Kisah Nyata - Misteri Tempat Kerja Baru

Foto: Unsplash-DokpribyCanva

Kisah ini terjadi di  masa awal aku bekerja di sebuah perusahaan yang memproduksi bulu mata palsu..Tepatnya pada bulan November tahun 2016. Aku lupa tanggalnya. Namun masih mengingat dengan jelas setiap kejadiannya.

Menurut teman yang bekerja di situ, pabrik baru beroperasi pada bulan Agustus tahun 2016. Dulunya bekas gudang resmil untuk penampung beras yang baru digiling. 

Seperti yang lain, aku ditempatkan sebagai operator gunting. Suasana terasa asing dan  bising karena suara gunting.

Aku berusaha sebisa mungkin membiasakan diri menggunakan gunting kecil dan bagaimana membentuk sebuah bulu mata agar sesuai contoh yang lain. Menggunting satu bulu mata untuk pertama kalinya bisa menjeda waktu hingga dua jam dan hasilnya pun tak sesuai dengan harapan. Membutuhkan keterampilan dan kesabaran. Diibaratkan seperti masa orientasi di sekolah. 

Sampai kemudian tiba di Jum'at, pukul 11.30. Meski pintu luar dibuka, tidak ada angin yang menyapa. Meski kipas angin menyala, udara di ruangan pabrik masih cukup panas, sehingga karyawan merasa  gerah dan bercucuran keringat.

Aku kemudian minta izin ke belakang. Tapi entah mengapa tiba-tiba bulu kudukku merinding. Kondisi toilet pabrik memang kumuh. Banyak sarang laba-laba di langit-langit. Letaknya di dekat kebun yang ditumbuhi pohon mangga dan  rambutan. 

Udara seketika berubah menjadi dingin oleh hembusan angin. Aku memilih toilet dengan menilik satu-persatu pintunya. Mencari yang lebih bersih dan nyaman untuk dipakai. Tapi sayangnya lampu di toilet paling bersih yang berada di pojok dinding tidak menyala. Mungkin bohlamnya putus. 

Dengan memberanikan diri, aku masuk dan mengunci pintunya. Akibatnya ruang kamar mandi bertambah gelap. Semakin lama, aku merasa ada yang memperhatikan dari belakang di garis dinding yang terdapat bekas coretan tangan. Aku tak berani menengok. Pandanganku hanya tertuju di ember air dengan posisi menunduk. Hanya bisa merapal basmallah dalam hati dan burur-buru menuntaskan hajat.

Setelahnya aku ke luar dengan tergesa hingga rok hitamku kebas terkena cipratan air. Masih dengan nafas yang tersenggal-senggal, aku masuk kembali ke dalam gedung pabrik. Bekerja seperti yang lain seolah tidak terjadi ada apa-apa.

Namun ketenangan kami bekerja terusik. Tepat pukul 14.00, teman yang duduk di depanku tiba-tiba menjerit histeris. Sontak aku kaget, karena setelah itu ia pingsan. Aku tidak berani menyentuh, apalagi mengangkat tubuhnya yang kaku. Aku benar-benar takut. Teman yang kesurupan dibawa ke belakang di ruang kesehatan.

Setelah itu ada lagi yang berteriak-teriak. Kali ini orang yang kesurupan di bagian lain yang posisinya agak jauh dariku. Ia tertawa keras sambil duduk di lantai marmer. Saat akan diangkat, dia berontak. Mencakar lengan security. Hari itu total ada tiga karyawan yang kesurupan. 

Lalu di hari Minggu, kabar mengejutkan datang dari teman satu kelompok. 

"Mbak Sul, hati-hati jangan masuk ke toilet paling pojok. Nanti terkunci di dalam apalagi di situ ada penunggunya, yang kadang menampakkan diri mau siang ataupun malam. Katanya sih udah ada yang pernah lihat, hiih. Serem," ujar Ulis antusias.

"Masa, sih. Lis." 

Mendengar ucapan Ulis, aku mencoba untuk tidak percaya. Tapi, sayangnya malah membuat jantungku berdegup kencang.

Mbak Megi menambahkan cerita lain, "Bukan di sini saja ternyata, cabang bulu mata di desa lain juga pas hari Jumat ada kesurupan masal. Jangan-jangan bener kalau rambut yang kita gunting ini bekas rambut orang mati."

"Hust...sembarangan!" tanggapanku spontan membuat mereka terdiam.

Kami kemudian mengalihkan obrolan ke hal lain untuk menghilangkan rasa takut yang berkecamuk.

Karena pada hari Jumat sering ada yang kesurupan, pihak pabrik lalu memutar lantunan  doa dari speaker aktif. Lumayan. Cara ini membuat kondisi semakin normal. 

Ternyata malah ada masalah lain yang timbul. Ada operator tertusuk gunting hingga berdarah. Mungkin dia melamun. Padahal koordinator sering mewanti-wanti agar tidak ada yang melamun saat bekerja. 

Aku berharap kejadian ini hanya sekali saja. Aku tidak ingin ada kejadian lain yang menimpaku. Selama kerja, tak henti aku merapal doa dari dalam hati memohon pertolongan kepada Ilahi.

#kisahnyata

#tipsmengatasirasatakut

 

PML, 7 Juni 2021

@Aksara_Sulastri