Super Blood Moon di Atas Pulau Asmara Situ Patenggang

Gerhana Bulan Total-google image

Kala rembulan bulat sempurna, bermandikan cahaya semerah darah, di malam ke lima belas.

Mempertemukan sepasang belahan jiwa, nan penuh nestapa, karena saling mendamba.

Bimantara menutup paririmbon kuno yang ditulis dalam aksara sunda. Kitab ini sudah berulang kali ia pelajari. Keyakinannya semakin tak tergoyahkan. Tidak lama lagi, Gandis akan menjadi miliknya. Usaha meyakinkan tim  untuk melaksanakan KKN di Desa Rancabali memang tidak sia-sia. 

"Saatnya refreshing!" Hadi berseru sambil meregangkan kedua tangannya disambut sorak dua temannya. 

Setelah dua bulan yang penuh lelah. Datang juga kesempatan untuk menikmati keindahan Situ Patenggang.  Sementara Gandis hanya melirik dengan ujung mata. Dia sudah tahu, ada maksud tersembunyi. Dan kali ini ia memilih untuk menuruti apa yang direncanakan Bimantara. 

Situ Patenggang memang menjanjikan keindahan nan memanjakan mata. Selain itu, lokasi ini sangat cocok untuk mengintip "Super Blood Moon" yang fenomenal. Para mahasiswa fakultas seni budaya itu telah menyiapkan kamera canggih. Masing-masing dari mereka memilih spot di atas bebatuan tinggi.

"Gandis, kita pilih tempat di sana. " telunjuk Bimantara menuding pada sebuah pulau kecil di tengah danau.

Mau tak mau, mahasiswi semester tujuh ini harus ikut. Tak guna membantah, ia takut penjaga yang dikirimkan Bimantara kembali berulah. Seperti saat beberapa kali ia dekat dengan pria lain. Sosok tinggi besar berbulu itu memburu mereka hingga nyaris menjemput maut. Sejak itu, tak ada lelaki yang berani mendekati gadis ini. 

"Aku hanya ingin kau percaya, bahwa cinta kita telah tercipta sejak ratusan tahun lalu. Di sana kau akan melihat bahwa jiwa sejatiku merupakan perwujudan Ki Santang. Dan kau adalah Dewi Rengganis," legenda ini diceritakan berulang-ulang oleh Bimantara.

Hal yang sama sekali tak dipercayai Gandis. Hanya satu kebetulan ayahnya menamai Rengganis. Nama yang konon didapat lewat mimpi. Bimantara adalah teman sejak kecil yang mengaku telah jatuh hati padanya sejak terlahir ke dunia ini. Hanya saja, tak sedikit pun Gandis menyimpan asa yang sama.

Hatinya kerap menolak, seolah telah dimiliki seseorang yang sama sekali belum ia temui. Dan akan langsung saling tahu saat kelak dipertemukan. Hanya saja tak mudah ternyata membuat Bimantara menjauhinya. Sosok lelaki yang tak kenal menyerah, terutama dalam urusan perempuan yang dicintai.

Beberapa jam lagi fenomena alam yang akan terjadi 195 tahun lalu akan terulang kembali. Tertulis pada sebuah Prasasti Batu Cinta dengan aksara sunda kuno. Tentang kisah asmara Ki Santang dan Dewi Rengganis yang dipisahkan oleh sang angkara. 

Paanggang-anggang.

Dewi Rengganis tak henti berurai air mata. Sampai membentuk sebuah mata air. Yang kemudian mengalir dan bermuara pada sebuah situ. Tempat Rengganis menyusuri kekasihnya. Mereka berdua saling mencari selama beberapa waktu yang tak terbilang. 

Pateang-teang.

Hingga akhirnya saling menemukan kembali, berpadu di sebuah pulau mungil yang nyaris berbentuk jantung hati. Batu besar serupa pelaminan terhampar di bagian tengah. Namun kisah bahagia ini tak bertahan lama. Sang angkara kian murka, wujud aslinya terlihat. Tanpa belas kasih, ia melempar Dewi Rengganis jauh ke bulan. Dan menawan Ki Santang di teriknya matahari. 

Gandis menengadahkan kepala, menatap bulan yang telah bulat sempurna. Dengan ukuran yang jauh lebih besar dari biasanya. Inilah saat bulan berada di jarak terdekat ke bumi. Ia mengingat beberapa penggal legenda yang juga diceritakan setiap malam sebagai dongeng sebelum tidur oleh sang nenek.

Bulan adalah tempat bersemayamnya sukma Dewi Rengganis. Ia mengantar sang dewi berpijak di bumi yang posisinya sejajar dengan matahari. Tempat di mana jiwa murni Ki Santang tertawan. Saat itulah kedua kekasih yang ratusan tahun terpisah ini dipersatukan kembali. Meskipun hanya beberapa saat saja. Sebab sang angkara yang berjaga di atas bumi akan selalu kembali memisahkan mereka.

Kisah cinta yang romantis namun teramat tragis. Pikirnya sambil tersenyum simpul  Lalu melirik pada jam di pergelangan tangan. Tak sampai setengah jam lagi gerhana bulan total akan terjadi. Ia sudah meletakkan kamera di atas tripod. Beberapa kali membidik ke arah langit.

Namun tiba-tiba dikejutkan oleh suara di balik semak. Sosok lelaki  yang memakai topi hitam bergambar siluet gunung mendekat. Di lehernya tergantung sebuah kamera DSLR, sementara tangan kirinya mengapit tripod. 

"Punten, Teh. Saya Mahara. Boleh ikut bergabung di sini?" 

Sesuatu menuntunnya untuk singgah di pulau kecil ini. Sementara banyak dari teman-temannya memilih lokasi di Lereng Anteng, Lembang. Demi mendapat bidikan terbaik panorama langit yang fenomenal ini.

Gandis terpaku, seakan tersihir sorot mata bermanik coklat milik lelaki di hadapannya. Setapak demi setapak ia mundur, jangan sampai pemuda itu terluka karena mendekatinya. Sejurus kemudian ia terkilir, tak memperhatikan batuan yang dipijak. Tubuhnya rubuh, pergelangan kaki kanannya terluka. 

"Saya bantu akan mencari pertolongan," seru lelaki itu sambil mendekat dengan reflek. 

"Tidak perlu," Gandis menepis, "aku harus tetap berada di sini." 

Untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh Bimantara hanyalah mitos belaka. Setelah itu dia pasti akan berhenti mengejar. Melupakan rencananya untuk segera melamar Rengganis.

"Tapi i-itu, kaki kamu terluka. Saya carikan obatnya dulu, atuh ya. Biar gak berdarah terus." Mahara dengan sigap memetik beberapa lembar daun babadotan lalu diremas beberapa  kali. Melekatkan di atas luka kaki Gandis untuk menghentikan pendarahan.

Sementara posisi purnama telah mencapai umbra bumi. Sesaat batas petang lebih  pekat dari biasanya. Mahara membantu Gandis untuk berdiri. Meraka sama-sama mendongak, menatap langit. 

Tepat pukul 18.18 bias merah dari gerhana melesat turun. Mengitari dua sosok manusia yang tengah sama-sama terpana. Titik-titik cahaya yang semula berpendar, kini membaur.  Menampakkan wujud baru yang terisi jiwa murni milik Dewi Rengganis dan Ki Santang.

Sementara Bimantara masih melafalkan mantera untuk perubahan wujud. Dan setelahnya, lelaki muda itu terkesiap, matanya menjalari seluruh tubuh. Wujud baru yang tampak, bukan sosok ini yang ia harapkan.

"A-aku adalah … Angkara?"

Bimantara berteriak geram, menakuti burung-burung malam yang baru saja hendak keluar sarang. Lelaki ini tak rela melihat Gandisnya menemukan sang cinta sejati.

Raga Bimantara telah dikuasai angkara murka. Sekali lagi ia membuat sepasang kekasih itu terpisah. Setelah baru saja mereka bertemu selama beberapa waktu. Bulan, bumi dan matahari kembali berjauhan. Memisahkan sepasang belahan jiwa pada jarak dan waktu yang tak terkira.

Namun sang angkara bersumpah, akan terus mengejar Dewi Rengganis hingga 195 tahun mendatang saat posisi bulan, bumi dan matahari sejajar. 

[Awg] 

#ceritahoror