Horornya Rumahku

Horor

Rumahku istanaku. Hmm, sepertinya tidak berlaku dengan rumahku. Dulu, sebelum dibangun, banyak pohon-pohon tumbuh subur disini. Diantaranya, pohon bambu yang ssngat rimbun dan pohon Sawo yang berdiri gagah. Konon, kedua pohon itu kerap dihuni Genderuwo.

Pada tahun 2015, ketika malam sedang larut. Gerimis membuat suasana semakin memcekam. Sayup-sayup aku mendengar derap langkah kaki seseorang. Aku terhenyak, mengecek lorong. Deg. Aku melihat bayangan hitam bertubuh tinggi dan sangat besar.

Aku berdiri mematung, seraya dalam hati membaca Asmaul-Husna. Dalam situasi genting, otakku seakan beku. Yang kuingat hanya bacaan itu. Kakiku terasa kaku. Aku menyaksikan bayangan itu tiba-tiba raib menembus tembok.

Pada pertengahan 2019, ketika Bapak dan Ibuk tidak ada dirumah. Terdengar pintu depan diketuk-ketuk berkali-kali. Namun, sebelum Bapak pergi, Beliau memberiku pesan agar tak keluar rumah. Biarpun ada tamu, tetap jangan dibukakan.

Lambat laun, ketukan itu semakin menjadi-jadi!

Aku keluar rumah. Ada seseorang lelaki tua yang wajahnya sangat mirip Bapak. Postur tubuhnya, gaya berjalannya. Ah, memang mirip sekali.

Orang itu hanya diam memandangiku. Dari tatapan netranya, ia seperti mau memangsaku. Membuat tubuhku bergidik. Tak berselang lama, orang itu berjalan kesamping rumah. 

Aku penasaran, berjalan mengendap mengikutinya. Tiba-tiba orang itu menghilang diantara rimbunan pohon-pohon. Tubuhku gemetar, aku berteriak selantang-lantangnya.

Keesokannya, aku menceritakan orang itu kepada Bapak. Aku menceritakan sedetail-detailnya.

Bapak menunjukkan sebuah foto kuno. Difoto itu, aku menemukan kembali lelaki misterius itu. Kata Bapak, Beliau adalah Mbah Buyut yang telah meninggal puluhan tahun lalu.

Bukan itu saja, hampir setiap malam aku mendengar suara tangis bocah yang memilukan. Suara itu datang dari belakang rumah. Padahal belakangku adalah pemakaman. Tak ada rumah disana. Suaranya memang pelan dan terbawa angin malam.

Pada malam-malam tertentu, aku selalu dikagetkan suara Macan yang meraung-raung sangat menggelegar. Aku hanya memejamkan mata dan membaca Asmaul-Husna dihati.

(#kisahnyatadan #tipsmengatasirasatakut)