Deden Hantu Urban Legend Posko Pemuda Pinggir Sungai

Hantu urban legend pinggir sungai foto: infia.co

Daerah dekat pasar ini memang jadi idola bagi pendatang untuk tinggal. Punya akses strategis mudah kalau mau jalan kemanapun. Banyak rumah penduduk yang dibangun saling berdempetan. Kebanyakan juga dijadikan rumah kontrakan oleh pemiliknya. Karena uang kontrakan yang di dapat lumayan besar. Tak jarang yang mereka kontrakan rumah utamanya. Sedangkan pemiliknya hanya tinggal nyempil di sebagian kecil rumah yang dibangun bersebelahan atau berdekatan.

Makanya banyak sekali gang sempit jadi jalan keluar masuk perumahan padat yang udah mirip sarden dalam kaleng ini. Paling kurang numpang lewat saja dulu di dapur tetangga. Tapi jangan lupa bilang permisi dulu ya. Kalau tidak mau dibilang tamu yang tak diundang. Lalu kena gebuk alias persekusi massal yang tak dikenal karena salah paham. Bisa-bisa nyawa taruhannya hiiiii ngeri.

Di belakang perumahan padat ini juga ada aliran sungai. Saat musim penghujan airnya suka meluap dan membanjiri jalanan di sepanjang gang sempit. Terutama yang berdekatan dengan sungai ini. Bahkan kalau airnya semakin tinggi mereka dengan bebas nyelonong masuk kedalam rumah. Bikin repot warga karena peralatan dan perabot jadi basah kuyup. Belum lagi setelah banjir nanti dengan semena-mena meninggalkan jejak lumpur dan berbagai binatang menjijikan.

Yang paling menakutkan katanya nih sungai suka minta tumbal juga. Sudah banyak yang jadi korban. Umumnya saat mereka tak sadar kalau tiba-tiba mulut air yang sedang bergolak menyambar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dan tempatnya pun sama yaitu disebuah gang sempit dekat sungai yang agak menjorok ke bawah. 

Mungkin karena disitu area terbuka  makanya dijadikan sebagai tempat kumpul-kumpul bagi anak muda. Disisi gang juga ditaruh dua bangku panjang. Hampir setiap hari ada yang nongkrong disitu. Biasanya mereka sambil main gitar dan nyanyi rame-rame. Terutama di malam minggu. 

Deden salah satunya yang selalu menyempatkan diri untuk gabung dengan teman-teman yang lain. Deden hanyalah seorang pemuda putus sekolah. Kerja serabutan jadi kegiatan wajib harian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kadang jadi kuli panggul di pasar, jadi kernet metro mini menggantikan teman yang lagi sakit, atau kerja bangunan kalau ada yang membutuhkan. Selebihnya dia hanya akan kongkow-kongkow saja dipinggir sungai itu. 

Sebetulnya sudah dipasang juga tanda bahaya dan peringatan agar segera meninggalkan tempat itu kalau hujan datang. Karena tak berapa lama pasti sungai mulai bergejolak dan makin lama meluap. Untuk menghindari korban jiwa tentunya.

Sampai di suatu sore gerimis mulai mengundang. Anak-anak muda yang lagi main gitar langsung membubarkan diri. Kecuali Deden yang tetap saja asik sendiri. Sudah banyak kawannya mengajak agar segera pulang. Tapi dia tetap saja cuek ntah apa yang sedang dipikirkannya. Dengan alasan dia masih betah disitu dan bisa pulang sendiri. Akhirnya semua membiarkan. Apalagi hari itu sangat dingin bikin gemeretuk tulang sehingga ngelon di peraduan lebih enak.

Sampai keesokan hari kakak Deden menanyakan keberadaannya. Karena dari semalam belum pulang juga ke rumah. Semua jadi kaget. Atas inisiatif Pak erte lalu warga langsung menyusuri sepanjang sungai. Dan ditemuilah Deden yang ternyata sudah tak bernyawa tersangkut di gorong-gorong yang ada di ujung sungai.

Setelah diselenggarakan dan dikuburkan warga pun kembali beraktifitas seperti biasa. Termasuk para pemuda yang kembali bersenda gurau di tempat favorit biasa mereka. Karena hari itu malam minggu malam yang panjang mereka lalu bikin acara api unggun sambil bakar jagung dan ubi. 

Ditengah riuh suara gitar dan nyanyian tiba-tiba sosok ini bergabung dengan santainya. Wajahnya terlihat lebih pucat kena sinar api unggun. Orang disekitar awalnya membiarkan dan tidak peduli. Karena memang lagi rame dan tentu saja jagung dan ubi bakar jadi pengalih perhatian yang lezat.

Sampai sahabat dekat Deden menyadari kalau dia mengenal sosok itu. Dan memberitahu pada temannya yang lain. Mereka pun saling bisik. Mereka yakin dihadapan mereka itu adalah sosok Deden yang telah meninggal. Lalu salah satu pemuda yang dituakan diminta untuk bicara. Saat ditanya Deden dengan percaya diri bilang dirinya masih hidup. Buktinya dia hadir disitu. Tentu saja ini bikin semua jadi merinding, bergidik tidak putus-putus. 
 
Berhamburanlah mereka lari menuju rumah masing-masing. Apalagi air rintik kembali turun. Memadamkan api unggun yang mereka tinggal saking ketakutan. 

Sejak peristiwa itu mereka selalu datang bareng kalau mau kumpul. Karena sosok Deden suka ikut nimbrung juga. Kalau sudah ada Deden mereka dengan arif akan bubar pelan-pelan meninggalkannya. Tinggal Deden sendiri yang tetap betah menghantui gang sempit tempat posko pemuda itu. (Based a true story).