Sebuah Ketakutan

Rasa Takut Bukan Rasa Cinta

Pernah mengalami rasa takut?

Beberapa hal yang kerap menjadi pemicu kengerian atau rasa takut itu sebenarnya apa yang akan terjadi di masa depan tentang kejadian yang ada dalam imajinasi dan belum tentu terjadi.

Terkadang, rasa takut itu mengendalikan kita. Namun kita harus bisa sesekali untuk mengendalikannya, jangan sampai cilaka ku paripolah sorangan, atau takut dengan apa yang ada di belakang kita lalu berlari hingga terjatuh padahal di belakang tidak ada apapun hanya ada ketakutan yang kita hasilkan sendiri.

Teruslah menatap ke arah depan saat kita merasa ada hantu di belakang. Kenapa? Karena bisa saja memang ada atau hanya sebuah rasa takut yang diciptakan jiwa.

“Baca pesannya, De!” Kakakku berteriak dari kamar sebelah.

Aku mengambil gawai yang tergeletak di meja belajar dan membuka pesan yang kakak kirim. Ternyata sebuah link video di youtube dari akun bernama Jurnalrisa yang baru mengupload video terbaru kemarin tanggal 19 Juli 2019 dengan judul kembalinya Asih.

Sendirian, dalam keheningan di dalam kamar aku mulai untuk menontonnya. Tidak ada jumpscare sedikit pun tapi mediasi yang mereka lakukan dengan makhluk alam lain begitu menegangkan. Apalagi sosok utamanya yaitu Asih begitu menyeramkan saat digambarkan dan saat mediasi Asih menyanyikan sebuah lagu, lagu yang biasanya kunyanyikan saat kecil. Lagu indung-indung. Katanya, jika kita menyanyikan lagu itu terus sosok Asih akan datang. Spontan aku mematikan gawai sebelum tamat video yang ditonton.

“Astagfirulloh!” Aku terperanjat melihat kakak yang tiba-tiba membuka pintu kamar.

Kakak tertawa puas dan kembali menutup pintu kamar, buat keheningan kembali datang. Aku merebahkan tubuh memandangi langit kamar yang baru dicat berwarna kuning minggu lalu. Semerbak aroma melati menusuk penciuman menyesakkan pernafasan.

Aku berlari ke luar kamar dan menghampiri ibu yang yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

“Kenapa seperti ketakutan?”

“Bi—Biasa seperti ada aneh saja,” jawabku sembari mengambil salah satu bantal menganggur di atas kursi.

“Habis nonton hantu, ya? Kemarin makan pedas, kan? Duh, pasti maag-na kambuh.” Ibu memukulku pelan lalu kembali fokus menonton.

Memang jika maag yang kuderita ini kambuh, halusinasi dan perasaan tidak nyaman pasti selalu ada, apalagi rasa tidak enak badan di bagian perut. Ditambah tadi aku malah menonton video rekomendasi dari kakak.

Jam sepuluh malam aku disuruh untuk tidur dan meminum obat dulu. Sesuai sunah-sunah sebelum tidur aku menyikat gigit lalu berwudhu. Namun, setiap bagian wudhu membasuh wajah saat memejamkan mata, ribuan bayangan mahkluk tak jelas dengan wajah hancur lebur muncul dan berlari-lari dalam pikiran. Berhasil buatku kembali gagal untuk melakukan wudhu.

“Indung indung kepala lindung. Hujan di udik disini mendung.” Penggalan lagu itu terbesit dalam atma seketika buatku berlari keluar dari wc dan terjadi keributan karena tidak sengaja sampai menendang sebuah gelas di ruang tengah.

Penggalan lagu yang dinyanyikan sosok Asih dalam video yang kutonton tadi terus menggema dalam kepala. Katanya, jika kita terus menyanyikannya dalam pikiran, sosok itu akan datang. Tremor, getaran tanpa sadar kini terjadi pada tangan dan kakiku.

Sekuat tenaga aku mencoba ke kamar adik yang ada di samping ruang tamu, lalu membangunkannya dengan susah payah.

“Tangannya kenapa?” tanya adik sembari menunjuk lenganku yang terus bergetar.

“Biasalah… yu sing pentir anter ke wc,” jawabku sambil memfokuskan mata ke arah ruang tamu yang gelap tanpa penerangan. Seperti ada sosok yang sedang duduk di sana, tapi siapa?

Padahal sudah ditemani oleh adik, tapi aku terus gagal untuk wudhu karena bayangan-bayangan menakutkan itu. Hingga akhirnya aku coba untuk tetap membuka mata saat membasuh wajah dan akhirnya berhasil.

“De, ada sosok hitam besar di ruang tamu, loh! Apa karena aku inget terus lagu indung-indung?” aku menyampaikan keluh kesah sembari berjalan bersama menuju kamar.

“Hantu? Kalo solat mereka takut yu lihat.” adikku berbelok ke arah ruang tamu dengan beraninya.

“Astagfirulloh … allohu akbar,” aku terus bergumam membaca segala yang kubisa. Perlahan menyusul adikku yang sudah menyalakan lampu ruang tamu.

“Tuh! Bantal numpuk, nya?” adikku menujuk posisi di mana tadi aku melihat sosok hitam dalam kegelapan. Lampu kembali dimatikan dan benar sosok hitam itu kembali terlihat. Sebuah bayangan dari tumpukan bantal yang begitu mengerikan.

Malam ini aku putuskan untuk tidur dengan adik dan memakai dua selimut sekaligus.

“Kak, masih takut?” Adik menarik selimut dan merengkuh kedua lenganku.

“Lagunya terus terbayang,” jawabku.

Adikku mengangguk-angguk lalu menekan-nekan ibu jariku dan bilang jika hal itu bisa mengurangi rasa tegang.

Aku pun mencoba untuk melakukannya sendiri sembari terus melantunkan ayat kursi sampai tidak terasa entah kapan aku pun tertidur.

#kisahnyata

#tipsmengatasirasatakut