Janji

Ilustrasi, IDN times

 

Kuhirup perlahan semilir angin pegunungan hingga memenuhi ruang paru-paru. Terasa menentramkan. Dua tahun sudah aku tidak berkunjung ke desa ini. Ya, di rumah budhe dimana aku pernah menikmati masa SMA dulu. Rumah yang membuatku betah ketika papa dan mama harus dimutasi kerja ke luar daerah. Aku memilih ikut budhe agar tidak pindah-pindah sekolah lagi seperti sebelumnya. Beruntung papa mama mengabulkan permintaanku. 

Kali ini aku kembali karena sebuah janji. Galuh, sahabat yang dulu pernah membuatku nyaman, menelpon sebulan lalu, mengajakku bertemu. Bukan berdua saja sih! Bersama teman sekelas sekalian reoni tipis-tipis katanya. Lelaki berwajah Jawa itu pernah menyatakan cinta padaku. Dia berjanji menunggu sampai kapan pun jika aku mau. Namun aku ragu, karena selepas SMA harus kembali ke Jakarta. Seperti yang diungkapkan beberapa teman, hubungan LDR takkan mungkin bertahan lama. Dan itu sangat masuk logika. 

Sabtu pagi tadi aku sudah sampai di rumah budhe agar bisa beristirahat barang sebentar, karena kami berjanji ngumpul di warung bakso Kang Udin depan sekolah selepas maghrib. Warung sederhana itu cukup luas untuk dijadikan tempat hang out sembari melepas kerinduan akan masa SMA dulu. 

Suasana Desa Semilir tak seperti di kota. Menjelang maghrib sudah mulai  sepi. Sebelum berangkat menuju lokasi, aku coba menelpon Galuh. Dia bilang akan menungguku untuk pergi bersama malam itu. Nihil. Nomor yang kuhubungi berada di luar area. Meski berkali mencoba tetap saja sama. Budhe menawarkan untuk mengantarku naik sepeda motor tapi aku menolak. Siapa tahu Galuh sudah menunggu di tempat biasa dulu, pangkalan ojek yang terletak di pinggir jalan desa, menuju sekolah. Biasanya Galuh memainkan gitar pengamen, sembari menungguku tiba. Meski lagu yang dinyanyikan belum selesai, ia tetap memberikan separoh uang sakunya untuk si pengamen yang disambut dengan senyum bahagia. Sambil menyusuri jalanan kecil aku tersenyum teringat semua kenangan tentang Galuh. Dia sosok baik, lembut, dan penuh perhatian. Hingga tiba-tiba ....

"Kamu cantik, Lin." Aku terkejut menyadari seseorang memperhatikanku sedari tadi. Galuh.

"Galuh! Mengejutkan saja." 

Dia tersenyum tipis seperti dulu. Berbasa-basi menanyakan kabar dan kuliahku. Aku bahagia melihat binar matanya. Entah apa yang sedang aku pikirkan, dia benar-benar tampak berbeda malam ini. Lebih bersahaja meski lebih banyak diam. Ia membiarkan aku berceloteh tentang kisah selepas perpisahan dulu hingga sekarang.

"Lin, aku pergi dulu. Nanti nyusul."

Tiba-tiba Galuh pamit, padahal tinggal beberapa meter lagi sampai di warung Kang Udin. 

"Loh! Kamu mau kemana, Luh?"

"Lin, pergilah! Aku janji akan menyusul nanti."

Aku tak sanggup menghindari tatapan matanya. Dia masih sosok yang sama, tak pernah berubah. Hatiku justru berdebar kala itu. Aku takut jatuh cinta padanya. 

Baiklah. Akhirnya aku pergi sendiri, tanpa bisa meminta alasan apa pun. Di warung Kang Udin rupanya sudah ramai siswa IPA 1. Kudapatkan sambutan hangat dari sosok-sosok sahabat yang kini hampir berubah dalam berpenampilan. Tampak lebih dewasa. Jujur aku bahagia setelah sekian lama tak bersua. 

"Alin, kamu cantik banget." Sapa Nisa. Tak lupa peluk hangat satu persatu dari yang lain. 

"Eeh, tak bisa! Bukan muhrim." Cegah Dila saat Fahrul bersiap memelukku juga, disambut cibiran dari para lelaki. 

"Ngarep aja nih, bocah." Kami pun tertawa lepas. Sambil memesan makanan kami saling bertukar cerita selepas dari perpisahan dulu. 

Aku celingukan mencari dimana Galuh. Mengapa dia belum datang juga.  

"Kenapa, Lin?" Aku menggeleng saja. Malu ingin menanyakan tentang Galuh sama mereka. 

Karena acara hampir selesai dan Galuh belum muncul, akhirnya aku beranikan diri bertanya. 

"Kok Galuh belum datang, ya? Padahal tadi bilangnya mau nyusul secepatnya."

Teman-teman serempak saling pandang. Mereka menatap ke arahku hingga aku merasa risih. 

"Lin, kamu nggak salah?"

"Tadi dia bareng sama aku, kok. Mendadak pamit dan bilang nanti menyusul." 

Tatapan mereka semakin tidak aku mengerti. 

Nisa memegang pundakku, "Lin, yang sabar, ya! Galuh kecelakaan dua minggu lalu saat perjalanan pulang. Kepalanya terbentur trotoar dan meninggal karena kehabisan darah." 

"Tidak mungkin!" aku menggelengkan kepala berkali-kali. Bagaimana mungkin? Dia barusan bersamaku. 

Setibanya di rumah budhe malam itu, aku melihat bayangan Galuh dimana-mana. Bahkan saat menjelang tidur, seolah ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku tetap terjaga hingga tengah malam, teringat janji Galuh akan selalu menungguku apa pun yang terjadi. 

Suara jam dinding berdetak, seolah mengejek ketakutanku. Desir angin menciptakan gemerisik pohon bambu di samping rumah, tepat di sebelah kamarku. Sejauh ini aku belum bisa menepis wajah Galuh dari otak. Belum lagi, di saat bersamaan ..., bayangan Galuh tiba-tiba menerobos masuk, berdiri tegak menatap ke arahku. Detak jantungku berdebar lebih kencang. Tatapku tak sedikit pun mampu beralih darinya. 

"Jangan ganggu aku, Galuh! Pergi!"

Dia bergeming cukup lama, sementara aku tak bisa bergerak sedikit pun dari ranjang. Kilatan sorot matanya membuatku terpaku. Justru semakin berteriak, dia semakin mendekat ke bibir ranjang. 

"Alin, kamu kenapa?" suara budhe membuatku terbebas dari cengkeraman Galuh. Aku berlari memeluk tubuh wanita berkerudung coklat itu dengan napas tersengal. Malam itu aku tidur ditemani budhe. Kubiarkan handphone berdering berkali-kali, karena yang tampak pada layar adalah poto Galuh. 

#ceritahoror