Kosong

Google

 

Riuh menggerogoti hampir seluruh langit. Selain karena gema takbir yang mengangkasa, celoteh anak-anak juga obrolan ibu-ibu menambah keramaian jalanan. Pepohonan bahkan sampai menutup telinganya sebab jeritan kembang api yang berteman dengan beduk ditabuh.

Seperti biasa. Setiap tahunnya di penghujung ramadan, aku dan kak Lala pergi ke pusat kota, sekadar jalan-jalan malam.

"Kamu kalau mau beli sesuatu duluan aja, Fa. Kakak ke sana bentar," katanya sedikit berteriak. Namun, belum menjawab, kak Lala sudah pergi. Aku menggeleng pelan, kakakku yang satu ini memang kelewat ajaibnya.

Aku melanjutkan langkah, melewati tenda-tenda di bahu jalan hingga kutemukan penjual bakso di pojok sana. Namun, belum juga sampai, suara benturan keras menghentikan langkahku.

"Ada kecelakaan ya?" tanyaku pada diri sendiri. Menatap kerumunan orang yang berada di seberang sana.

Ingin mendekat, tapi rasa takut menyelimuti diri. Bukan tanpa alasan. Semenjak ibu kecelakaan dua tahun lalu, aku phobia darah. Jangankan melihat cairan kental berwarna merah, melihat luka sedikit saja tubuhku langsung lemas.

"Iya." Aku terlonjak kaget. Suara itu membuat bulu kuduk berdiri hormat seperti saat upacara bendera.

"Eh, Nilam. Kok di sini, sudah pulang dari pondok, ya?"

Gadis dengan pasmina cream itu mengangguk sembari tersenyum setelah membuatku serangan jantung mendadak. Lesung pipinya selalu membuatku insecure. Ayolah Latifa, kamu juga cantik, tapi jika dilihat dari sedotan.

Aku mengajaknya duduk. Sudah lama sejak Nilam mondok di luar kota, aku tidak pernah bertemu lagi. Setelah kepergiaannya, aku seperti anak ayam kehilangan induknya. Asal kalian tahu, aku memang selebay itu.

"Kamu apa kabar, Fa? Gak kerasa ramadan sudah selesai," katanya pelan saat aku duduk sehabis memesan bakso.

"Alhamdulillah, baik. Iya, rasanya baru kemarin pertama puasa. Eh, sekarang sudah takbir aja."

"Gimana target ramadan tahun ini? Ada yang belum kesampaian gak?" Aku terdiam. Rasanya nostalgia. Dulu sekali, aku dan Nilam sering membuat target ramadan. Entah itu mendaras hafalan, salat sunah, sedekah, atau yang lainnya.

"Alhamdulillah, gak ada. Kalau kamu?"

"Aku juga. Cuman satu, ibu masih nolak pakai kerudung." Wajah itu berubah sendu, pelupuknya pun berair. Aku mengenal betul siapa Nilam dan keluarganya.

"Doakan ibumu, Lam. Hidayah itu pasti datang." Nilam tersenyum samar.

"Latifa. Beli baksonya sudah belum? Kita pulang!" teriakan seseorang yang sudah kutahu siapa pelakunya. Bola mataku memutar malas, kak Lala selalu saja menggangguku.

"Lam, aku duluan ya. Nenek sihir manggil-manggil nih, takut dikutuk. Itu, buat kamu," ucapku sembari menunjuk ke arah meja.

Tanpa menunggu persetujuannya, aku pamit sebelum kak Lala yang cerewet menceramahiku hingga berbusa.

"Mana baksonya?" Aku yang baru saja tiba di hadapannya, mengerutkan kening. Belum apa-apa sudah dibegal.

"Bakso apa?" tanyaku datar.

"Bukannya kamu beliin kakak bakso?" Aku menatapnya sekilas. Ini kak Lala kenapa. Memangnya kapan ia memintaku membelikan bakso?

"Dih, enggak ya. Kak Lala gak nitip," jawabku sedikit sinis. Jangan heran, pertengkaran antara dua saudara sudah biasa. Aku hampir setiap hari cekcok dengan kak Lala.

"Kamu aneh, Dek," ucapnya sembari berlalu pergi. Aku menatap tak percaya. Harusnya aku yang mengatakan itu bukan? Malam ini, kak Lala benar-benar aneh.

Keesokan paginya, hari fitri pun tiba. Sehabis melaksanakan salat sunah lebaran aku tidak langsung pulang. Melainkan ke rumah ummi Hafsah yang tak lain guru ngajiku. Katanya mau memberi mukena.

"Jadi yang kecelakaan kemarin malam itu warga kita, Ummi?" Ummi Hafsah menghentikan langkahnya.

"Loh kamu gak tahu?" Aku menggeleng. Aku bahkan baru tahu kalau korbannya warga sini.

"Beneran gak tahu?" Lagi-lagi ummi Hafsah bertanya seakan aku ketinggalan berita besar. Memang siapa yang meninggal?

"Bukannya dia sahabat kamu?"

"Nilam." Bagai disambar petir, detak jantungku seolah dirampas paksa. Aku menggeleng cepat.

"Tidak mungkin, Ummi. Kemarin malam Nilam sama Tifa ngobrol kok." Dengan cepat, aku mengambil ponsel di saku. Berniat meyakinkannya bahwa semalam aku sempat berfoto dengan Nilam.

Sekali lagi, tubuhku bergetar hebat. Tulang-tulangku seakan rontok. Di foto itu hanya aku sendiri. Sementara sosok yang seharusnya di sampingku, kosong. Di mana Nilam? Bukankah semalam aku bertemu bahkan membicarakan banyak hal, tentang target ramadan juga ibunya.

Tunggu. Mungkinkah Nilam ingin menyampaikan wasiat untuk ibunya?

Cianjur, 12 Mei 2021

Phobia : Rasa takut berlebihan terhadap sesuatu.
Insecure : Rasa tidak percaya diri, cemas, dll.

#ceritahoror