.

Untuk itu aku selalu berusaha tidak mengosongkan pikiran, banyak berzikir dan tidak banyak melamun. Setidaknya itu bisa membesarkan nyaliku yang tadinya sekecil keong. Lambat laun jadi terbiasa dan berani untuk pergi ke kamar mandi sendirian walau terpaksa dan bikin panas dingin.

Kejadian-kejadian ini aku alami awal tahun 2019 - 2020 di kawasan Bukit Dempes salah satu tempat terangker di kotaku dan sekarang area itu masih cukup ramai. Sedang Rest Area sendiri dalam tahap renovasi agar bangunan lebih kokoh dan nyaman untuk para pengunjung. Sepertinya kemistisan daerah itu tidak terlalu mempengaruhi nyatanya masih banyak orang yang datang sekedar untuk meluangkan waktu bersantai dan menikmati sajian kuliner yang tersedia di tempat itu. 

Khotimah Zaenuddin, Pondok Indah 9 Juni 2021

#kisahnyata

#tipsmengurangirasatakut