Sang Pendamping

Sumber:Google

Ramadhan kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Selain karena pandemi yang menyerang bumi, ada pula hal janggal yang menyerang diri.

Katakanlah aku kena sihir pelet. Suatu hal yang tak pernah terlintas dalam otak motorik, bahkan setelah menjalani rukyah aku masih sempat tak percaya. Sudah delapan tahun sihir itu menyerang, itu kata sang perukyah.

Bagaimana bisa, sedangkan aku tidak merasakan hal apapun sebelum ini. Gejala sekarang pun hanya sebatas lembar memori terisi dengan sosok Tubagus, lelaki yang konon telah mengirim sihir pelet yang tak bukan adalah sahabatku.

Sering kali namanya kusebut tiap kali bercerita entah pada siapa dan perihal apa, akhirnya namanya lah yang mengalun indah dari bibir ini. Namun dalam palung hati, rintihan terasa begitu menyayat, rasa bersalah pada suami dan dosa pada sang Illahi seakan menjadi mimpi buruk yang sedang kujalani.

Yaa Rabb tolong hilangkan dia yang ada dalam setiap celah memori hamba, hamba tahu hamba berdosa ketika dia terus mengembara walau hanya dalam alam bawah sadar hamba.

Aku menangis dalam sujud kala itu. Setelah beberapa bulan dalam pengobatan rukyah, Alhamdulillah, Tubagus tak lagi membayangi hariku.

Namun sepertinya ada yang salah pada diri ini, tiba-tiba saja aku bisa merasakan kehadiran sosok astral tak kasat mata yang hadir di sekitar.

Suara adzan maghrib mengalun memenuhi pendengaran pertada waktu berbuka telah tiba. Aku hanya minum segelas air putih untuk membatalkan puasa, kemudian bergegas melaksanakan shalat terlebih dahulu.

Setelah selsai aku lanjut tadarus (baca Al- qur'an), namun dalam ke khusuan tadarus itu tiba-tiba aku melihat sosok Tubagus dalam pikiran, ia sedang berjalan di samping rumah dan berlalu ke belakang.

Aku melihatnya seakan begitu nyata. Aku berhenti membaca sejenak, merasakan bulu tubuh yang mulai meremang, sesekali mata ini melihat ke arah dapur tempat dimana sosok Tubagus berada.

Ingin rasanya lari dan mengunci diri di kamar, namun hati kecil terus berbisik "masa kalah sama yang begituan, kamu itu sedang baca Al-qur'an kenapa mesti takut?malu kali" Kuurungkan niat untuk berlari dan melanjutkan baca al-qur'an, namun tubuh bagian belakang mulai terasa berat, pegal rasanya.

Mataku terus melirik pada jam yang tergantung di dinding, berharap waktu isya segera tiba, sehingga aku bisa ke kamar segera.

Fokusku buyar walau bibir ini terus melantunkan ayat suci, namun pikiranku tetap pada sosok itu.

Apakah aku berhalusinasi? Tanyaku pada diri. Namun ada satu keyakinan yang kupegang teguh. Ketika keadaan mulai mencekam namun hati tetap tenang berarti memang benar ada mahluk astral yang mendekat. Namun jika hati dalam ketakutan dan gelisah berarti rasa takut itu bukan karena kehadiran mahluk astral melainkan timbul dari diri sendiri.

Berulangkali kuyakinkan hati, tegang atau tenang, dan berulang kali juga ketenangan yang kurasakan walau tubuh bagian belakang sudah sangat berat dan pegal.

Kututup Al-qur'an bertepan dengan adzan isya berkumandang, aku bergegas masuk kamar. Kuraih gawai yang sedari tadi kusimpan di atas tempat tidur. Kubuka aplikasi warna hijau untuk mengirim pesan pada kakakku yang memang mendampingi dari awal pengobatan.

[Assalmu'alaikum,Teh?]

Tidak berselang lama aku menerima balasn darinya, sukurlah aku tidak perlu menunggu lama.

[Wa'alaikum salam, iya kenapa?]

[Teh apakah, imple'ngan (bahasa sunda) itu bayangan?]

Aku mengetik dengan tergesah, perasaanku masih belum menentu, takut, karena punggung tak kunjung terasa ringan dan keinginan melaksanakan shalat isya karena adzan telah berhenti.

[Iya,]

Satu kata namun membuatku banyak berspekulasi, apakah aku bisa melihat atau aku memang berhalusinasi.

[Teh, aku kok merasa Tubagus ada di samping rumah ya?mukanya menyeramkan aku sampai merinding melihatnya, dia terus berjalan ke arah belakang dan diam disana]

[Kapan?]

[Tadi, setelah maghrib]

Sudah beberapa menit berlalu namun tak kunjung ada balasan, akhirnya aku memutuskan untuk shalat terlebih dahulu.

[Sekarang masih ada?]

Itulah isi pesan yang sedari kutunggu, menjengkelkan bukan?

[Ada, dibelakang lagi jongkong depan sampah, seperti sedang ngambil sesuatu]

[Itu jin, memang ada yang kesitu, dua lagi, jin nya. Tadi Teteh udah nanyain ke Hadi (orang yang merukyahku)]

[Kalau kamu ngeliatnya sosok apa?]

Tanya Teteh lagi meyakinkan.

[Sosok Tubagus yang aku lihat di pikiran aku mah]

[Iya, itu teh jin kiriman tapi belum tahu dari mana, apakah dari Tubagus atau Bejo]

Karena memang bukan hanya Tubagus yang mengirimkan sihir pelet itu, ada beberapa orang lagi.

Entahlah nasibku kenapa sehoror ini, bahkan rupaku tidaklah seelok teman-teman, bibir penuh dengan hidung yang nampak samar ketika dilihat mata bahkan hampir sejajar dengan kening yang lumayan luas.

[Jadi, yang aku lihat di pikiran itu benar?]

Aku mulai gelisah dengan rasa takut yang mulai menguasai.

[Ia, hanya beda sosok aja di lihatnya. Sepertinya mata batin kamu kebuka, Dek]

Aku terhenyak membaca balasan dari Teteh, mata batinku kebuka katanya. Itu berarti aku akan sering merasakan hal yang tak lajim.

[Terus ini gimana?]

Aku mulai panik, terlebih malam semakin beranjak naik sedangkan suami tak kunjung pulang.

[Itu sosoknya diluar atau di dalam, kalau di luar, rumahnya di pagerin saja pakai do'a]

[Iya, dia di luar. Surat al kahfi sama ayat kursi bukan?]

[Iya, sok cobain biar gak ke dalam rumah]

Dengan takut yang semakin mengikat panik yang tak mau berkelik, kucoba memberanikan diri membaca slah satu ayat dalam surat alkahfi dan ayat kursi dengan pikiran berfokus mengelilingi rumah.

Kubuang nafas lega, ketika suara motor suami memasuki garasi. Bergegas aku membuka pintu dan menyambutnya.

Setelah beberapa saat suamiku istirahat aku menceritakan yang kualami tidak ada yang terlewatkan. Namu hati terasa ada yang meremas ketika responnya tak sesuai yang kuharapkan

"Mas, ko mukanya gitu?" tanyaku penasaran. Karena aku membaca sesuatu tersirat diwajahnya yang seakan menyepelekan bahkan mencemooh.

"Mmmhh" dia hanya berguman.

"Apa Mas, berpikira aku berhalusinasi?"

Tidak ada jawaban, dia terlihat masih berpikir.

"Atau depresi?"tanyaku lagi tak sabar.

"Iya, semacam itu, karena kamu banyak tekanan jadinya seperti itu,"

Deg

Kenapa aku merasa tidak terima ketika suamiku berkata seperti itu, karena setahuku orang depresi itu yang kurang yakin kepada Tuhan nya.

Keesokan harinya aku kembali menghubungi Kakak via telepon.

"Assalmu'alaikum, Teh?"

"Wa'alaikum salam"

"Teh kata, Mas, aku depresi. Benarkah itu?" suaraku sedikit parau menahan sedih

"Dulu juga teteh dibilang orang gila, karena memang kalau hal seperti ini tidak semua orang percaya kecuali mengalaminya sendiri, termasuk Teteh. Teteh juga dulunya gak percaya, tapi sekarang ngalamin sendiri," jelasnya memberi semangat.

"Sosoknya masih ada?" lanjutnya.

"Semalam sepertinya tidak ada, tapi sekarang ada lagi"

"Dek,kalau kamu ngerasa takut, kamu tutup aja baca Ta'udz 1×, bismillah 5×, istighfar 5×, sahadat 5×, solawat 5×, lahaula 5×,"

"Iya, Teh, makasih." Kuakhiri sambungan telepon.

Aku memang takut bahkan sangat takut, namun ada rasa ingin tetap seperti ini agar bisa waspada ketika orang dzalim kembali berulah, dan akhirnya aku memutuskan untuk tetap membiarkan penglihatan astralku ada, walau kadang gemetar, lemas bahkan tubuh ini sekaan hilang tumpuan ketika melihat sosok yang tak pernah kulihat.

Setelah Kakakku tahu kalau aku tidak menutup mata batinku, ia menyarankan agar aku berkomunikasi dengan mata batinku.

"Kamu siapa, darimana, kenapa ada disini?" Aku tak bisa menahan rasa penasaranku akan hal itu.

"Aing teh nyaah ka sia, aing ngajagaan sia tinu dzolim, lain ngan saukur si Tubagus, boh si Bejo, boh si _" (Saya sayang sama kamu, saya ngejaga kamu dari orang yang dzalim terhadap kamu, karena bukan hanya Tubagus, atau Bejo, atau_)

"Stop, jangan dilanjutkan," aku memotong ucapannya.

"Aing moal bisa di piceun atau di ubaran soalna urang mah geus tidituan jadi pendamping maneh," (Saya tidak akan bisa di buang ataupun disembuhkan, karena sudah dari sananya menjadi Pendaming kamu).

 

#kisahnyata #caramengatasirasatakut