Sipur

Ilustrasi google support Canva

Senja semakin menggelap ketika penonton acara tanggapan Nyai Putut menyusut. Para pemain membersihkan diri dan beberapa ada yang menenggak air kelapa muda yang tadi dipecahkan oleh salah satu pemain kuda lumping. Acara tahunan ini sengaja digelar untuk menarik wisata mancanegara ke kota Batu. Acara tradisional yang memadukan kesenian dan metafisik selalu penuh penonton. 

“Yawes, Git, muleh gih, kene ngetutne soko mburi,” (“Ya sudah, Git, pulang gih, sini ikut dari belakang,”) titah Bagas pada sekelompok gadis-gadis. Yang juga disetujui oleh beberapa teman lelakinya.

Sipur, Gita, Agni dan Maya gegas berjalan menelusuri jalan bebatuan. Beberapa kali juga berpapasan dengan para penonton yang juga pulang. Mereka masih asik membahas kembali tentang permainan Nyai Putut yang konon cara mainnya seperti jailangkung yang digerakkan oleh olah pikir manusia juga kehadiran arwah yang dipanggil.

“Coba kono takon Bagas, piye rasane ngoceli boneka Nyai Putut.” (“Coba sana tanya Bagas, bagaimana rasanya memegangi boneka Nyai Putut.”) Agni melempar pertanyaan pada Maya yang ditujukan ke Bagas. Matanya melirik pada Sipur yang sedari tadi hanya diam mengikuti langkahnya pulang.

Teman satu kampung mereka memang memberi jarak beberapa langkah di belakang. Sehingga pertanyaan Agni masih terdengar.

“Abot,” jawab Bagas singkat.

Semakin kuat kita menggenggam boneka Nyai Putut akan semakin beringas, sebab tepuk tangan dan yel-yel penontonlah yang membuat boneka semakin energik dalam menari. Jika sorak-sorai penonton sudah tak terkendali, yang kasihan justru para pemegang boneka. Selain kecapekan dalam memegang juga energi yang dihasilkan semakin brutal. 

“Serius, abot? Terus seng mbok rasakne opo maneh?” (Serius, berat? Terus yang kamu rasakan apa lagi?") tanya Gita yang juga penasaran dengan cerita Bagas.

“Awake yoopo? Keselen ta?” (“Badannya bagaimana? Kecapekan kah?”) Maya menimpali.

Bagas hanya mengangguk mengiyakan jawaban kedua teman wanitanya. Tampak lelaki berotot tersebut meluruskan kedua tangan sembari tetap berjalan. Di antara teman sepermainan mereka yang paling berani adalah Bagas. 

Pada belokan pertama Maya dan Gita telah berpisah. Dua teman lelakinya juga hilang dari pandangan. Jarak rumah mereka berdekatan, palingan hanya dibedakan oleh gang atau beda kampung. Namun, masih dalam satu RW. Mereka berpisah pada tujuan masing-masing. 

Langit semakin pekat, awan tergilas oleh legamnya angkasa sehingga memicu para nokturnal untuk hadir. Simponi alam yang harmonis mengumpulkan para keluarga untuk bersama dalam kehangatan obrolan.

Agni antusias menceritakan pengalaman Bagas yang ikut memegangi boneka Nyai Putut. Ibu ikut menyimak, sebab ulasan Bapak semakin lengkap tentang Nyai Putut. Bagaimana asal muasal permainan yang melibatkan arwah seseorang yang tak tenang. Dikisahkan seorang penari dan penyanyi yang meninggal karena diperkosa ketika pulang bekerja. Bapak juga menceritakan kisah berbeda tentang lagenda Nyai Putut yang katanya bukan wanita baik-baik atau disebut wanita tuna susila. 

Di tengah hangat obrolan mereka terdengar pintu kayu diketuk beberapa kali. Bapak gegas berdiri dan memastikan siapa yang datang. Ibu mengekor di belakang Bapak.

“Assalamu’alaikum, Kang, ngapunten. Agni semerep Sipur, mboten? Tirose Maya kalian Gita mpun wangsul. Pun jam sakmenten dereng kundur, Bapak kalian ibune madosi.” (“Assalamu’alaikum, Kang, maaf. Agni tahu Sipur, tidak? Kata Maya dan Gita sudah pulang. Sudah jam segini belum pulang. Bapak dan ibunya mencari.”) Lek Kudori, pamannya Sipur mencari keberadaan keponakannya. 

Bapaknya Agni yang mendengar curhat Lek Kudori gegas ikut mencari keberadaan teman sepermainan anaknya yang berbeda rumah beberapa gang. Sebelumnya pamit kepada istrinya dan memerintahkan untuk menutup rapat rumah mereka. Biarlah urusan ini diselesaikan oleh para lelaki.

Agni yang mendengar ada keributan dari luar ikut penasaran dan bertanya kepada ibunya. 

“Ndungo wae, Nduk, mugo Sipur Ndang ditemokne,” kata Ibu menjawab rasa penasaran anaknya.

“Njih, Bu.” Gadis berambut lurus di bawah telinga tersebut tampak risau. Langkahnya tak tenang dengan berjalan mondar-mandir di ruang tengah.

“Memang setahu Agni tadi hanya Sipur yang paling diam, Bu, Cuma ndak tahu kalau belum sampai rumah,” terang Agni pada ibunya yang serius menyimak cerita anaknya.

“Apa gegara dia cemburu sama temen-temen, ya Bu? Kan Bagas kita tanya-tanya terus, tapi kita gak ada perasaan apa-apa, kok Bu,” terang Agni lagi. Meraba-raba penyebab hilangnya Sipur dengan kejadian tadi sore sepulang menonton tanggapan.

Setahu Agni tetangga sekaligus teman sekolahnya memang menaruh hati kepada Bagas. Meski tidak sampai mengungkapkan, Bagas juga merasakan hal yang sama. Akan tetapi, keduanya tidak terlibat berpacaran karena Bagas sendiri malas ribet dengan urusan wanita.

Jam di dinding menunjukkan pukul 23.10, Bapak sampai di rumah dan mengabarkan bahwa Sipur sudah ditemukan. Ada buncah bahagia di raut Agni dan ibunya. Setidaknya teman sekaligus tetangganya tersebut baik-baik saja.

“Ya sudah, Pak, besok tak ke sana sama Maya dan Gita,” jelas gadis yang memiliki dua lesung pipit ketika tersenyum.

Kabar tentang hilangnya Sipur semalam membuat Maya dan Gita menghampiri rumah Agni. Mereka berencana menjenguk dan memastikan keadaan Sipur.

Sesampainya di halaman rumah Sipur tampak gadis yang biasanya paling cerewet tersebut lebih banyak diam. Meski teman-temannya datang juga tak dihiraukan. Rambutnya tampak kusut dengan beberapa helai tertarik ke atas. Pandangannya kosong, beberapa kali panggilan teman-temannya tak dihiraukan.

“Assalamu’alaikum, Pur,” ucap Agni sembari menghampiri teman masa kecilnya tersebut. 

Bukannya menjawab salam malah Sipur berlagak aneh.

“Assalamu’alaikum, Pur, kamu ndak papa, kan?” Maya mengulangi salam.

“Grrrh ... ghrr ....” Sipur justru mengeram dan kedua tangannya menggaruk-garuk tempat duduk kayu.

“I-iya, Pur, kita pulang saja kalau begitu.”

Maya, Agni dan Gita yang mengetahui gelagat tak beres temannya segera pamit pulang. Meski yang dipamiti juga tak dapat menjawab.

“Ya Allah, kok Sipur jadi seperti ini, yah?” Gita yang memerhatikan teman mainnya tersebut keheranan, “Apa jangan-jangan dia kerasukan?” ungkapnya lagi.

“Coba nanti tak tanya bapakku yah, biar disampaikan ke Lek Kudori,” terang Agni pada kedua teman mainnya tersebut.

Mereka mengangguk dan berpisah pada tujuan masing-masing, kecuali Agni yang tidak langsung pulang ke rumahnya. Sebab, dia akan ke kota membeli beberapa pesanan ibunya. 


Tidak seperti hari kemarin bale-bale samping sungai terisi beberapa pemuda dan pemudi. Mereka sekadar menghabiskan waktu dan bercanda ria. Semenjak kejadian hilangnya Sipur mendadak bagai kampung mati. Sebab sore sampai malam seperti tak ada kehidupan para anak muda. Entah mereka segan atau merasa takut keluar rumah, sehingga mengurung diri di rumah. Teman-teman lain juga merasakan hal yang sama. Hanya bapak-bapak yang sekadar istirahat sebentar sepulang bekerja melepas lelah di bale-bale tersebut.

Kumandang Azan Magrib terdengar merdu, beberapa warga tampak berbondong ke musala. Agni datang terlambat sehingga ketika sampai kampung kemagriban. Takut jika kehabisan waktu salat maka ia berpikir salat di musala saja, tidak di rumah.

Pada saat selesai ke kamar mandi musala dan hendak pulang ia mendengar suara sesenggukan tangis. Entah siapa yang menangis batinnya. Ingin tak menggubris tetapi suara tangisan tersebut semakin jelas terdengar. Dua pintu kamar mandi musala sama-sama tertutup. Sehingga Agni harus melihat satu per satu.

“Permisi, siapa di dalam?” Agni mengetuk pintu kamar mandi pertama, tetapi tak ada jawaban. Ia sedikit mendorong, dan pintu terbuka lebar, ternyata tak ada siapa-siapa.

Pintu kedua dicobanya juga dengan mengetuk perlahan. Sampailah Agni membuka perlahan pintu kamar mandi. Seketika ia terperanjat mundur beberapa langkah. Degub jantungnya derdetak tak karuan. Tampak seseorang yang ia kenal dari pakaian yang dikenakan. Seorang wanita yang meringkuk di sudut kamar mandi dengan baju basah serta kedua kakinya yang pucat.

“Ka-kamu, Sipur?” tanya Agni dengan gagap. Suara tangisan semakin terdengar isakannya.

Perlahan wanita tersebut mengangkat kepalanya, Sipur yang ia lihat sangat berbeda dengan bibir membiru. Wajahnya pun pucat dengan kornea mata yang memerah.

“Tolong ... aku,” ucapnya sebelum akhirnya tubuhnya terhuyung roboh ke kanan menempel tembok.

Agni yang ketakutan segera mencari bantuan para jamaah salat magrib yang masih tersisa. Beberapa warga datang membantu mengangkat Sipur ke dalam Musala.

“Lah Iki Sipur, terus yang di rumahnya siapa?” teriak salah satu warga yang menyaksikan.

Malang, 27 Mei 2021

#ceritahoror
#hororremaja
#Nyaiputut