Cewek di Ujung Kelas

Ilustrasi. (Sumber: https://today.line.me/id/v2/article/pqpP9e)

Siapa dia? Cewek berwajah murung, bermata sayu, dan berkulit pucat yang terduduk lesu di bangku kelas paling ujung. Dia selalu diam dan enggak menonjol. Dia juga seperti enggak pernah diperhatikan oleh seisi kelas, apalagi dikenal. Biar begitu, ada semacam aura yang menusuk hati gue saat sejak tadi melihatnya. Cewek itu, gue yakin, tengah memendam sesuatu dalam hatinya. Sebuah kebencian, enggak, lebih tepatnya dendam.

Emosi itu bisa gue lihat dari kerutan di keningnya, juga dari bibirnya yang bertekuk dan sedikit bergetar. Tapi bukan itu aja, ada hal lain lagi yang terlihat dari mimik wajahnya. Itu adalah kepedihan, kesedihan, dan ketakutan yang teramat sangat, yang mungkin enggak dapat lagi buat diobati.

Gue enggak tahu tentang dia sebelumnya, sama sekali, lantaran ini hari pertama gue di sini. Dalam artian, gue anak pindahan. Alasan gue pindah, itu rahasia. Yang jelas, bukan karena alasan remeh kayak ikut orang tua yang pindah tugas, atau kena drop out karena terlalu bandel. Intinya, kepindahan gue ke sekolah ini bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Ya, meskipun, anak yang pindah dari sekolah biasa ke boarding school kayak gue ini selalu aja menarik perhatian ekstra lantaran pasti akan dicap sebagai anak bandel.

Semua ini gara-gara orang itu. Karena dia, gue harus terjerumus di Boarding school yang merepotkan ini. Lihat aja, sampai kapan pun gue enggak akan memaafkan orang tua yang suka seenaknya itu. Dia bukan hanya datang dan sok-sokan menjadi bokap pengganti, tapi juga seenaknya memindahkan gue ke tempat sampah yang terlihat elit ini. Dan yang paling membuat gue enggak habis pikir, nyokap yang selalu gue sayang dan hormati juga setuju aja dengan omong kosong suami barunya itu. Sialan, andai aja bokap gue masih ….

“Diam!”

Teriakan Bu Santi, diikuti suara tangannya yang menggebrak membuat lamunan gue buyar. Cih, sama aja, gue membatin. Di mana-mana pasti ada aja guru yang cerewet macam itu. Sambil berdecak, mata gue kembali beralih ke cewek di samping kiri gue. Kalau diingat-ingat lagi, saat pertama kali menginjakkan kaki di kelas ini, cuma dia yang terus-terusan gue perhatikan. Gue enggak tahu kenapa, rasanya, kayak ada semacam magnet yang menarik dan menyuruh gue untuk selalu melihatnya. Itu terjadi di hampir setiap waktu; dari saat gue memperkenalkan diri, sampai duduk untuk mengikuti pelajaran hingga sekarang. 

Entah kebetulan atau bukan, gue malah ditempatkan buat duduk tepat di sebelah meja si cewek. Karena itulah kesempatan gue untuk memerhatikan dia jadi lebih besar dan dari situ juga gue sadar kalau ada yang enggak beres dengannya. For your info, enggak kayak di sekolah lama gue, meja-kursi di sini itu bukan yang satu mejanya bisa untuk dua orang, melainkan meja persegi yang cuma bisa untuk satu orang aja. Jarak antara meja satu dengan yang lainnya pun enggak begitu besar, cuma seukuran lebar dua badan siswa SMA; lebih dua jengkal. Ya, meskipun, bentuknya terlihat lebih elegan dari kelas gue yang lama.

By the way, ada satu alasan lagi yang membuat gue makin penasaran dengan cewek itu. Saat istirahat pertama tadi, gue bertanya-tanya tentang dia ke anak-anak kelas. Namun, anehnya, mereka semua malah bergelagat kayak orang bingung. “Gue enggak tahu maksud lo apa,” respons macam itulah yang selalu gue dapat. Cih, alasan yang klasik. Tapi bukan gue namanya kalau enggak bisa mendapatkan apa yang gue mau.

Enggak lama setelah bel istirahat kedua berbunyi, satu per satu anak-anak kelas berhamburan keluar. Berbeda dari istirahat pertama tadi, yang sebagian besar mereka cuma duduk di kelas sambil berbual ini-itu, saat ini enggak ada orang lain lagi selain gue dan cewek misterius itu. Setelah memastikan lagi kalau enggak akan ada anak-anak kelas yang melihat, gue dekati dia dengan hati-hati sambil terus memerhatikan kelakuannya. Si cewek murung—mulai sekarang dia akan terus gue panggil begitu—terlihat asyik melipat-lipat kertas berwarna merah. Dari bentuknya, kertas itu pasti yang sering orang-orang pakai untuk membuat origami.

Rasa penasaran akan bentuk jadi kertas merah itu menyerobot masuk ke dalam otak gue. Agak lama gue cuma berdiri diam sambil terus melihat tangannya yang melipat-lipat kertas. Sampai akhirnya gue sadar bentuk yang dia buat; sebuah bunga. Warna merahnya seakan terlihat bagai sebuah mawar. Tapi bisa aja bukan itu karena, jujur, gue enggak begitu tahu bentuk bunga-bungaan.

Selesai menyiapkan satu bentuk, si cewek murung menaruhnya ke dalam laci meja, lalu mengambil kertas lain dari tempat yang sama untuk mulai melipat lagi. Bagai terhipnosis, gue yang awalnya pengin mengajak bicara malah terus-terusan melihat tangan lihainya membuat bunga. Setelah tiga bunga jadi, gue baru sadar apa yang gue lakukan. Sialan, apa-apaan dia, bikin kesal aja. Tapi tetap aja gue masih bergeming. Sampai tiba-tiba, ketika tangan si cewek murung mengeluarkan kertas keempat, tanpa sadar dia menjatuhkan salah satu bunganya.

Dengan hati-hati—lagi—gue berjongkok buat mengambil bunga merah itu. Namun, enggak sampai sedetik dari saat gue memegangnya, sekujur badan gue terasa begitu kaku. Begitu berat. Layaknya ada benda besar nan padat yang menekan gue, membuat napas ini tertahan dan enggak dapat keluar. Sesak sekali. Gue yang tadinya berjongkok kini berlutut dan hampir jatuh telungkup, kalau aja dua tangan gue enggak mati-matian menahannya. Gila. Betul-betul gila. Baru kali ini gue merasakan saat-saat di ujung nyawa begini.

“To…long.”

Suara yang keluar dari mulut gue pelan sekali, parau dan hampir enggak terdengar. Sisa kekuatan yang ada, susah payah gue alihkan buat menengadah sambil berusaha meraih kaki si cewek murung yang enggak sekalipun mengacuhkan kondisi gue. Sialan! Seketika gue putus asa. Namun, di tengah kondisi terendah ini, sekonyong-konyong gue mendengar bisikan cewek yang hampir sama paraunya dengan suara gue tadi. Bisikan itu terasa memenuhi sekujur kepala gue, disertai dengan nyeri yang terlalu parah, sampai-sampai gue enggak bisa menjelaskan seperti apa rasanya.

“Taman bunga,” begitu katanya.

Berulang dan berulang kali terucap. Terus menerus. Semakin terus suaranya terulang, semakin sakit kepala gue dibuatnya. Hingga perlahan, bisikan itu terdengar semakin samar, lalu menjauh, dan berujung hilang. Semuanya menghilang. Bisikannya, rasa nyeri di kepala sampai badan gue yang tadinya terasa berat, semuanya hilang begitu aja. Gue sempoyongan, ngos-ngosan, telentang begitu aja di lantai sambil tetap menggenggam bunga kertas berwarna merah sampai bel masuk berbunyi dengan nyaring.

***

Gue enggak mau menyebut letak persisnya sekolah baru gue. Yang jelas, boarding school ini, menurut gue, sangat amat besar dan megah. Bernuansa putih dan emas, area gedung utama—tempat belajar-mengajar, administrasi, dan sejenisnya—berada tepat di depan pagar besar jalan keluar-masuk. Kemudian area asramanya berada di sisi timur dan barat gedung utama. Di daerah barat berdiri asrama khusus cewek; cowok dilarang masuk, dengan tegas dilarang! (begitulah yang tertulis di buku panduan), Sedangkan asrama cowok berada agak jauh di ujung timur gedung utama; letaknya sedikit terpencil, tanpa alasan.

Di depan gue sekarang, berdiri pintu bernomor 325; bukan nomor terakhir. Sepanjang perjalanan ke sini, otak gue enggak berhenti memikirkan kejadian aneh dan mengerikan saat di kelas. Apa-apaan, sih, yang tadi itu. Bisa-bisanya di hari pertama gue sekolah, kesialan macam itu langsung menimpa gue tanpa permisi. Tapi, sebagian besar yang gue pikirkan bukan kejadian yang buat gue hampir mati. Justru bisikan parau itulah yang paling memberikan tanda tanya bagi gue. Sampai gue berbaring lemas di atas kasur pun bisikan itu masih aja enggak mau hilang. Sambil melihat bunga kertas di tangan, gue bergumam, “Taman bunga.” Apa, coba, maksudnya? Sekonyong-konyong gue teringat sesuatu. Ya! Taman bunga. Gue tahu besok harus ke mana!

***

Istirahat pertama. Melihat anak-anak kelas gue yang masih banyak berkumpul di kelas aja, perkiraan gue sekitaran sekolah saat ini pasti enggak terlalu ramai. Walau waktu istirahatnya enggak sebanyak yang kedua nanti, tapi betul aja, anak kelas lain pun cuma sedikit yang berkeliaran di halaman. Cih, pasti rata-rata anak-anak sini yang taat aturan. Setelah melirik sebentar si cewek murung, gue pun bergegas pergi. Sengaja gue mempercepat langkah kaki menuju taman bunga yang semalam dilewati saat mau menuju lab komputer. Sesampainya di sana, gue terperangah senang. Enggak salah lagi, ini pasti tempat yang dimaksud bisikan misterius itu.

Tamannya lumayan luas tapi, menurut gue yang memang bukan fans bunga-bungaan, tempatnya enggak terlalu menarik meski tampak begitu bersih dan terawat. Monoton. Begitu lebih tepatnya. Sekolah yang katanya elit ini sepertinya enggak suka buang-buang anggaran. Taman bunga itu biasanya dihiasi bermacam-macam jenis bunga. Namun di sini, hanya tampak satu jenis aja. Bahkan bukan jenis bunga mahal yang ada, seperti mawar dan teman-temannya, melainkan bunga kertas! Bayangkan. Bunga jenis ini juga banyak di taman tempat tinggal lama gue yang bukan perumahan elit. Biar begitu, ada satu hal yang sukses mengejutkan gue, yakni warna bunga-bunganya; semuanya merah. Enggak salah lagi, di sinilah tempatnya.

Enggak begitu banyak orang di taman ini; sekitar satu lusin lebih sedikit. Kedelapan kursi panjangnya pun enggak semuanya terisi. Setelah mengamati dan berjalan di sekeliling taman, rasanya, enggak ada yang menarik pertahian gue selain pohon besar di tengah taman. Gue enggak tahu jenis pohonnya, yang jelas bentuknya masih begitu kokoh.

Gue mendekat. Di sisi batang pohonnya berserakan macam-macam ukiran; rata-rata bertuliskan nama cewek-cowok yang dipisah simbol love dan sejenisnya. Cih, norak banget! Biar begitu, demi kelancaran investigasi, tetap aja gue berkeliling memerhatikan satu per satu tulisan-tulisannya.

Enggak begitu lama sampai mata gue menangkap tulisan yang beda dari yang lain. Bukan nama kali ini, tetapi semacam rumus matematika. Tulisannya: 2y = 18. Apa maksudnya? Keanehan ukiran itu membuat gue lebih lama memerhatikannya dibandingkan yang lainnya. Mungkin gue begitu fokus, sampai-sampai hampir aja membuat jantung gue melonjat dari punggung setelah ada yang tiba-tiba menepuk bahu ini.

“Apaan, sih?” Buru-buru gue menoleh ke arah tepukan untuk melihat cewek yang enggak gue kenal sedang tersenyum lebar.

“Sorry, ya.” Dia tertawa kecil. “Lo sampai kaget banget gitu.”

Gue berdecak kesal. “Mau apa lo?”

“Dih, galak banget, sih, bro.” Tawanya kini lebih terdengar renyah. “Santai, gue cuma penasaran. Ngapain, sih, lo dari tadi lihat-lihat batang pohon sampai segitunya? Mau jadi botanis?”

Gila, sok kenal banget cewek ini. Gue menghela napas panjang. “Dengar, ya. Apa yang sekarang gue lakukan, enggak ada hubungannya sama lo. Jadi gue minta, lo enggak usah ganggu gue.”

“Oke, deh,” balasnya sambil berbalik badan, “kalau lo enggak mau tahu maksud rumus yang dari tadi lo lihat itu.”

Gue terperanjat. “Tunggu!” seru gue sambil sedikit menarik lengannya. Gue dan si cewek kembali berhadapan. “Lo betulan tahu?” Si cewek mengangguk sambil tersenyum lagi. Syukurlah, rupanya dia enggak marah dengan perlakuan buruk gue tadi. “Kasih tahu gue, apa maksudnya?”

“Oke. Tapi, ada syaratnya.”

“Syarat?”

“Iya. Lo harus talangin biaya makan gue satu bulan full.”

Mata duitan! Gue berpikir sebentar. “Tunggu, bukannya uang makan udah sekalian sama uang bulanan sekolah, ya?”

Si cewek mendesah. “Siapa bilang? Uang makan itu beda sama uang sekolah. Dan enggak wajib dibayar full tiap bulan. Bisa bayar per hari juga, kok. Ketahuan, deh, enggak baca buku panduan.” Dia terkekeh. “Makanya, jadi anak baru itu, lo harus baca dulu bukunya!”

 Sialan. Tapi tunggu, dia tahu dari mana kalau gue anak baru? Gue berdeham. Ah, itu enggak penting. Terserah dia mau tahu dari mana, yang jelas, sekarang gue harus tahu maksud ukiran rumus yang berkesan mencurigakan itu. Karena, gue yakin, pasti ada hubungannya dengan si cewek murung.

“Oke, gue setuju.”

“Deal, ya!” Si cewek mengulurkan tangan. Setelah gue menyambutnya, dia berucap, “Pulang sekolah, gue tunggu di sini,” sambil dengan santai melenggang pergi.

***

Sudah lima menit lebih gue duduk di bangku taman yang enggak jauh dari pohon, namun batang hidung cewek mata duitan itu belum juga kunjung terlihat. Sekitar menit kesembilan, sialnya, gue kembali dikejutkan dengan orang yang sama. Hampir aja mulut gue melontarkan kata-kata makian, kalau aja enggak melihat wajah si cewek yang tengah terbahak itu. Kalau dilihat baik-baik, ternyata dia manis juga.

“Sorry telat.” Dia duduk di sebelah gue tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Dari mana aja—” Gue berdeham. “So, bagaimana ceritanya?”

“Buru-buru amat, sih, bro!” dia terkekeh kecil agak lama, sebelum wajahnya sekelabat berubah serius dengan sorotan mata tajam yang belum pernah gue lihat sebelumnya. “Dengar, apa yang mau gue bilang ini sebenarnya dilarang buat diceritakan ke sembarang orang.”

“Dilarang?” Gue semakin penasaran.

“Lo kelas 11 IPS-5, kan?”

Gue mengangguk.

“Gue yakin lo pasti sudah ngelihat dia.”

“Dia?” Gue menerawang langit sebentar, sebelum melanjutkan, “Maksud lo, cewek yang selalu kelihatan suram dan murung itu?”

Dia mengangguk. “Lima tahun lalu, di sekolah ini ada siswi kelas tiga yang bunuh diri. Enggak lama setelah sekolah selesai, sambil masih duduk di kursinya, dia menyayat urat nadinya sendiri dengan ujung penggaris besi. Berkali-kali. Sampai akhirnya koyak dan meninggal karena kehabisan darah. Dan tempat dia bunuh diri itu ada di kelas lo sekarang. Tepatnya di kursi paling ujung sebelah kiri.”

Keterkejutan di muka gue mungkin kelihatan amat jelas sekarang. “Lo… enggak bercanda, kan?” Gue menelan ludah setelah melihat air muka si cewek yang semakin serius. “Terus, hubungannya dengan rumus itu?”

Lawan bicara gue itu berhenti sebentar buat mengambil napas dalam-dalam. “Dia bunuh diri bukan tanpa alasan. Dia syok banget saat itu lantaran cowok yang sangat dia cintai diam-diam sudah punya tunangan.” Semacam emosi negatif seperti terpancar dari tubuh si cewek, membuat hawa di sekitaran gue terasa panas sekali. “Tapi bukan itu aja.” Entah mengapa, terdengar tangis bercampur amarah di kalimatnya. “Yang buat dia lebih syok lagi adalah karena saat itu. Saat itu dia sedang mengandung anak si cowok brengsek itu.”

“Bajingan!” gue bergumam. Tanpa sadar, gue mengepal erat kedua tangan. “Lo tahu siapa cowok sialan itu?” ucap gue dengan hati-hati.

“Dia ada di sini.” Sekilas dapat gue lihat ada setetes air mata yang jatuh di pipi si cewek, tapi buru-buru dia menghapusnya kemudian tersenyum paksa.

“Hah? Di sini? Jangan bilang—”

“Betul. Dia guru di sekolah ini.”

“Siapa?”

Si cewek menunduk. “Entahlah,” jawabnya pelan. “Itulah yang pengin gue cari tahu. Makanya gue juga masuk ke sekolah ini.”

“Juga? Maksud lo… lo kenal dengan cewek yang bunuh diri itu?”

“Dia Diana… kakak kandung gue.”

Masuk akal. Alasan dia yang seperti menahan semua emosi saat bercerita tadi tampak jelas sekarang.

“Gue mohon,” ucapnya tiba-tiba. “Tolong bantu gue buat cari siapa cowok biadab itu!”

“Gue?”

Dia mengangguk. “Gue yakin, lo orang yang tepat. Karena selama setahun gue di sini, cuma lo yang bisa melihat sosok kakak gue.”

“Jangan-jangan, lo udah memerhatikan gue dari semalam?”

“Sorry,” jawabnya sambil menunduk.

Enggak butuh waktu lama bagi gue buat segera menyetujui tawaran adik si cewek murung yang belakangan gue ketahui bernama Merry.

“So, rumusnya?”

“Oh, iya. Gue sampai lupa.” Merry menyengir. “Dulu, kakak gue pernah bilang kalau 18 itu angka favoritnya. Katanya, ada makna yang besar dari angka 8. Kalau diperhatikan, enggak kayak angka lain, garis yang membentuk 8 itu enggak putus, tapi menyambung. Sekilas seperti simbol infinity—enggak terhingga—dalam MTK. Dan kakak gue menganggap arti angka 8 itu ‘selamanya’. Jadi, makna angka 18, menurut dia, adalah satu untuk selamanya.”

“2y = 18,” gue bergumam lalu agak lama berpikir sambil menerawang langit yang entah mengapa terlihat pucat. “2y adalah satu untuk selamanya. Berarti… ‘Y’ itu nama?”

“Nama? Masuk akal! Gue juga sempat kepikiran kayak gitu.” Air muka Merry menjadi bersemangat. “Kakak gue dari kecil suka dipanggil Yana sama orang rumah. Berarti, kita tinggal cari guru yang inisialnya Y!”

Gue mengangguk.

“Bentar.” Merry mengambil lipatan kertas dari saku roknya. Rupanya, isi dalam kertas yang dia ambil itu daftar nama-nama guru yang mengajar di sini.

“Gila. Lo udah persiapan banget ternyata!”

Merry tersenyum lebar, seakan lupa dengan emosi yang tadi dia alami saat bercerita. “Tapi, gue udah pernah cari ini, sih. Dan enggak ada satu guru pun yang sesuai.”

“Mana? Coba lihat.” Gue mengambil kertas di tangan Merry lalu dengan teliti memerhatikan isinya satu per satu. Di situ, nama guru cewek sudah dicoret Merry, karenanya pencarian gue menjadi lebih mudah. Lumayan lama gue memerhatikan nama-nama itu dan hasilnya nihil. Sekelabat, gue kepikiran perkataan Merry. “Tadi lo bilang kalau Yana itu nama panggilan kakak lo, kan?”

Dia mengangguk.

“Bagaimana kalau—”

“Ah! Gue tahu sekarang.” Merry memotong kalimat gue. “Lo Genius, Bro! Pasti itu juga nama panggilan!”

Direbutnya kertas di tangan gue, lalu cepat-cepat mengeluarkan pena. Gue lihat dia menyoret nama-nama yang enggak sesuai kriteria. Dan beruntungnya, hanya tersisa satu nama yang cocok: Hardian Anjaswara, guru matematika.

“Bingo!” Merry terlihat lebih bersemangat dari yang tadi. Buru-buru dia berdiri, kemudian berucap, “Besok, ayo kita labrak cowok bajingan itu!”

***
Dari kecil gue meyakini kalau keberuntungan itu enggak pernah mendatangi manusia secara utuh. Maksud gue, setiap orang di dunia ini hanya akan mendapatkan sebagian kecil dari keberuntungan itu. Buktinya, orang yang suatu hari menang banyak saat berjudi, enggak akan bisa menang banyak terus-terusan. Begitu juga dengan gue dan Merry. Rencana kami buat melabrak sosok guru brengsek penyebab kakaknya harus kehilangan nyawa itu, dengan terpaksa harus diurungkan untuk selamanya. Karena tadi malam, secara mengejutkan Hardian Anjaswara ditemukan tewas mengenaskan dengan pergelangan tangan yang sobek, tepat di meja tempat Diana mengembuskan napas terakhirnya.

#ceritahoror