Suatu Siang di Liu Zhang Li

foto dokpri

Sahabat, sebenarnya saya tidak mau menceritakan kisah ini. Saya hanya mau kisah mengerikan ini menjadi rahasia perjalanan saya dalam berkunjung ke berbagai makam, kuburan, mausoleum, dan monumen tempat orang mati dan arwah berkumpul.

Tetapi, setelah dipertimbangkan masak-masak, ada baiknya kisah ini juga disampaikan. Sebagai  peringatan. segala risiko akibat membaca kisah ini, saya tidak mau ikut menanggungnya.  Bagi yang takut lebih baik berhenti membaca sampai di sini. Bagi yang berani atau penasaran, silakan dilanjut.

Kisahnya sekitar lima tahun yang lalu, Tepatnya pertengahan Maret 2016. 

Udara kota Taipei cukup sejuk. Maklum langit mendung dan mentari enggan menampakkan diri sejak pagi.   Saya melihat ke langit yang berawan dan kemudian melihat ke sekeliling.  Ratusan makam besar kecil dengan berbagai bentuk ada di sekitar.  Mausoleum berbentuk kubah dengan hiasan relung-relung khas, ukiran dalam aksara Arab dan Cina mengingatkan saya bahwa saya berada di makam muslim di bukit Liu Zhang Li. Sejenak saya melirik jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 11  lewat 25 menit siang WIB atau pukul 12.25 waktu Taiwan.  Jam tangan ini memang tidak pernah saya ubah dan selalu menunjukkan waktu di Jakarta.

Saya kemudian duduk di salah satu kursi batu yang ada di kompleks pemakaman, tidak jauh dari mausoleum Jendral Bai Chong Xi.  Sudah cukup rasanya berziarah dan melihat-lihat makam di sini.  Rasa lapar membuat saya berniat untuk segera meninggalkan kompleks makam.  kembali berjalan kaki menuruni bukit menuju Stasiun Metro Liu Zhang Li.

Saya mencoba bangkit berdiri,  lalu mulai melangkah kaki menuruni bukit. Namun kaki terasa sangat berat. Setiap langkah diiringi hentakan ratusan kaki yang seakan mengikuti.  Saya berhenti  sejenak dan melihat ke belakang. Sepi sunyi tidak ada siapa-siapa.  Saya kembali maju dua langkah. Dan suara hentakan kaki berderap bak tentara berbaris terngiang di telinga.   Bulu kuduk saya berdiri. Saya kembali menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Hanya desiran angin , bangunan makam,  serta mausoleum di bawah naungan langit kota Taipei yang mendung berawan.

Apakah suara ini nyata, atau kah hanya halusinasi saya. Mengapa baru sekarang suara ini ada, sementara sudah lebih satu jam saya mengembara di kompleks   pemakaman ini sebelumnya dan tidak terjadi apa-apa. Bahkan saya sangat menikmati suasananya yang sepi? Seribu tanya muncul dalam benak.

Dengan hati mantap saya terus berjalan menuruni tingkat demi tingkat deretan makam menuju Chong De Street di bawah.   Saya beranikan diri melupakan ratusan derap kaki yang mengikuti.   Namun rasa takut saya tidak hanya sampai di sini. Rasanya sudah lama saya berjalan, namun deretan makam tidak ada habis-habisnya.  Dan ketika saya berhenti berjalan dengan sedikit terengah-engah.   Ternyata saya masih ada di tempat yang sama. Di dekat kursi batu di dekat Mausoleum Jendral Bai Chong Xi.

Saya kembali duduk di kursi batu.  Menoleh ke sekeliling, Sepi, tidak ada seorang pun walau menurut perasaan dan naluri saya seperti tidak sendirian di sini.  

Saya membuka ransel. Mengambil botol air mineral dan menengguk airnya. Mencoba menenangkan diri. Pengalaman berkunjung ke banyak makam membuat saya mencoba santai sejenak.   Saya membuka gadget.  Menghidupkan Google Map dan mencari lokasi Stasiun  Liu Zhang Li . Mungkin dengan mengikuti Google Map, saya tidak akan tersesat atau hanya berputar di tempat yang sama. Tetapi sayang. Google Map juga tidak bekerja. Mungkin tidak ada sinyal di kawasan pemakaman ini? 

Kembali terduduk, saya mainkan gadget dan secara tidak sengaja mengaktifkan kamera dan teringat belum berfoto di sini. Kamera Selfi saya hidupkan dan segera bergaya dengan latar belakang taman dan makam.   Alangkah kagetnya, karena di belakang saya ternyata banyak penampakan yang menyeramkan sehingga gadget  langsung disimpan kembali di saku.  

Saya kembali berjalan cepat menuruni bukit , mencoba mencari jalan tersingkat menuju jalan raya.  Ratusan derap langkah kaki kembali seakan mengiringi setiap langkah, namun saya sudah tidak peduli.  Saya terus berlari dan berlari.  

Saya terus berlari. Sampai akhirnya terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Suara azan bergema dari gadget.  Terbangun dan sadar lalu melihat ke sekeliling. Ternyata saya masih ada di kursi batu yang sama. 

***

#Kisahnyata

#Tipsmengatasirasatakut

Bekasi, 9 Juni 2021