Kamar Mandi di Bawah Tangga

Ilustrasi

Siapa yang tidak punya rasa takut?

Meski sedikit, setiap orang pasti pernah mengalami rasa takut terhadap sesuatu. Hanya saja, ada yang dilemahkan oleh ketakutannya sendiri, ada juga yang berupaya melawan rasa takut itu. Jika aku yang ditanya tentang rasa takut, sesungguhnya aku pernah bertekad untuk menjadi sosok perempuan yang pemberani. Aku pernah beranggapan bahwa menjadi penakut hanya merugikan diri sendiri. Banyak hal yang menjadi tidak terselesaikan karena dihantui rasa takut di tengah jalan. Penakut juga hanya akan mengundang kedatangan para bandit tukang bully, sebab penakut adalah target paling empuk dan gampang untuk dikerjai.

Namaku Lily, bekerja sebagai agen asuransi yang berkantor di  jalan Jendral Sudirman. Setiap pagi aku menumpang bus Trasnjakarta menuju kantor bersama para pejuang karir Jakarta. Turun dari bus, masih harus berjalan menyusuri JPO menuju gedung tempatku bekerja. Sebagai staf yang menempati level dasar dengan pendapatan yang belum jelas, aku harus memenuhi kebutuhan dengan standar yang rendah. Aku berusaha mencari tempat tinggal dengan harga sewa yang rendah pula. Salah satu rekan kerja menawarkan kalau mau kosan yang murah, ngekos aja sama dia. Kebetulan di kamar atas ada yang kosong, katanya. Akhirnya aku dapat kosan yang lumayan murah.

Saat itu tahun 2015, aku ngekos di daerah Bendungan Hilir, di pemukiman  dekat Kuburan Karet yang terkenal wingit. Dan setelah resmi menyewa salah satu kamar, baru lah  aku tahu kenapa biaya sewanya begitu murah. Cerita seram jadi sering mendarat di telinga, baik secara sengaja atau tidak. Di rumah kos ini, semua cerita bermuara pada kamar mandi di bawah tangga. Ada empat kamar mandi di area itu. Satu di bawah tangga sedang tiga lainnya berjajar di seberang, menghadap tangga. Tak ada satu pun penghuni kos yang mau menggunakan kamar mandi angker itu. Bahkan jika tiga kamar mandi lain sedang digunakan semua, mereka  memilih untuk mengantre.

Rumah kos ini berupa bangunan dua lantai. Aku menempati kamar di lantai dua. Lantai atas ini terbuat dari kayu, sehingga suara langkah di luar kamar dapat  terdengar cukup jelas. Seperti malam itu, ketika aku berusaha memejamkan mata untuk tidur lebih awal, sebab besok aku harus berangkat pagi-pagi sekali. Ada pekerjaan yang harus disiapkan sebelum meeting dengan semua agen. Namun suara di luar membuatku tak bisa tidur. Ternyata ini baru awal dari semuanya. Rasa takut itu mulai menyeruak, saat aku tak mendapati siapa pun di luar kamar. Lorong kos lantai dua sunyi. Padahal jelas-jelas suara berlarian itu masih terdengar beberapa detik sebelum membuka pintu. Aku tidak bisa tidur nyenyak hingga dini hari. Tiga puluh menit sebelum adzan subuh, aku memutuskan untuk mandi.

Sialnya, tiga kamar mandi itu telah terisi. Gemericik air menandakan ada penghuninya. Sekilas, aku melirik kamar mandi kosong di situ. Bimbang. Jika tidak mandi sekarang, maka aku akan terlambat nanti. Aku mematung di ujung tangga untuk beberapa saat, menimang-nimang keputusan sambil menunggu kalau-kalau salah satu orang di kamar mandi itu selesai dan membuka pintu. Tapi, kurang-lebih lima belas menit mereka masih asik mengaduk-aduk air saja tampaknya. Sambil meyakinkan diri bahwa aku tidak takut, akhirnya nekat memakai kamar mandi itu. Pintunya memang selalu dibiarkan terbuka. Dulu, temanku pernah bilang kalau terpaksa menggunakan kamar mandi bawah tangga, pintunya jangan dirapatkan. Tapi aku lupa. Sejenak aku beradaptasi dengan hawa dingin dalam ruang kecil ini. Lampu 2,5 watt bercahaya kuning memberikan kesan temaram. Tengkuk rasanya tebal saking dingin yang tak biasa. Sementara air mengalir begitu lamban dari kran. Tidak sederas kamar mandi yang lain.

Mungkin karena dipakai bersamaan, pikirku.

Aku membasuh ember dan gayung yang sedikit berlumut sebab air tak segera bertukar. Sambil menampung air, mataku bergerilya ke sekeliling dan hati terus berikrar, aku tidak takut.

Apa itu tadi?

Mataku menangkap sekelebat wajah hitam melalui lubang ventilasi. Namun ketika kuamati lebih jelas, bayangan itu tak ada. Hanya memampang besi bagian bawah tangga. Lututku terasa lemas. Langsung saja mengguyur badan asal-asalan, lalu menyambar handuk dan melilitkannya, tanpa sempat berpakaian langsung meraih gagang pintu.

Na'as. Pintunya tak bisa dibuka. Lututku semakin  lemas dan tak mampu berteriak. Tanganku seolah tangkai layu tak berdaya menggedor pintu. Dalam hatiku terus merapal surat pendek yang masih kuingat sambil menghimpun kekuatan. Aku harus keluar. Setelah agak lama, akhirnya pintu terbuka karena ada yang mendobrak dari luar. Namun di luar tak ada siapa-siapa. Kamar mandi masih tertutup dan suara gemericik air masih terdengar. Dengan lutut yang masih terasa lemas, susah payah aku meniti tangga yang terasa menjadi sangat panjang. Kemudian setiba di atas, aku berlari melewati lorong menuju kamar. Sebelum menutup pintu, aku masih sempat menoleh ke ujung. Seperti tadi, aku lagi-lagi melihat bayangan sesosok entah apa itu. Tapi aku tak ingin mengamatinya lebih jelas, melainkan langsung menutup pintu.

Adzan subuh bergema dari toa mushala, membuatku sedikit bernapas lega. Meski masih gemetar, aku memakai mukena. Untuk kali ini, biar aku tayamum saja. Seiring hari mulai terang, aku bersiap untuk ke kantor. Rasa takut, lutut lemas dan debaran itu perlahan-lahan pudar. Selanjutnya, aku tidak mengingat-ingat kejadian itu. Begitu memang caraku lepas dari rasa takut yang mendarah daging. Aku bukan penakut, sebenarnya. Namun ketika dihadapkan sesuatu yang ditakuti orang lain, aku memilih menghindar. Misalnya yang berhubungan dengan dunia lain seperti ini. Aku percaya makhluk halus itu ada, tapi bukan pengganggu. Tempat angker itu juga ada tapi aku tidak boleh jadi penakut.

Banjir yang melanda kawasan ini akhirnya menjadi alasanku untuk angkat kaki. Resign dari perusahaan, dan menjalani hidup di kampung halaman hingga sekarang.
 

#kisahnyata
#tipsmengatasirasatakut

 

*) JPO = Jembatan Penyeberangan Orang