Perjalanan Pulang

Gambar: idntimes.com

Angkot hijau membawaku menepi ke gerbang masuk desa tujuan. Aku menyerahkan selembar uang lima ribuan, lalu kendaraan itupun melaju meninggalkanku. Untuk sesaat diri ini terbuai suasana asri khas desa yang telah lama kutinggalkan. 

Warna hijau sejauh mata memandang, juga sorot cahaya mentari sore yang mengintip dari celah dedaunan. Kuambil nafas, menghirupnya dalam-dalam, mencoba meredakan sesak di dada yang mengekang di sepanjang perjalanan.

Sebuah kabar duka membuatku akhirnya bersusah payah menempuh perjalanan sejauh ini. Melewati beberapa terminal, berpindah bus dan angkot beberapa kali. Semua demi melihat dia, gadis yang membayangiku setiap malam agar cepat pulang.

Baru beberapa langkah, pandanganku menangkap seseorang yang sedang duduk di atas batang pohon yang sudah ditebang. Wajahnya membelakangiku. Dia hanya duduk sendiri seperti orang putus asa.

Perlahan, kudekati wanita yang mengenakan rok ungu dan blus bunga-bunga itu.

"Maaf, Mbak ini siapa? Kenapa duduk di sini sendirian?" tanyaku hati-hati. Aku tidak ingin dia berprasangka yang tidak-tidak kepadaku.

Gadis itu menunduk, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Helai rambut panjangnya yang tidak terikat bergerak-gerak tertiup angin. Gadis misterius itu pun akhirnya menoleh. Aku tertegun mendapati apa yang kulihat. Bukankah dia putrinya Pak Kades, teman seangkatanku dulu?

Semerbak harum melati menyebar di sekitar. Gadis ini, setahuku, sejak dulu memang suka meronce kuncup melati, tak kusangka jika dia juga senang memakainya sebagai wewangian.

"Mas Jaka?" tanyanya lirih. Kedua matanya sembab memerah. Belah tengah rambutnya terlihat tidak teratur.

"Oh, kamu. Hai, kenapa bisa di sini sendirian?" tanyaku kaku. Bukan apa-apa, kami ini hanya berdua saja, sedangkan jarak menuju area rumah penduduk masih setengah kilo. Lagi pula, gadis berkulit kuning langsat ini setahuku sudah dijodohkan. Aku tidak ingin membuat masalah dengan siapa pun.

Namun niatku untuk tak begitu memperdulikannya luluh seketika saat calon istri juragan muda Doni itu menangis. Tampaknya dia butuh teman bercerita.

Berdua kami duduk di batang pohon tempatnya merenung tadi. Ia menawariku sebungkus permen. Aku merasa ragu dan berusaha keras memikirkan sesuatu. Rasanya ada yang janggal di sini. Sesuatu yang membuatku merasa ingin duduk mendengarkan keluh kesah temanku ini, sekaligus perasaan tidak nyaman yang seperti menyuruhku agar segera pergi. 

Sore semakin redup. Ingin kuantar sekalian dia pulang, meski beresiko. Akan tetapi, sebelum aku sempat mengucapkan apa pun, kembang desa itu telah memulai ceritanya. Terpaksa dengan takzim aku menyimak. Kuharap ini tidak akan lama.

"Mas Doni telah mengambil kesucianku. Kamu tahu, aku tak pernah menerimanya sejak awal," ucapnya penuh penekanan.

Bagai tertusuk sebilah pisau di jantung, aku merasakan sakit sekaligus amarah mendengar nasib sialnya. Sebisa mungkin aku bersikap bijaksana. Tidak mungkin menjadi ranting kering di dekat kobaran api. Dengan seksama, aku menyimak kata demi kata yang melahirkan derita dari mulut indahnya. Tentang bapaknya yang otoriter, calon suaminya, kemauan setiap pihak, dan sesi memilukan yang membuat gadis manis ini kehilangan harga dirinya.

Entah sudah berapa bintang yang berjatuhan dari kedua mata sayunya. Aku sepenuhnya bisa merasakan keputus asaan yang dia ungkapkan. Apalagi nasibku tidak jauh berbeda. Gadis yang kucintai telah direbut paksa dari genggamanku. 

Pratiwi, kekasihku yang telah lama menjalin cinta denganku. Dia juga berkulit kuning langsat, manis dan bersahaja. Dia seharusnya baru saja lulus sekolah, sementara aku tak melanjutkan ke SMA karena tidak ada biaya. 

Sebuah kabar mengguncang pelarianku yang tidak bisa menerima penolakan orang tuanya. Bekerja di kota agar menjadi kaya, meski nyatanya jauh dari harapan. Pratiwiku telah pergi, pujaan hatiku menggantung dirinya dengan seutas tali di dalam kamarnya.

Aku menatap nanar ke arah dedaunan yang tertiup angin. Semburat mega telah mengangkasa. Aku harus segera sampai. Kekasihku, aku ingin melihatnya untuk terakhir kali meski hanya pusara. Bapaknya harus menanggung dosa atas kesemena-menaannya. Meski dia seorang kepala desa ....

Tunggu, rasanya aku baru menyadari sesuatu. Kepala desa? 

Lalu calon suaminya? Doni? Lelaki keparat itu?

Tubuhku seketika membeku. Desir angin membelai-belai wajahku yang tak berani menoleh. Pantas saja sejak tadi bulu kudukku berdiri. Baju bunga-bunga dan rok ungu itu sudah tidak ada lagi. Berganti lambaian terusan putih yang bergerak-gerak mengambang di udara.

#ceritahoror