Belatung Kuntilanak

Modifikasi gambar dari google

Jujur, saya tidak merasakan hal seperti manusia lain rasakan ketika melihat makhluk halus yang biasa disebut hantu, setan, dan lain sebagainya. Takut, ngeri, tak terbersit sedikit pun di pikiran. Mungkin karena telah terbiasa melihat makhluk  tersebut dari kecil. Bagi saya, hewan menjijikkan atau orang-orang munafik yang bisa membuat bergidik bulu kuduk. Namun, akhirnya suatu pengalaman menakutkan bahkan mengerikan saya alami juga, berkaitan dengan dunia gaib.

*****

Selain sebagai pengajar di sebuah lembaga bahasa asing, saya juga membuka les bimbingan belajar yang diikuti siswa tingkat SD hingga SLTP. Letak rumah berada paling ujung membuat suasana nyaman, tidak bising. Menjadikan proses mengajar lebih tenang. 

Namun, di balik ketenangan, terjadilah suatu peristiwa di luar nalar. Waktu itu tahun ajaran baru  dimulai, sekitar bulan Juli di tahun 2016. Memang perasaan saya terasa tak enak, terlebih diberi peringatan jika akan ada kejadian, telinga ada yang menepuk. Bahkan biasanya makhluk halus penunggu dapur berwujud pria Belanda selalu muncul menampakkan diri, kali ini tidak terlihat, tetapi semua saya abaikan karena terlalu fokus memperhatikan aktivitas para siswa.

Pukul 17.25, lima menit lagi sesi sore berakhir, yang akan dilanjutkan sesi malam setelah bada Magrib. Ketika usai menulis di papan tulis, tiba-tiba salah satu siswa berteriak, menunjuk ke arah samping saya. Sontak, pandangan langsung mengarah ke tempat tersebut. Alangkah kagetnya, seekor ulat besar menggeliat. Bentuknya bulat seukuran ibu jari orang dewasa, berwarna putih kekuningan, mirip ulat sagu yang biasa dikonsumsi suku wilayah timur. 

Aroma anyir sekelebat terendus di indera penciuman. Perasaan saya jadi tak karuan, ada sesuatu yang tidak beres. Gegas, membuang ulat tersebut walau perasaan jijik serta takut menggelayut. Kemudian menyuruh pulang para siswa dan menghubungi sesi malam agar libur les dulu.

Keanehan kembali terjadi. Ketika usai menunaikan salat Magrib di ruang tengah, tiba-tiba bagai disebar, berjatuhan ulat sejenis dari atap, tetapi dengan jumlah banyak. Refleks saya berteriak, bayangkan, satu ulat saja membuat bulu kuduk merinding, kini puluhan bahkan ratusan tersebar melata di plafon, dinding, dan lantai. Tubuh gemetar, keringat dingin mengalir di pelipis, jantung pun berdegup lebih kencang, keadaan yang jarang saya alami.

Kebetulan Mas Erwan--suami saya--kerja shift siang, sehingga di rumah hanya dengan Rakha, anak semata wayang berusia 10 tahun. Khawatir terjadi hal tak diinginkan, langsung mengajaknya masuk ke kamar, lalu mengunci pintu rapat. Kami berpelukan di balik selimut tebal sambil berdoa meminta perlindungan pada Sang Khalik. Meski takut dan panik, saya berusaha terlihat tenang di depan anak walau sebenarnya menahan tangis. Syukurlah ulat-ulat tersebut tidak dapat memasuki kamar.

Setelah dapat menguasai diri, dengan terbata-bata saya menghubungi Mas Erwan lewat ponsel, mengabari kejadian mengerikan itu. Dia menyuruh pergi dari rumah, tetapi saya menolaknya karena tidak berani keluar dari kamar, apalagi terdengar suara aneh seperti desisan dan cakaran, ditambah aroma busuk yang semakin menyengat. Mengetahui istrinya ketakutan luar biasa, Mas Erwan memutuskan pulang lebih cepat. Untunglah jarak kantornya tidak terlalu jauh, hingga tak berapa lama datang.

Melihat Mas Erwan tersenyum di balik pintu, pecahlah tangisan yang saya tahan dari tadi. Ungkapan perasaan lega, walau masih diselubungi ketakutan. Begitupula dengan Rakha yang langsung tertidur nyenyak setelah dibacakan doa Ayahnya.

Mas Erwan mengajak saya untuk salat Isya berjamaah di ruang tengah, awalnya saya menolak karena takut membayangkan ulat-ulat tersebut akan mengerumuni saya, tetapi Mas Erwan menjelaskan ketakutan harus dilawan, apalagi ini bukan hal wajar. Tidak mungkin meminta tolong tetangga membuang ulat-ulat tersebut, karena bukan sembarang ulat. Meski dia tidak mempunyai indera keenam, tetapi pernah mempelajari tentang hal itu sewaktu menjadi santri, menurutnya ada yang mengirim melalui perantara gaib, satu-satunya cara meminta perlindungan pada pemilik alam semesta, Allah Azza Wa Jaala.

Menahan perasaan, saya pun menuruti perintah suami. Aneh, saat sajadah dibentangkan, ulat-ulat tersebut menyingkir ke sudut ruangan. Namun, saat melaksanakan salat, suara-suara mengerikan kembali terdengar dan semakin kencang membuat kekhusyuan terganggu. Ketika usai salam, sekelebat melihat sesosok kuntilanak menembus plafon, dari tubuhnya berjatuhan hewan-hewan tersebut.

Tak dapat menahan ketakutan lebih lama, saya pun segera berlari ke kamar, Mas Erwan berteriak menyuruh mengunci pintu dan membaca Al-Quran. Dari dalam kamar terdengar Mas Erwan melantunkan ayat-ayat suci dengan lantang, begitupula dengan saya meski dengan suara tersendat-sendat menahan rasa takut tetap menatap ke deretan huruf hijaiyah tersusun rapih. Namun, karena lelah mata pun terpejam, terbangun saat azan Subuh berkumandang.

Pintu kamar dibuka setelah  Mas Erwan memanggil saya. Pekik kecil mengucap asma Allah keluar dari bibir saya, saat melihat tumpukan bangkai-bangkai ulat yang sudah gosong disapu Mas Erwan, dikumpulkan dalam tempat sampah. Menurut suami, setelah usai membaca Al-Quran dan berdzikir sepanjang malam, ulat-ulat terbakar diiringi teriakan wanita menyayat hati.

Itulah salah satu pengalaman mengerikan yang saya alami, tidak akan terlupa seumur hidup, jika teringat merinding rasanya. Apalagi berdasarkan penelusuran, kejadian tersebut merupakan salah satu usaha seseorang untuk melenyapkan nyawa saya, entah apa alasannya mungkin jiwa kelam penuh kedengkian yang membuat orang tersebut bersekutu dengan setan. Puji syukur kebesaran Allah terus saya panjatkan, luput dari kejamnya Santet Belatung Kuntilanak.

#kisahnyata dan
#tipsmengatasirasatakut