Menulis di Malam Hari

dok.pri

Takut dan benci itu tidak sama. Mereka hinggap di dahan berbeda. Puluhan manusia mengantre untuk membeli tiket “Conjuring”, lalu pulang dengan lutut bergetar dan jantung berdegup di atas kecepatan normal. Saat tiba di rumah, sebagian dari mereka sampai harus menodong saudara agar bisa pergi ke toilet.

Tingkah yang imut, ‘kan? Seriously, di mataku itu memang imut.

Aku penakut, tapi menulis tentang kehidupan makhluk mati adalah kesukaanku. Mayat hidup, ghoul, atau hantu penasaran, mereka terlalu indah untuk dinikmati saja. Sayangnya, menulis di malam hari ternyata bukan ide bagus. Apa hubungannya? Aku akan menjawabnya setelah ini.

Jadi, aku suka membuat cerita horor hantu-hantu. Malam hari adalah saat terbaik untuk menulis karena ide mengalir deras seperti selokan yang baru saja mendapat banjir kiriman. Mirip anak anjing, ide-ide itu melompat-lompat senang bahkan saat kamu berusaha memejamkan mata. Kalau tidak segera dituangkan, siap-siap saja menderita insomnia.

Ini kisahku di tahun 2018, di tempat sempit milik Kos Putri Thaif.

Suatu malam, aku duduk diam di dalam kamar berantakan seluas sekitar 3x2 meter. Sambil memandangi layar laptop yang masih bersih, aku membayangkan bagaimana jika manusia mati ternyata benar-benar bisa muncul untuk menuntaskan hasratnya.

Mereka tewas secara tidak baik. Disiksa dulu, lalu dibunuh. Sebelum itu, mereka juga dijebak ke dalam skenario licik aksi penipuan oleh orang terdekat. Luka fisik dan psikis membuat mereka hadir kembali dalam rupa paling buruk.

Dada berlubang karena kecewa, mata mengeluarkan cairan merah-kehitaman beraroma amis, dan suara menyayat, serta langkah kaki yang timpang. Mereka tersesat, namun memiliki tekad kuat. Target mereka jelas, tapi juga tidak melupakan para penghalang.

Proyek naskah itu kumulai di pertengahan bulan Februari, tapi ide yang hanya mau hadir di malam hari ternyata bukan kendala ringan.

Ketika jari-jemari siap mengetik, hawa dingin menyapu tengkuk dan kaki di bawah meja. Aku seolah-olah duduk di dekat AC atau dinding berlubang, sementara di luar sedang hujan lebat. Suhu rendah jenis ini tidak bisa diatasi menggunakan selimut setebal apa pun karena dia bersifat gaib.

Setelah kulit, hidung juga mulai terganggu. Aroma mawar dari pengharum pada cucian, yang bergelantungan di depan kamar, menyelinap masuk. Kalau saja masih siang hari, aku pasti bakal membuka pintu lebar-lebar. Ingat, bunga mawar. Biasanya, hanya melati yang membuatku merinding.

Selain hidung, telinga ikut bertingkah aneh. Aku tahu tikus-tikus got sering melintas di lorong dan samping tempat sampah, tapi keramaian di langit-langit dan cakaran kucing milik penjaga kos malah diartikan berbeda oleh otak.

Apa cuma sampai di situ? Tidak.   

Manusia memiliki antena tidak kasatmata. Ketika ada yang mengamati, kamu tiba-tiba merasakan sinyal samar. Waktu ada yang mengintip atau mengawasi dari belakang, hawa hangat menyengat merayap di sekujur punggung. Refleks, kamu berhenti melangkah, lalu memutar tubuh.

Itulah yang kurasakan.

Di kamar sempit berisi buku dan bundelan jurnal, boks pakaian, dan perlengkapan makan, setidaknya ada enam pasang mata yang mengawasiku. Mereka menempel di empat sudut ruangan, langit-langit, dan di sela tumpukan buku.

Kamu tahu? Efek rasa takut dari menikmati karya orang lain biasanya lebih ringan buatku. Seiring waktu berjalan setelah menonton film atau membaca, hawa horor menguap bak aroma parfum murahan. Tetapi, ide dari hasil kerja otak sendiri menempel lebih lama meniru minyak wangi minim kadar alkohol dan berharga lebih tinggi.

Kalau begitu terus, bagaimana caraku menuntaskan naskah? Tertunda gara-gara bertingkah paranoid tidak bisa dijadikan alasan yang keren. Plus, hanya bisa menulis di malam hari terdengar terlalu dramatis. Drama yang terkesan seperti sebutan lain untuk rasa malas.

Ini masalah kedua yang tidak kalah menyedihkan.

Mirip fobia, menyembuhkannya melalui pembiasaan tidak bisa dilakukan begitu saja. Daripada melawan, menghindar adalah pilihan terbaik. Fight or flight, katanya. Kedengaran tidak tangguh, hem?

Waktu itu, aku membuat kesimpulan sederhana. Apa pun pilihannya, toh aku tidak sedang merusak peradaban. Jadi, kuputuskan menyelesaikan naskah ketika sedang berlibur ke kampung halaman. Di sana, kehadiran anggota keluarga sudah menghapus semua rasa takut. Tapi sebelum itu, mengundang teman dari kamar sebelah juga sempat beberapa kali kulakukan.

Setelah mentalku lebih siap, barulah percobaan bernama “menulis cerita horor sendirian di malam hari” itu dimulai. Hingga tahun 2021, kebiasaan menyebalkanku masih kumat sesekali. Suara cakaran di balik lemari, lolongan samar di sela alunan biola, panggilan dari teras kosong, atau suhu rendah di bagian tubuh tertentu, hal-hal ini terkadang datang.

Terakhir, kalau ditanya apakah bisa sembuh atau tidak, aku hanya bisa berdoa untuk itu. Jadi pertama-tama, menulis saat ada orang lain adalah opsi paling praktis untuk sekarang. Ah iya, belajar melakukannya di siang hari juga layak dicoba.

_

#kisahnyata

#tipsmengatasirasatakut