Tatapan Sang Boneka

Boneka Terseram

Kamar anak perempuan selalu identik dengan boneka. Diletakkan dalam satu lemari full boneka atau ditata rapi di atas kasur untuk menemani tidur. Walaupun si anak perempuan tidak begitu tertarik dengan boneka, tapi Ibu selalu ingin menghias kamar anak perempuannya dengan boneka.

Seperti itulah kamarku, nuansa pink dengan berbagai jenis boneka di dalamnya. Ada boneka Harimau, Donal Bebek, Monyet, sampai yang berbentuk Anjing pun ada. Tidak ketinggalan boneka bayi, ibu bayi dan bayi raksasa. Semasa kecil semua boneka ini menjadi temanku agar tidak kesepian saat tidur.

Hari ini semua boneka itu hanya pajangan yang mulai kusingkirkan ke atas lemari. Ibuku tidak mengizinkanku untuk membuang boneka itu. Tidak ada yang salah dengan boneka-bonekaku, hingga suatu hari sebuah informasi seram kudapat dari temanku.

“Kamu masih menyimpan boneka-boneka itu di kamarmu,” ujarnya dengan santai sambil ngemil.

“Gak boleh dibuang sama Ibuk!” jawabku.

“Kamu tahu? Tiap malam hari boneka itu bakal liatin kamu tidur dan matanya merah!”

Beberapa detik aku diam sampai akhirnya meledakkan tawa di depan Fitri temanku.

“Serius! Coba saja kalau tidak percaya kamu tatap boneka Anjing sama Bayi besar itu!” Fitri menunjuk boneka yang ada di atas lemari.

Aku hanya mengangguk supaya obrolan tidak berfaedah ini segera berakhir.

***

Malam ini aku begadang melanjutkan Skripsiku yang baru berjalan seperempat. Kulirik jam dinding menunjuk angka setengah 1 dini hari. Mataku sudah merek melek, beberapa kali analisaku kabur akibat ngantuk berat. Akhirnya kuhentikan kegiatan memeras otak ini.

Aku ke kamar mandi untuk menyegarkan wajah lalu bersiap tidur. Aku berbaring di atas kasur, rasa lelah ingin segera diistirahatkan. Sekilas aku melihat ke atas lemari. Aku menatap boneka bayi besar di atas sana. Tidak ada yang aneh.

Cicak berbunyi bersahut-sahutan. Kulihat 3 Cicak mendekati boneka bayi besar dengan suara yang semakin keras. Aku memalingkan wajah dan menutup telinga dengan bantal kecil. Gara-gara suara Cicak inilah aku jadi teringat ucapan Fitri kemarin. Dia mengatakan boneka akan mengawasiku saat malam hari dengan mata merah.

Seketika bulu kudukku berdiri, seperti ada desir belaian angin dingin membelai kulitku. Tapi sungguh tidak ada angin saat ini. Suara Cicak itu sangat mengganggu, tidak sengaja aku memalingkan wajah dan melihat ke arah boneka bayi!

“Aaaah!” aku berteriak kencang namun segera kututup mulutku karena masih sadar bahwa ini sudah larut malam.

Wajah boneka bayiku terlihat membesar. Segera aku menutup mata lalu beranjak dari kasur menuju kamar kosong di sebelah kamarku. Jantungku berdegup kencang, namun akal sehatku masih mengatakan bahwa itu hanyalah halusinasi.

Sampai di pagi hari aku beranikan diri untuk melihat boneka bayi. Tidak ada yang aneh semuanya normal. Benar kemarin hanyalah halusinasiku. Aku tidak akan tidur larut malam lagi. Dan aku sudah memutuskan untuk memindahkan boneka-boneka ini ke ruangan sebelah.

Sepulang bimbingan Skripsi aku berniat langsung tidur siang karena lelah seharian menunggu dosen pembimbing yang PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Aku langsung masuk kamar dan tidur terlentang. Posisi tidur ternyamanku adalah menghadap sebelah kanan.

Kuhadapkan badanku ke kanan.

“Allahu Akbar!”

Jantungku rasanya mau copot dan berhenti bekerja karena di sampingku ada boneka bayi yang tidur menghadapku. Mata sebelah kirinya hilang menyisakan bolongan hitam, badannya kotor berbau, rambutnya bergumpal tanah. Kali ini aku menjerit dengan keras lalu keluar kamar. Aku mencari ibu.

“Kenapa sih, Nak baru datang langsung teriak-teriak. Kamu ini sudah besar!” omel ibuku.

“Ibu yang mindahin boneka itu ke kamar aku?” masih histeris, aku bersembunyi di belakang ibu sambil menunjuk boneka bayi.

“Enggak, kemaren Ibu letakkan boneka itu di gudang karena sudah kotor!”

“Ibuk!!!”

#KisahNyata

#TipsMengatasiRasaTakut 

sumber gambar : Boneka terseram di dunia