Kursi Goyang

Kursi goyang itu bergerak sendiri. (Sumber foto: pixabay.com)

Setelah nenek meninggal, keluarga itu berdiskusi tentang nasib kursi goyang. Tak ada yang suka duduk di kursi goyang itu selain nenek. Ibu tak berani karena selalu muncul pikiran dirinya akan jatuh ke belakang, ayah lebih suka duduk di sofa yang empuk, Hendra merasa dirinya telah tua kalau duduk di kursi goyang itu.

Hanya Gandari yang peduli dengan kursi penuh kenangan itu. Maka, ketika diskusi itu menghasilkan keputusan, Gandari dengan tegas menolak, “Jangan jual kursi goyang itu!”

Kursi goyang itu sangat berkesan bagi Gandari. Sejak kecil, setiap pagi Gandari selalu membersihkan debu yang menempel di kursi itu. Nenek yang mengajari Gandari cara membersihkan debu yang menyelinap di lekukan-lekukan berukir di kursi itu.

Sebagai hadiah atas ketekunan Gandari membersihkan kursi goyang, nenek sering mendongeng untuknya. Gandari duduk di lantai berkarpet mendengarkan nenek mendongeng dari kursi goyang. Sering kali Gandari lelah duduk, lalu ia berbaring sampai akhirnya tertidur di karpet, meski dongeng belum selesai.

***

Sebelum berangkat bersama ayah, ibu berpesan pada Gandari dan Hendra untuk mengunci semua pintu dan jendela kalau malam. Ayah dan ibu akan menginap, mungkin dua malam. Ayah dan ibu adalah penyanyi, mereka kerap mendapat job menyanyi di hotel-hotel atau acara lainnya. Biasanya sampai beberapa hari.

Tetapi, yang terjadi semua tugas dikerjakan oleh Gandari. Hendra lebih suka santai, duduk-duduk di sofa mendengarkan lagu di ponsel, tidur, makan, bikin Gandari kesal dan uring-uringan.

“Ingat, malam ini Kak Hendra yang menutup pintu dan jendela. Jangan lupa lagi seperti kemarin. Ndari mau tidur awal, ngantuk banget,” pesan Gandari.

“Oke, Bu Menteri. Kalau tidak melaksanakan tugas, saya siap ditenggelamkan,” jawab Hendra cengengesan.

Pukul 1 dini hari, Gandari terbangun. Langkahnya gontai karena kantuk, ia berjalan ke toilet. Antara sadar dan tidak, usai dari toilet, Gandari ke ruang tamu dan melihat kakak tertidur di sofa dengan headset masih terpasang di telinga.

“Dasar kakak gebleg. Sudah kuliah tapi kelakuan kayak anak kecil. Dapat tugas sepele saja nggak beres,” gumam Gandari.

Gandari menuju jendela, meraih daun jendela dengan tenaga yang tersisa. Malam ini dingin sekali, hawanya bikin mengantuk sekali. Jendela telah tertutup, meski Gandari tidak memastikan apakah sudah tertutup rapat atau belum. Gandari tidak peduli. Rasa kantuk begitu hebat menghantam dirinya.

Gandari sekilas melirik kursi goyang di dekatnya. Rasa kantuk membuat kesadaran Gandari belum pulih benar.

“Selamat tidur, Nek,” gumam Gandari, lalu membaringkan tubuhnya ke karpet di depan kursi goyang itu.

Beberapa saat kemudian, jendela di ruang tamu itu bergerak, seperti ada sesuatu yang masuk, lalu kursi goyang itu pun perlahan bergerak pula. Kursi goyang itu terus bergerak-gerak dan Gandari makin terlelap dalam tidurnya.

***SELESAI***

Batang, 1 Juni 2021